Sabtu, 20 Desember 2025

Tidak Disukai

Bagaimana rasanya tidak disukai oleh sangat banyak orang?

Literally, SANGAT BANYAK (capslock jebol)..

Mungkin ada sebagian yang merasa : "Ah, gue melakukan hal yang benar, maka wajar kalau gue sendirian di jalan kebenaran sebagaimana nabi-nabi dan orang shalih terdahulu."

Ada juga yang merasa : "Ah, 'kelas' gue bukan di sini. Maka wajar orang-orang ga ngerti dengan style dan selera gue."

Atau memang simply ga ada yang merasa bahwa : "Mungkin gue yang salah. Gue harus evaluasi diri."

=======================================

Prinsip gue jelas :

Kalau 1-2 orang ga suka lu, ya itu wajar. Tapi kalau hampir seluruh orang ga suka lu, nah itu lu harusnya mikir ga sih?

Kalau lu tetap merasa 'si-paling-benar' sehingga ga disukai oleh orang-orang salah, ga pernah kah lu kepikiran untuk cari circle baru? Masa iya lu betah berada di circle yg isinya orang salah semua?

Kalau ada seorang atasan yang rekan satu tim-nya tingkat turnover-nya tinggi, apakah pasti timnya yg salah dan ga bisa achieve target? Atau..

(Silakan dipikir karena Allah sudah menganugerahkan otak untuk berpikir)

Rabu, 01 Oktober 2025

Akhirnya Paham

Aslinya gue tu suka kasian sama orang-orang yang jadi public enemy. Ga sekali-dua kali gue berusaha mencoba komunikasi atau berteman dengan orang-orang begitu, baik itu karena kasian atau karena penasaran.

Kadang ada yang sebenernya orangnya baik, tapi selera jokes-nya ga sama dengan lingkungannya, atau jarang ikut nongkrong karena ada kendala ekonomi, atau lainnya.

Tapi seringnya, berteman dengan public enemy membawa gue ke sebuah kesimpulan:

"Ooooh.. pantes dia jadi public enemy"

Kadang isi pikirannya memang kurang satu sendok 😅.

Rabu, 27 November 2024

Andal

Sebenarnya saya hanya mengerjakan hal standar : standar minimal kompetensi, standar minimal ketelitian, dan standar minimal kerapihan.

Tapi sepertinya itu sudah dirasa sebagai extra miles. Sehinggan tidak sekali-dua-kali, saya jadi yang diandalkan.

Seringkali, saya merasa tidak sejago itu..

Tapi orang-orang tetap mengandalkan.

Atau mungkin, orang lain yang standar hasil pekerjaannya sesampah itu?

Jumat, 21 Juni 2024

Juni

Ulang tahun saya akhir Juni.

Meanwhile untuk saya, sejak tanggal 1 aja bawaannya udah "yes aku dikit lagi ulang tahun Insya Allah".

Sejak awal saya kenal kata 'resolusi tahun baru' dari majalah remaja, resolusi saya bukan untuk tahun baru. Saya jadikan resolusi itu untuk usia baru. Momen evaluasi dan bersyukurnya jadi banyak, mulai dari akademis (karena pas-pasan dengan momen kenaikan kelas) hingga apa aja sih yg saya achieve di usia tsb.

Sejujurnya umur 30 menuju 31 ini krik-krik banget. Ga ada hal signifikan yang oke yang berhasil dilakukan. (Setahun tanpa laundry, serta Ramadhan tanpa gofood dan tanpa kelewat bangun sahur itu prestasi ga sih? 🤣)

(Kalo kata Pak RW sih, salah satu reg binaan audit yg 'itu' bisa masuk Fatwa adl prestasi 🤣)

Bisa dibilang ini adalah tahun paling tenang dan ga ngoyo. Ga ada tikungan2 tajam dalam hidup yang bikin harus banyak-banyak istighfar dan atur ulang strategi.

Saya meyakini, ada masanya bahwa hal paling produktif yang perlu kita lakukan adalah istirahat. Bisa jadi istirahat saya ini produktif untuk mengumpulkan energi plus recovery karena besok-besok akan ada reli yang panjang.

(Meski sebenernya tahun depan gamau banyak2 menghadeh Yaa Allah)

Tahun ini saya tidur cukup, makan cukup, piknik cukup. Mungkin cuma bersyukurnya yang belum cukup.

Tahun ini saya sudah berencana cuti kerja di hari ulang tahun. Ini artinya sudah 10x ulang tahun saya ga kerja. (Mulai dari ada weekend, libur musim panas, idul fitri, pilkada serentak, launching Cerol ver.3 sampai sekantor ga kerja, idul adha.. komplit pokoknya 10 tahun saya off duty saat ulang tahun)

Tahun-tahun sebelumnya apalagi 🤣

Ulang tahun saya biasanya udah class meeting/bagi rapor/liburan semester.

Mari kita tetapkan momen ulang tahun untuk tidak bekerja 😂


Salah satu hal paling menghadeh di usia saya setahun ke belakang ini sebenarnya adalah manuver Black Panther yang semakin ke sini semakin ke sana.

Doa-doa saya untuk keluarga saya jadi nambah,

"Ya Allah, tolong berikan kami rasa cukup atas rezeki yang halal, sehingga kami tidak mencari-cari dari yang tidak halal."

Aamiin dulu rame-rameeeeeee.


Diketik di Bogor, 1 Juni 2024

#dilslife


Keyword :

Black Panther = presiden Wakanda

Jumat, 23 Juni 2023

Kisah Kami Menabung Haji

Bulan Dzulhijjah identik dengan banyak kisah mengenai qurban dan haji. Bersama ini, kami (saya dan Ari) bermaksud menceritakan kisah menabung kami untuk mendapatkan porsi haji.

Sekilas info : Porsi antre haji bisa didapatkan setelah menyetor uang sejumlah 25 juta. Jika kami ingin berhaji berdua, maka kami perlu 50 juta untuk mengamankan porsi antre haji (meski antre-nya sendiri masih puluhan tahun).

Awal mulanya, di Ramadhan 2019, ada pengajian kemuslimahan di kantor saya dengan narsum Ibu Euis Sufi Jatiningsih.

Beliau menyampaikan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Dan menyampaikan bahwa muslim yang mau masuk surga itu kayak orang Indonesia yang mau naik haji.

Apa persamaannya? Yaitu belum memulai usaha apa-apa.

Beramal secukupnya, bertaubat juga jarang, menabung juga banyak alesan. Memang sih Allah itu mendengar doa, tapi Allah juga melihat upaya kita untuk mengamalkan sesuatu.

Apakah saya merasa tertampar? YAIYA DOOOOONG

Saat itu saya belom nikah. Dan saya tau banget Ari itu bukan yang anak-nabung gitu.

Akhirnya ketika Idul Adha di tahun yang sama, saya ngide nabung bareng untuk haji/qurban. Tentu ada penolakan dan argumen panjang. Wkwkkwkw (hidup kami penuh debat kisruh sejak jauh sebelum menikah).

Setelah banyak-banyak brainstorming dan penawaran sana-sini, lalu kami bertekad setidak-tidaknya setelah berkeluarga itu kami harus berqurban setiap tahun sebanyak :

=roundup(0.5 * N)

N = jumlah anggota keluarga

Saat itu disepakatilah seorang menabung 150 ribu per bulan untuk qurban. Tabungan qurban tersebut disimpan di saya. Khawatir berubah jadi akeseoris hape kalo disimpan di Ari. #iniserius

Beberapa bulan kemudian, kami menikah di akhir November 2019. Ketika honeymoon, kami membuat rencana upgrade tabungan haji karena masa karyawan kontrak saya selama setahun hampir selesai dan saya sudah mulai bisa dinas-dinas luar kota. Dengan banyak-banyak optimis, kami yakin saya akan jadi karyawan tetap dan gajinya akan naik.

Tentu juga dengan berdoa untuk dilimpahi rezeki yang berlebih, sehingga ringan untuk beribadah dan berbagi

Akhirnya kami upgrade alokasi tabungan per bulan. Yang awalnya 150 ribu per orang per bulan, menjadi digabung (karena sudah menikah) sejumlah sejuta per bulan.

Tak lama saya hamil Aqila. Tabungan harus mulai dialokasikan juga untuk kontrol hamil, melahirkan, dan aqiqah.

Dan benar saja. Alhamdulillah saya mulai dapat dinas luar kota, jadi karyawan tetap, dan gaji pokok meningkat. Lalu juga ada restrukturisasi pada lembaga tempat saya bekerja sehingga gaji baru itu rasanya naiknya kok banyak banget 😭. Masya Allah.

Lalu Ari juga tiba-tiba jadi banyak banget kerjaannya. Sebelumnya lembur hanya 1x per bulan, di awal 2020 bisa jadi 2-3x per bulan. Hal ini berimplikasi pada honor lembur yang meningkat.

Tak lama, muncul pandemi. Kantor saya full WFH (boleh ngantor tapi harus dengan izin atasan) dan kantor Ari menerapkan kerja secara hybrid. Ongkos PP Ari Jaksel-Bogor otomatis dapat dihemat.

Setiap ada lebihan-lebihan itu kami sisihkan. Kami yakin ini adalah salah satu jalan Allah agar target tabungan haji kami cepat terpenuhi.

Biaya kontrol kehamilan hingga lahiran, blass semua tercover oleh asuransi kantor Ari. Yang padahal asuransi karyawan itu merupakan benefit baru di kantornya.

Meanwhile biaya vaksin-vaksin Aqila setelah lahir tercover seluruhnya dengan fasilitas kesehatan kantor saya. Yang juga benefit ini super-duper baru banget adanya.

Akhirnya setelah dikeluarkan untuk aqiqah dan qurban di 2020, pada pembukuan tabungan haji 2020 terkumpul sebanyak 14 juta. Jujur ini jauuuuuh di atas prediksi saya. Saya awalnya merasa bisa nabung 10 juta per tahun itu udah akan jadi prestasi besar (10 juta per tahun dengan rincian : menabung sejuta per bulan, lalu lebihan2/lembur/bonus ditambahkan utk menggenapkan biaya qurban).

Awal menabung haji ini saya sudah berkata ke diri sendiri bahwa, "Nabung 5 tahun ga apa-apa ya. Setahun minimal 10 juta. Allah melihat upaya kok, bukan semata-mata hasil."

Tapi ternyata Allah mampukan menjadi 14 juta dalam tahun pertama.

Tahun 2021 target menabung kami meningkat. Dari awalnya sejuta per bulan, kami tingkatkan menjadi 1.5 juta per bulan. Hal ini karena kami bertekad harus qurban minimal 2 domba. Target minimal di akhir tahun adalah terkumpul sebanyak di tahun 2020.

But baby blues did exist. Mommy brain. Brainfog tak berkesudahan. Banyak nge-lag. Beberapa target pekerjaan dari atasan tidak sesuai antara persentase penilaian achievement vs jumlah waktu yang dibutuhkan untuk pengerjaan tersebut (contoh : Ada pekerjaan yang waktu pengerjaannya adalah full sepanjang hari, seminggu sekali. Tapi bobotnya kecil sekali dalam persentase penilaian total pekerjaan saya. Waktu aktual terpakai saya adalah 20% dalam tiap pekan, tapi bobot penilaian pekerjaan tersebut tidak sampai 15%. Dan sialnya tiap 1 on 1 dengan atasan, saya lupa terus untuk mengomunikasikan hal tersebut).

Saya tau diri untuk mengurangi jumlah availabilitas hari dinas agar fokus dengan pekerjaan harian.

Target utama setiap hari bagi ibu dengan anak kecil sebenernya sederhana : semua masih hidup, anak sudah makan-mandi tepat waktu, dan tidak ada yang terluka

Tapi siapa yang memperhatikan kebutuhan ibu : Apakah ibu sudah makan dengan proper? Sudah istirahat dengan proper?

Kadang dalam hidup ada aja so-called support system yang padahal mah ga ada support-support-nya pisan.

Note besar-besar : Ari sangat men-support gue.

Ajaibnya, rezeki itu selalu tau di mana pemiliknya. Mengajukan sedikit tanggal available untuk penugasan di kantor, eh malah dapat banyak penugasan dari sepupu-kantor. Dan tugas dari sepupu-kantor ini ga banyak PR-nya, selesai di hari yang sama, sehingga ga mengambil banyak waktu (tapi tetep dapat honor).

Perhitungan menabung dengan target minimalis kami menjadi terpenuhi dengan lancar.

Ditambah berbagai uang kaget yang beneran bikin kaget pas lihat mutasi rekening, pada akhirnya di 2021 terkumpul juga sebanyak 14 juta. Sehingga total terkumpul 28 juta. Sudah lebih dari setengah target.

Lalu 2022 kami berencana tetap dengan style menabung yang sama. Yang ternyata tidak mudah karena kami mulai tinggal terpisah dengan orang tua. Kami punya 'soft loan' saat membangun rumah yang harus bertahap dilunasi ke orang tua. Di samping itu juga ada kebutuhan-kebutuhan bulanan yang sebelumnya kami sharing dengan orang tua dan kini jadi sendiri.

Ditambah pula kantor saya mulai menerapkan harus WFO setidak-tidaknya sekali dalam sepekan (sebelumnya bisa full WFH sejak pandemi 2020). Banyak boncos di beli makan, wkwkwkwkwk, karena saya tu ga passionate untuk memasak apalagi diburu-buru sebelum berangkat kerja harus masak banyak untuk sampai makan siang. Dahlah, mending beli di luar aja (tapi saya passionate kok kalau nyuci, jadi jarang nge-laundry 😁).

Banyak sekaliiii godaan jajan di 2022 ini. Apalagi kami mulai tinggal terpisah oleh orang tua. Makanan-makanan yang jarang sekali dibelikan orang tua ketika kecil (karena berbagai alasan, mulai dari gizi hingga value for moneyof course bisa kami borong karena ga akan dimarahi orang tua (due to udah ga serumah dan ga ketahuan). Ditambah ternyata preferensi makanan saya dan Ari agak berbeda, jadi kadang kalau saya capek masak ya sebagian makanan mending beli jadi.

Selain godaan jajan, ada juga kenekatan kami yaitu Ari jobless selama beberapa waktu karena ingin mencari pekerjaan yang bisa dilakukan secara remote. Sudah lelah Bund, PP Jaksel-Bogor 5 tahun. Meski resign ini dilakukan dengan perhitungan, ya tetap ada banget dong ketar-ketirnya.

Tapi lagi-lagi, rezeki selalu tau di mana pemiliknya.

Meski saya menyampaikan availabilitas dinas dengan jumlah yang minimalis karena punya tambahan tanggung jawab untuk mengurus rumah, tapi ujung-ujungnya ada juga kejutan-kejutan kerjaan di beberapa bulan terakhir di 2022 meski ada misuh-misuhnya (ofkors!!) dan pulang jam 9 malam. Yang pada akhirnya bisa banget untuk nambah-nambahin tabungan haji kami.

Lalu di akhir 2022, ibu dan adik saya umrah. Karena selisih usia saya dan adik hanya 2 tahun, dari kecil kami hampir selalu mendapatkan fasilitas yang sama. Di saat persiapan umrah itu, Ibu merasa bersalah karena ga bisa mengajak saya ikut serta (ya kalau saya berangkat, gimana Ari dan Aqila kan?).

Untuk mengompensasi hal tersebut, lalu saya dapat uang kaget sejumlah sekian dari Ibu. Lengkap dengan pesan, "Buat nambahin tabungan haji. Ayo masih kurang berapa lagi? Mau minjem uang Ibu dulu? Biar bisa setoran dulu untuk dapet nomor antre. Antre-nya masih panjang. Kalau bisa haji saat muda pasti lebih enak daripada haji pas sudah tua."

Masya Allah 😭.

Momen paling kaget dalam rangkaian menabung haji itu pas dapat kejutan beberapa kali di paruh kedua 2022 termasuk the real uang kaget dari Ibu.

Di tahun-tahun sebelumnya, kami 'tutup buku' tabungan haji ga tepat di akhir tahun, seringnya di awal tahun depannya. Kadang menunggu bonus tahunan saya atau lihat saldo tabungan total kami apakah ada yang bisa dialokasikan untuk menggenapkan tabungan haji.

Dengan uang kaget dari Ibu maka lengkap sudah tabungan kami 50 juta. Ini terkumpul sebelum akhir tahun 2022.

Tapi sayangnya kami baru berhasil mendaftar haji di 2 Januari 2023. Ceritanya panjang lah pokoknya. Wah ini kalau mau diceritain ke-amsyong-an Depag Bogor bisa jadi satu cerita sendiri lagi soalnya.

Dan pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh teman-teman kami adalah :

Nabungnya di bank mana?

Jawabannya adalah : Kami nabung di kaleng kukis hampers lebaran. Tiap akhir tahun kami pindahkan ke goodie bag souvenir nikahan salah satu teman kami.

Besar harapan kami, teman kami tersebut ikut mendapat sebagian pahala menabung dan berhaji kami kelak.

Kegalauan kami memilih bank ga menyurutkan kami untuk tetap menabung. Ketika terkumpul, barulah kami buka akun bank Muamalat, lalu setor 25 juta++ (karena akan ada saldo mengendap) per orang, dan saat itu pula langsung disetorkan kembali oleh bank ke rekening haji.

Mungkin kisah menabung kami tidak terlalu heroik. Ga ada cerita jalan kaki berkilo-kilometer untuk menghemat ongkos. Ga ada kisah makan nasi-kecap-garam atau puasa berhari-hari untuk menghemat uang makan. Juga ga ada cerita jual aset untuk menambah jumlah tabungan. Malah ada kisah dapat uang kaget sebagai kompensasi tidak ikut umrah.

Kami paham sekali bahwa mungkin ujian teman-teman kami lebih beragam dan lebih berat. Ini pun sebenernya ada berat-beratnya, banyak momen misuh, kerja sampai lewat jam kerja, istirahat belum cukup tapi kok udah pagi lagi, pergi tugas ke sana-sini, dll. Tapi saya tuh kalau nulis memang hawanya pasti jadi setengah lawak 😒.

Semoga ada hikmah yang bisa diambil oleh teman-teman yang membaca ini. Bahwa memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin.


=======================================


Btw cerita ini ada epilognya gais :

Dari duluuuuu, sering banget dengar kata-kata yang intinya menyampaikan bahwa :

"Berniaga dengan Allah itu ga bakal rugi"

Atau

"Allah adalah tuan rumah paling murah hati"

Atau

"Kalau berkunjung ke rumah-Nya maka akan dijamu dan digantikan berkali lipat"

And so on.


Masih di Januari 2023, belum genap sebulan dari kami menyetor tabungan untuk mendapatkan porsi haji. Tiba-tiba ada kisah 'uang kaget' lainnya. Kali ini super kaget. Sejauh ini, ini yang paling jauh.

#yangtautauaja #ifyouknowyouknow

Menurut beberapa penutur yang tidak mungkin saya publikasikan namanya, ada yang sampai cuma bisa mijet-mijet kepala dan nge-lag agak lama. Saking kagetnya.

Bagi saya dan Ari, ini rasanya kayak Allah kembalikan sebagian dari apa-apa yang sudah kami upayakan. Serasa di-pukpuk sambil dibilangin bahwa, "Aku hanya ingin lihat kesungguhan hamba-Ku berusaha kok. Bukan hal yang sulit mengembalikan sejumlah itu dalam sekejap."

Siapa yang ga cireumbay digituin. Cireumbay sabari nge-lag tea karena masih kaget padahal mah.


Sekian.

Semangat nabung (apapun demi kebaikan) ya teman-teman!!

:)

Kamis, 05 Januari 2023

Parenting

Semakin belajar parenting, semakin sadar bahwa kengawuran-kengawuran yang gue 'pelihara' saat ini adalah bentuk dari luka-luka dan ketidakkonsistenan pengasuhan orang tua gue dulu.

Sehingga jadi bisa dipahami kenapa training-training self awareness dimulai dengan memaafkan orang tua.

Manusia-manusia yang jadi beban di masyarakat seringkali berawal dari anak-anak yang tidak terpenuhi hak-haknya ketika kecil. Ada tahapan pengasuhan yang tidak tepat atau terlewat dan berakibat ada hal yg 'ga beres' di dirinya.

Bisa jadi disimpulkan bahwa sebenarnya 'anak durhaka' ga berdiri sendiri. Ada aktivitas pendahulunya sebelum muncul anak durhaka, yaitu 'orang tua durhaka' yang ga memenuhi hak-hak anak dengan baik.

Jangan lupa minta maaf kepada anak kita hari ini.

Sabtu, 03 Desember 2022

Cara pikir orang yang belum punya anak, tentu akan berbeda dengan cara pikir orang yang sudah punya anak, apalagi kalau anaknya banyak. Apalagi kalau malah ternyata orang tersebut belum menikah. Pasti ga nyambung.

Cara pikir orang yang ga pernah hidup kesulitan dari segi harta, tentu akan beda dengan cara pikir orang-orang yang kesulitan harta sejauh mereka bisa mengingat asal-usul nenek moyangnya. Pasti ga nyambung.

Jika kita berperan sebagai pengambil keputusan yang memengaruhi hajat hidup orang banyak -mulai dari HRD sampai DPRD- hendaknya kita ingat-ingat untuk mencoba menempatkan kaki kita di 'sepatu' orang-orang yang kita wakilkan pembuatan keputusannya.

Cerita dari salah seorang teman baik, terdapat manajer HRD di kantornya sudah terkenal sering 'menyepelekan' udzur/perizinan seseorang yang berkaitan dengan izin dari suami atau sulitnya pengasuhan anak.

Manajer tersebut jangankan punya anak, menikahpun belum.

Hingga suatu hari,

Terdengar cerita bahwa seseorang yang tengah meminta keringanan -tapi ditolak- mendoakan manajer tersebut,

"Semoga dirimu ga perlu merasakan sulitnya izin suami dan susah-payahnya pengasuhan anak"

Sungguh, dalam hatinya seseorang yang dimaksud bukan mendoakan agar manajer tersebut punya suami yang mudah izinnya serta anak yang sesuai tumbuh-kembangnya.

Seandainya sang manajer ingat, bahwa orang yang terdzolimi itu tidak ada sekat antara dirinya dan penciptanya.

Rabu, 26 Januari 2022

Akhlak Terbaik

Di usia mendekati kepala 3, banyak teman-teman gue yang membagikan momen mengenai ayah atau ibunya yang last day di kantor masing-masing, alias akan pensiun. Umumnya akan ada sesi di mana teman-teman kantor menyampaikan bagaimana kesan selama ini berinteraksi dengan yang bersangkutan.

Ayah/ibu terkenal baik hati dan murah senyum. Padahal di rumah, anak-anaknya langganan kena bentakan.

Ayah/ibu disukai oleh atasan. Padahal di rumah, anak-anak tidak suka dengan orang tuanya sendiri.

Ayah/ibu terkenal pekerja keras. Padahal begitu sampai rumah sudah capek. Mengungkit-ungkit sudah kerja seharian. Boro-boro bisa bermain dengan anak atau menemani anak belajar.

Ayah/ibu adalah teman yang baik dan atasan yang pengertian. Padahal di rumah, tidak ada hari tanpa teriakan dan omelan. Pasti adaaaaa saja yang dianggap salah.

Ayah/ibu mampu membuat keputusan-keputusan strategis untuk kantornya. Padahal di rumah, pasangan dan anak malas berpendapat karena ayah/ibu mau menang sendiri serta menganggap keputusannya yang paling benar. "Alah, anak kecil tau apa" ujarnya.

Teman-teman ayah/ibu senang tiap ada tugas berdinas bersama. Wah, ini sih cocok. Keluarga di rumah juga senang tiap ayah/ibu berdinas karena jadi ga ada yang suka ngomel-ngomel di rumah.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Rasulullah bersabda,

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan Akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku."


Akhlak terbaik kita, bukankah seharusnya untuk keluarga?

Sebuah tulisan untuk mengingat tanggal Januari 2022.

Minggu, 07 November 2021

Testimoni

 Dear all..

Jarang-jarang ya gue bikin post kayak gini. Tapi gue rasa untuk case ini sudah kelewat batas sehingga gue merasa perlu menuliskan ini daripada spaneng yekan. Ini adalah testimoni gue dan Ari setelah bekerja sama dengan salah satu developer untuk membangun rumah.

Disclaimer : Kami sudah bayar sesuai ketentuan. Sehingga ini adalah testimoni kami untuk hasil kerjanya (ya kayak orang-orang yg review produk aja lah.. cuma kali ini produknya adalah jasa).

(Insya Allah abis ini akan ada testimoni untuk arsiteknya karena bageur pisan mau bantuin kami ngejar-ngejar si developernya)

Singkat cerita, gue dan suami membangun rumah dengan jasa arsitek dan developer (2 entitas berbeda, tapi developernya adalah kenalan dari arsiteknya). Kontrak di atas materai bersama developer tertulis pengerjaan selama 4 bulan, tapi at the end pembangunannya ngaret for almost 4 other months.

This is not about money. Prinsip gue dan Ari, uang bisa dicari tapi trust ga bisa dibalikin dan waktu ga bisa berputar mundur.

Lalu kalau nanti kalian ada yang berhadaptan dengan bunyi perjanjian yang bilang untuk penyelesaian masalah secara kekeluargaan. Better said "No!!". Business is business. Yah namanya juga kami newlywed couple, belom paham bahwa bisa-bisanya ada orang yang heseyemeleh kebangetan macem begitu. In several ocasions gue sempet ngomong ke developernya ketika dia mau menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan, something like "duh di keluarga saya ga ada yg suka ingkar janji dan tukang tipu sih jadi ga kebayang penyelesaian kekeluargaannya kayak apa".

Tanda tangan kontrak per akhir Februari 2021, tapi si direktur developernya verbally said bahwa ini perhitungannya per material pertama kali tiba di lokasi. Upaya bersih-bersih lahan ga termasuk dari definisi pengerjaan. Material tiba di lokasi per akhir Maret 2021. Tapi hingga saat ini (awal November 2021) rumah gue belum kunjung jadi. Alesan dari developernya? Banyaaaaaaaakk..

Banyak penyebabnya, tapi kami (gue, Ari dan bapak arsitek baik hati) rasa sih karena si direkturnya ampas. Se-ampas apa?

  • Kerjanya ga dipikir
  • Ga bisa me-manage tim dan waktu dengan baik
  • Tidak mendengar keluhan/rekues customer dan tidak merespon kedua hal tersebut dengan baik
  • Punya kesibukan lain di luar sana (jadi rumah gue itu terlihat bukan sebagai aktivitas yang diprioritaskan, padahal gue kalau urusan duit mah nyetor mulu da sesuai kesepakatan, malu keles ngutang-ngutang)
  • Serta kalau ngomong itu asbun, yang dijawab hampir selalu ga nyambung sama yang ditanya (jadi baru mau nanya konfirmasi aja udah keburu kesel, wkwkwkwk).

To be fair : material yang dipilih itu oke punya dan ga tipikal ngoplos-ngoplos gitu.

Tapi ya kebayang kan.. Meski materialnya oke tapi kalau eksekusinya ampas ya ampas aja.

Arsiteknya sampai merasa bersalah ke gue karena ternyata developer kenalannya kok ya seampas itu..

-------------------------------------------

Sependek yang gue tau, developer ini sedang ada project bikin perumahan di Ciherang (Kab. Bogor), Tangerang Selatan, dan Bandung.

In case you find out that rumah yang lu incer adalah dari developer yang gue maksud, better find another place. (Or maybe your future business partner, siapa tau mau bangun apa gitu kan.. Better find another partner). Or maybe orang-orangnya udah tobat bekerja secara ngasal? wkwkwk, (who knows..) titip sampaikan aja dia masih punya hutang berupa kerugian non-material dengan gue.


Spill nama developernya?

Of course.

PT Bumi Sangkuriang Siliwangi


Hint :

Direkturnya bentukannya kayak orang soleh rajin solat karena di jidatnya ada tanda bekas sujud (INGAT!! Rajin solat ga menjamin seseorang itu soleh dan berakhlak baik yes) jadi bukan ga mungkin lu akan merasa everything will be okay (ya kayak gue pas awalnya aja). Padahal aslinya mah hesyemeleh.

Kalau versi pengalaman gue dan Ari selama otw 8 bulan ini, direkturnya bahkan sudah mengantongi 3 ciri munafik yang ada di hadist rasul (berkata bohong, berjanji tapi ingkar, jika dipercaya dia berkhianat) hanya dalam waktu 3-4 bulan.

Spill nama direkturnya? In case dia punya bisnis lain.

Oh tentu saja..

Tapi gue perlu disclaimer (lagi)..

Terakhir kali gue googling sih ada artikel tentang si direktur ini, gelarnya adalah pengamat budaya Banten. Ya mungkin memang aktivitasnya sebagai pengamat budaya lebih capable dan layak 'dipajang', who knows (and who cares?!), yang jelas kemampuannya sebagai developer sih ga sebagus isi di artikel tersebut.

Nama direkturnya adalah :

TB Saptani Suria

or in longer and more complete academic degree way, Tubagus Saptani Suria, SE., ME.


Saat post ini diturunkan, masih rame berita VA yang meninggal bersama suaminya karena kecelakaan di jalan tol Jombang. Nama supirnya yang dijadikan tersangka juga ada Tubagus-nya. Ada apa ini dengan nama Tubagus?

-_________-"

Dahmudahan Tubagus-Tubagus lain sisanya di dunia pada bener deh ya..


Mau tau detail ke-zonk-an rumah yang gue bikin pakai developer tersebut? Atau keampasan direkturnya? Please put your email in the comment below or ask me through dm ig @dilahoy

Semoga kalau ada pembaca yang mau bangun rumah, prosesnya dilancarkan serta dijauhkan dari kekampretan-kekampretan duniawi seperti developer yang ga ikutan antre otak pas masih di alam ruh atau tukang-tukang yang nilep/ga bisaeun ngitung kebutuhan material (ini pengalaman temen gue soalnya). Aamiin.

Thank you :)

Minggu, 23 Mei 2021

Pre-Marriage Journey [Part 2 = Prerequisite]

Prerequisite : Prasyarat; Syarat yang harus dipenuhi ketika mau melakukan sesuatu.

Ada satu pertanyaan yang gue jadikan prerequisite sebelum menikah, Yakni:

"Aku boleh tetap kerja ga setelah nikah dan punya anak? Dan apa pendapat kamu tentang perempuan yang kerja setelah nikah dan punya anak?"

Ketika sebelum diskusi, yang ada di pikiran gue cuma satu :

"Kalau gue ga boleh kerja abis nikah, bhay. Gue cari yang lain."

Studi kasus 1 :

Ada kenalan gue. Keluarga dengan 3 anak. Suami bekerja. Istri sebagai ibu rumah tangga. Lalu suami meninggal, dan istri belum pernah bekerja sebelumnya. Akhirnya istri dan anak-anak pulang ke rumah orang tua istri, keluarga suami tidak membiayai apa-apa (ingat, dalam Islam, anak yatim itu jadi tanggungan keluarga bapak lho), istri dan anak-anak dihidupi oleh orang tua istri. Seluruh anak masih sekolah, dan istrinya have no idea gimana cara cari uang untuk hidup karena belum pernah bekerja sebelumnya.


Studi kasus 2 :

Ari adalah anak tunggal. Bapak meninggal ketika Ari SMA. Ibu Ari adalah PNS. Setelah Bapak meninggal, Ibu tetap dapat menghidupi Ari dan dirinya sendiri hingga Ari bisa lulus kuliah.


Poin diskusi :

Tiap mengenang topik bahasan ini, gue selalu percaya bahwa pemahaman itu dapat berubah, asal orang yang bersangkutan memiliki sikap yang open minded.

Percaya ga percaya, dulu bangeeeet tadinya Ari ga mau punya istri yang kerja di luar rumah. Lucu ya, padahal dia dibesarkan oleh ibu yang jadi single parent dan mungkin dia saat itu belum kepikiran bahwa hal tersebut bisa terjadi kepada siapa aja dan kapan saja. Makanya suka gue ledekin kalau minta traktir, ("Katanya istri ga boleh kerja, tapi diminta traktir..").

Tadinya, gue juga sengotot itu HARUS dibolehkan kerja. Tapi setelah menggali lebih dalam berdua, kenapa gue merasa harus banget dibolehkan kerja, adalah karena gue ga dibiasakan meminta apa-apa sejak kecil. Gue merasa harus berdaya dan mandiri, termasuk secara ekonomi. Apalagi gaji gue sebelum nikah itu nyaris 2x UMR Kota Bogor, sultan banget lah pokoknya, dan ga mau aja abis nikah cuma minta uang doang ke suami ketika ga boleh kerja.

Tapi setelah diskusi panjang berhari-hari (ini serius, sampai berhari-hari), terdapat beberapa poin yang akhirnya disepakati :

  • Nafkah keluarga adalah kewajiban suami, terutama untuk kebutuhan primer dan sekunder (ingat, kulineran cantik bukan kebutuhan sekunder, apalagi primer)
  • Khadijah binti Khuwailid adalah wanita terhormat dan pedagang sukses di Mekkah. Hartanya habis tak bersisa untuk mendukung Rasulullah dan memperjuangkan Islam di awal-awal masa kenabian.
  • Istri-istri dan puteri-puteri Rasulullah juga banyak diriwayatkan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya serta untuk bersedekah dan membantu yang membutuhkan
  • Gue (ketika nanti jadi istri) tetap boleh kerja untuk aktualisasi diri; dan juga Ari kenal gue banget, Ari tau gue bisa spaneng kalau monoton mengerjakan kegiatan domestik setiap hari
  • Karena mencari nafkah bukan kewajiban gue, maka apapun kerjaan gue nanti jangan yang sampai sore banget baru selesai/pulang ke rumah, serta waktu dan tenaga udah habis dipakai untuk bekerja
  • Mendidik anak dan melayani suami tetap merupakan kewajiban istri (mendidik anak tugas berdua sih, nanti dibahas di poin tentang anak dan pendidikan anak ya)
  • Cari pekerjaan/aktivitas yang bikin surga rasanya lebih dekat
  • Ga boleh kerja di tempat yang malah nambah-nambahin dosa
  • Menghasilkan uang bukan cuma dengan cara kerja kantoran. Maka dari itu bagi warga yang suka mantengin story IG/wassap gue dan beberapa kali sering menemukan gue sedang jualan, itu merupakan penerapan dari poin diskusi yang ini.

FYI kantor gue yang lama itu (yang gaji gue hampir 2x UMR itu) toxic banget, udah gitu lokasi kerjanya juga jauh, ilmu kuliah gue ga banyak yang kepake di sana, serta posisi gue terlalu strategis dan terlalu jago segala-gala sehingga dimintain kerja macam-macam, pindah-pindah bidang dan jam kerja gue juga agak gila. Gue sampai di rumah ga jarang cuma numpang tidur, mandi, sarapan. Saking toxicnya, gue bisa 3 hari dalam seminggu ngobrol sama Ari isinya ngemaki-maki suasana kantor doang, ya entah itu orang-orangnya ngaco lah, ya sistemnya ngaco lah, dan sederet keluhan lainnya.

Bagi gue dan Ari, ini masuk dalam katagori "kerja di tempat yang malah nambah-nambahin dosa". NO DEBAT.

Untuk poin kerja di tempat yang malah nambah-nambahin dosa ini ga ada opsi lain selain OUT DARI KANTOR LAMA.

Tiap bahas prerequisite kerja ini gue ga pernah ga terharu sama rencana Allah. Memang ya mungkin kalau sudah sampai waktunya harus menikah, tiba-tiba yang kayak begini gampang aja solusinya.

Di tengah gue galau nyari kerjaan lain, tiba-tiba lamaran yang gue kirim sejak 2017 mulai kelihatan hilalnya (itu kondisinya lamaran udah setaun ga ada kabar). Tiba-tiba lolos ke tahapan seleksi berikutnya. Dan lolos lagi ke tahapan berikutnya. Sampai akhirnya gue diemail bahwa keterima kerja di kantor yang sekarang, bahkan sejak 2 bulan sebelum kontrak kerja di kantor lama gue habis.

Detail waktunya juga bener-bener hanya Allah yang bisa merencanakan. Ga mungkin ini konspirasi manusia.

Tanggal 28 Februari 2019 adalah hari terakhir kontrak kerja di kantor lama. Tanggal 1 Maret 2019 diminta ke kantor baru untuk tanda tangan kontrak kerja.

See?

Kadang kalau udah jalannya buat nikah mah suka ada aja yang kayak gitu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Baru-baru ini, gue menghadiri (via zoom) kajian tentang fiqh wanita yang bekerja (dan Ari ikut nguping). Terdapat beberapa poin yang bisa dijadikan tambahan sudut pandang, di antaranya :

  • Ketika "Tetap bekerja" dijadikan syarat untuk menikah, maka bisa dipastikan ketika ga boleh bekerja maka nikahnya ga jadi, sehingga suami tidak boleh melarang istri bekerja (case gue adalah ini ya btw)
  • Ketika istri bekerja, maka ada waktu yang seharusnya digunakan untuk melayani suami tapi malah dipakai untuk bekerja, sehingga ada hak suami yang harus ditunaikan dari penghasilan kerjaan tersebut (dan Ari langsung minta gofud dong, wkwkwkwkwk)
  • Jika pekerjaan kita butuh keahlian khusus yang tidak mudah dipelajari, maka pekerjaan tersebut menjadi sangat bermanfaat untuk umat (misal dokter spesialis, ilmuwan/peneliti)
  • Jika pekerjaan kita akan memudahkan muslimah-muslimah lain dalam menjaga diri, maka pekerjaan tersebut juga bermanfaat (misal dokter kandungan, bidan, salon muslimah)
  • Jangan bekerja di tempat-tempat/aktivitas yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya (misal riba, prostitusi, menipu/mencuri)
  • Bekerjalah di tempat yang membuat kita tetap dapat berhijab dengan baik
  • Bekerjalah di tempat yang memungkinkan tidak terjadinya khalwat

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Untuk menjawab pertanyaan yang mungkin akan terlintas dalam topik-topik yang akan datang, seperti..

"Kenapa acuannya ujung-ujungnya ke Allah/kisah Rasulullah/para sahabat/fiqh?"

Jawabannya adalah : Karena salah satu tujuan gue dan Ari dalam menikah adalah masuk surga sekeluarga, sehingga kami merasa perlu untuk menyesuaikan langkah-langkah di kehidupan ini dengan guidance dari sang pemilik surga. Juga kami merasa perlu untuk mencari reference dari aktivitas-aktivitas para manusia mulia yang sudah terjamin punya kavling di surga.

Mau sidang skripsi aja penelitiannya butuh reference, ya masa mau masuk surga ga se-effort sidang skripsi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kurang lebihnya seperti itu.

Insya Allah akan disambung di lain waktu :)

Minggu, 04 April 2021

Pre-Marriage Journey [Part 1 : Introduction, Disclaimer, Newbie Tips, Bonus Tips]

Introduction :

Di tengah adanya aturan tak tertulis mengenai usia menikah sebaiknya ketika umur masih kepala 2. Di tengah teman-teman perempuan gue yang mulai worry karena disuruh nikah terus sama keluarga. Di tengah teman-teman laki-laki gue (dan teman-teman Ari, karena basically teman kita ya itu-itu lagi) masih banyak yang clueless tentang menikah..

Gue dan Ari menikah di atas usia 25 tahun. Usia gue saat menikah adalah 26 tahun lebih banyak, sedangkan Ari adalah 27 tahun kurang dikit.

Dengan background kami yang berteman sejak kuliah (pas SMA cuma tau-tauan doang) serta tanpa pacaran uwu-uwu ala remaja, cukup banyak yang bertanya ke gue yang intinya, "Dil, gimana caranya lu bisa yakin sama Ari?".

Dan jawaban gue selalu sama, "Ya dibikin yakin lah". Caranya gimana? Kalau gue adalah menginterogasi (karena topiknya lebih berat daripada sekedar 'wawancara') Ari tentang banyak hal.

Ketika kemodusan Ari bertambah busuk dan terlalu obvious, gue nekat nanya "Ini maksudnya apa?". Ya daripada chatting-nya berdua tapi ngarepnya sendiri kaaaan. Wkwkwkwkw. Long story short, intinya dia berencana ke hubungan yang lebih serius dengan gue.


Disclaimer :

Gue bukan expert di bidang ini. Usia menikah gue dan Ari juga baru setara kuliah 3 semester. Di tulisan ini gue memposisikan diri sebagai teman yang kebetulan-udah-nikah-duluan dan alhamdulillah selama usia pernikahan yang 3 semester ini kami berdua ga pernah mengalami ribut panjang yang berlarut-larut karena perbedaan prinsip yang mendasar (karena hal-hal tersebut sudah disepakati dan disamakan cara pandangnya di tahap interogasi).

Lah emang usia pernikahan yang baru 3 semester bisa berantem hebat? Bukannya sedang sayang-sayangnya karena baru nikah? Faktanya, dari list pertemanan gue aja, sudah ada 3 orang kenalan gue yang bercerai di umur pernikahan yang yaaaa setara 3 semester ini.

Cerita Pre-Marriage Journey ini niatnya membantu memberi bayangan bagi teman-teman yang mau menikah tentang kira-kira apa aja ya yang sebaiknya dipastikan sebelum menikah. Pertanyaan dan diskusi ini juga semoga bisa menambah sudut pandang bagi teman-teman. Kalau ada yang baik, datangnya dari Allah (kalau ada yang ngaco ya namanya juga manusia tempatnya salah dan dosa).

Pertanyaan-pertanyaan interogasi serta brainstorming ini bukan berarti harus plek ditiru. Enggak. Ga gitu konsepnya. Pertanyaan-pertanyaan ini adalah hal yang gue merasa harus dipastikan karena berkaitan dengan prinsip serta ngaruh banget untuk teknis hidup berumah tangga (dan kewarasan gue) ke depannya, dan ini bisa berbeda-beda untuk tiap orang.

Hal yang sama untuk jawabannya.

Kalau case gue, gue mau lihat bagaimana pandangan Ari terhadap sesuatu. Bukan semata-mata jawaban benar-salah, tapi lebih kepada apa sih pedoman Ari dalam memandang sesuatu? Apa sih reference dia dalam mengambil keputusan?

Teori dasarnya jelas, bahwa kita ga bisa memberikan hal yang kita ga punya. Teko berisi kopi, ya saat dituang nanti akan keluar kopi. Sehingga dari jawaban-jawaban yang diberikan Ari akan terlihat mengenai apa sih yang ada di kepalanya tentang sesuatu.

"Susah beneeeeer, mau nikah doang aja sampai kayak gitu"

LAH YA IYA DONG

Kalau menikah diibaratkan dengan setengah agama, disebut-sebut sebagai ibadah terlama, ya masa proses menuju ke sana-nya asal-asalan? Beli pepaya di pasar aja milih dulu, masa calon pasangan ga dipilih?


Newbie (karena umur pernikahan gue baru setara kuliah 3 semester) tips :

1. Pertanyaan-pertanyaan ini sebaiknya ditanyakan sebelum baper dan rasa ngarep itu muncul. Kenapa? Agar mudah untuk meng-cut semisal ada poin-poin yang tidak bisa dikompromikan.

Di kasus interogasi-no-baper ini bagi orang yang sebelumnya ga pacaran maka akan lebih mudah hidupnya, karena ga ada tuh istilah "Tanggung ih udah 5 taun pacaran" atau "Duh ortu  kita udah kepalang kenal" atau "Duh, gue udah deket sama nyokap/kakak/adiknya". Jadi ga bias penilaiannya.


2. Buka nurani dan perhatikan red flag

Jangan ragu nge-cut kalau ada satuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu aja hal kecil yang mengganjal berhari-hari. Gue pernah menghempas seorang lelaki karena dia ga bayar pajak motor bertahun-tahun plus lampu belakang motornya mati. Buat gue, itu ga sesuai dengan value yang gue pegang (gue anaknya safety first banget lah, namanya juga anak pabrik). And now I'm happy with that. Laki-laki yang dimaksud di atas, sekarang ga jelas sih kerjanya apa dan gimana idupnya.


3. Numbers can't lie

Dalam tahapan interogasi nanti bisa ajukan beberapa poin pertanyaan yg butuh data/angka untuk menyelesaikannya (misal target tabungan nikah, atau rencana keuangan/tabungan jangka pendek-menengah-panjang). Kalau doi sepik doang asal nyebut "Taun depan" or "Dua taun lagi" or "Lima taun lagi" or asal sebut lainnya tanpa ada dukungan data yang jelas, maka bagi gue yang sangat saintifik ini sudah jelas..

HEMPASKAAAAN.


4. Percaya sama pola

Maksudnya gimana? Misal selalu janji mau berenti ngerokok tapi ga berenti-berenti? Atau justru janji mau berenti ngerokok abis nikah? Halah #taiucing. Udah ketahuan itu polanya, janji doang, masa masih ga percaya sama pola yang udah jelas gitu.

Bukan berarti kita anggap kata-katanya semua janji doang ya. Tapi ayo kita lihat polanya. Misal sebelumnya ngerokok 5x sehari abis selesai shalat (gimana sih kok ngerokok abis shalat, wkwkwkwk), trus dia berusaha mengurangi, biasanya jadi 4x sehari, kadang jadi 3x, tapi kadang banget kalo hangout sama temannya kelepasan bisa 5x lagi. Kan dari situ kita bisa lihat bahwa dia sebenarnya niat berubah meski dikit-dikit (dan ingat, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit).

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ya ujung-ujunganya semua keputusannya kembali diserahkan kepada teman-teman sekalian kok.. ini mah judulnya brainstorming doang.


Bonus tips beberapa alternatif pertanyaan pembuka untuk perempuan yang merasa harus memperjelas suatu kondisi tapi doi kok ga kunjung ngomong apa-apa :

(Disclaimer lagi, gue anaknya agak preman, dan waktu itu menanyakan ini ke teman dekat yang sama premannya. Jadi nanyanya tanpa baper dan sambil tetep ketawa-ketawa bego aja.)

"Eh, lu perhatian gini ke gue doang apa ke semua orang juga?"

"Nih yak, umur udah hampir 25. Umur segini dekat sama lawan jenis udah bukan buat nambah-nambahin list mantan kan?"

"Eh, ini tuh ya kita berdua kayak gini, gue ngarep sendiri atau lu ada niatan ke arah biar gue ga ngarep sendiri?"


Kadang perempuan cuma butuh kejelasan hubungan aja ga sih? Tapi kadang laki-laki juga clueless kalau diminta berkomitmen cepat-cepat.

Waktu itu, pernyataan pamungkas gue adalah..

"Kalau lu niat serius, gue juga ga akan minta dinikahin bulan depan kok. Yang penting gue tau dulu kita ini ada apa."

Akhirnya kami baru nikah setelah hampir 2 tahun dari pertanyaan pamungkas itu dan selama 2 tahun itu pula Ari diinterogasi, wkwkwkwk. Untung Ari sabar ya sama gue.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kenapa perihal kejelasan hubungan ini harus ditanyakan? Cewek masa nanya-nanya kayak gitu..

Yak betuuull!!

Kalo ternyata doi ga ada rasa sama kita, kita jadi ga buang banyak waktu. Kita bisa memperluas lagi jaringan pertemanan, siapa tau ada orang-orang baik (dan qualified serta available) di luar sana yang kita belum pernah ketemu sebelumnya.

(Aku si anak oportunis, wkwkwk)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Akhir kata, berikut ada quote dikutip dari @kurniawan_gunadi

"Lebih baik gagal di proses daripada gagal di tujuan"


Lalu dimulai lah proses interogasi gue.

:D

~Bersambung

(Plis doakan aku rajin nulis ya)

Jumat, 06 November 2020

Materi Kuliah Anak Shalihah

Kalau saya bikin IG story tentang materi 'kuliah' anak shalihah, suka ada aja yang nanya "Beneran lu ceritain hal-hal ilmiah itu ke anak lu?"

Jawabannya :

Ya beneran lah, wkwkwkwk

Ngapain juga bohong yekan


Biar anak shalihah pinter?

Bukan

Tapi biar anak shalihah senang belajar. Bahwa belajar itu bisa di mana saja, kapan saja, dengan hal-hal dan fenomena yang bahkan sangat sederhana.


Pinter itu hasil.

Senang belajar itu value.

Transkrip itu fana, wkwkwk.


Siapa yang udah pada lupa materi pelajaran SMP dan SMA? Atau bahkan materi kuliah?

Sama.

Saya juga udah lupa ke mana tau materi pelajaran SMP dan SMA di sekolah dulu. Tapi pelajaran yg saya eksplor sendiri di luar gedung sekolah, saya masih inget.


Sekolah di SMP dan SMA favorit di Bogor, kadang saya suka ga ngerti lagi kenapa temen-temen saya pada pinter. Alhasil banyak guru (tidak semuanya, ofkors) yang yaaaa masuk kelas cuma masuk doang, nyuruh menghapal, lalu nyuruh ujian. Banyak yang tidak benar-benar mengajar.

Bahkan guru biologi saya kelas XI pernah bilang di depan kelas yang intinya saya payah banget dalam menghapal. Masih kesumat kalo inget sekarang.

Tapi lain dengan materi di kuliah. Masih banyak materi kuliah yang saya bisa ingat dengan sangat baik up to this time. Dosen-dosen saya (semoga beliau semua selalu dirahmati Allah, aamin) mengajar dengan cara yang beda jauh dengan guru-guru ketika sekolah.

Beliau-beliau ini mengajar dengan contoh sederhana yang bisa ditemukan sehari-hari. Beliau menjelaskan tentang 'why' dan 'how' things work. Saya jadi merasa tertantang untuk eksplor lebih jauh. Mencari hal-hal sederhana dan mencari tau how they work.

Sederhananya, ketika SMA saya disuruh menghapal (di mata pelajaran biologi yang gurunya amsiyong tadi itu) bahwa laktosa terdiri dari glukosa dan galaktosa.

Apa saya ingat materi itu ketika SMA? Tentu tidak. Saya langganan remedial biologi. Makanya sampai dikatain oleh guru itu di depan kelas.

Tapi ketika kuliah, materi yang sama, dijelaskan bahwa ada anak-anak yang lactose intolerrant (bisa diare hebat kalau mengonsumsi laktosa) bisa dapat asupan kalsium salah satunya dari yogurt. Kenapa? Karena bakteri di yogurt sudah memecah laktosa pada susu menjadi glukosa dan galaktosa.

Apa saya ingat materi itu ketika kuliah? Alhamdulillah ingat dan masih ingat sampai sekarang. Buktinya masih bisa ngetik ini.

(Yaaaa mohon maap kalau salah-salah redaksi dan reaksi, intinya tapi begitu kan)

See?

Sama lho poinnya.

Tapi penyampaiannya beda.

Hasilnya beda.


Di samping itu, kalau belajar tentang ilmuwan-ilmuwan muslim, beliau semua itu paham multisubject. Memang Ibnu Sinna adalah bapak kedokteran, memang Al-Khawarizmi menemukan angka 0, dan memang-memang lainnya, tapi ilmu lain yang dikuasai juga super banyak serta mendalam.

Mimpi saya adalah menjadikan anak shalihah serta adik-adiknya paham multisubject dengan baik. Bisa menemukan how dan why dari hal-hal sederhana (dan kompleks) di kesehariannya. Ga membagi-bagi ilmu menjadi "itu matematika", "ini fisika", "itu biologi", dst.

Dan kalau kata dosen Agama Islam saya ketika TPB,

"Ayat Allah itu luas, bukan cuma Al-Quran, melainkan seluruh alam semesta ini juga ayat Allah."


Mudah-mudahan pahamnya anak shalihah (serta adik-adiknya) dengan banyak subject, serta kemampuannya belajar sendiri dan menarik korelasi dari banyak aspek, senantiasa membuat mereka ingat bahwa kompleksitas sesuatu itu sudah tentu diciptakan oleh Yang Maha Teliti.

Lagipula, ilmu yang berkah bukan yang ada di transkrip kan? Buktinya, penjahat kelas kakap banyak lho yang gelar akademisnya panjang.

Sependek pengetahuan saya, ilmu yang berkah adalah yang diingat, diamalkan, memberi manfaat, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Wallahu'alam bisshawab.

Jumat, 24 Juli 2020

Membeli Gaya Hidup

Suatu hari gue pernah mendapat tugas mengaudit sebuah outlet makanan cepat saji. Lokasi audit adalah di sebuah kota yang UMR-nya tergolong rendah di Jawa Barat. Hanya sedikit lebih besar daripada setengah UMR Jakarta.

Apa artinya jika UMR-nya rendah?
Salah satu artinya adalah biaya hidup di sana juga rendah.

Adapun outlet makanan cepat saji tersebut, bagi gue yang anak Bogor (ingat, Bogor termasuk dalam Jabodetabek lho, salah satu daerah dengan biaya hidup yang segambreng) sekalipun itu memiliki harga yang yaaa.. lumayan juga. Kalau masih mahasiswa mungkin gue ga akan menyengajakan diri jajan ke situ karena uang saku yang terbatas.

Dan kalau menurut pemaparan kepala outletnya, biasanya dalam sehari-hari itu banyak sekali transaksi yang dilakukan. Seluruh meja yang ada akan penuh ketika jam makan siang dan antrian ojek online mengular panjang.

Sepanjang perjalan pulang kembali ke Bogor, gue jadi berpikir..
Orang-orang yang mengeluarkan uang semahal itu (apalagi buat yang biaya hidupnya hanya setengah dari biaya hidup di Jakarta) untuk memakan seporsi makanan kekinian, itu sebenarnya membeli makanan atau membeli gaya hidup?

Rabu, 08 April 2020

Hak yang Harus Ditunaikan

Sudah sekitar 10 tahun ini gue belajar ngaji ke guru ngaji yang ilmunya insya Allah di atas gue. Bukan ustadz sih, hanya kakak kelas ketika SMA, sekian tahun di atas gue, tapi insya Allah banyak ilmu yang sudah dan akan terus diberikan.

Lagipula, membagi ilmu itu bukan ketika sudah pintar kan? Kalau gitu caranya maka ga akan ada ilmu yang diturunkan. Ketika baru bisa alif, bukan berarti kita ga boleh ngajarin orang. Kalau baru bisa alif, kita boleh ngajarin orang bahwa itu alif, jangan jadi ba.

Sudah sekitar 10 tahun ini juga gue jadi males ikut tahlilan, khataman Al-Quran berjamaah, and so on. Bukan apa-apa, tapi ga sreg aja tiap ikut di majelis seperti itu.

Yang gue rasakan, most of kegiatan itu terlihat seperti ngaji cepet-cepetan. Yang bisa kelar duluan berasa paling jago dan nutup Al-Quran/buku tahlil dengan muka jumawa. Meanwhile selama 10 tahun belajar ngaji ini gue belajar bahwa tiap-tiap huruf ada hak yang harus ditunaikan. Ada hak tempat keluar huruf-nya, hak idzhar-nya, hak mad-nya, hak ikhfa'-nya, hak tasyid-nya, hak idgham-nya, dan hak dari hukum-hukum bacaan lainnya.

Pernah nemu quote, intinya..
Kalau aktivitas lain makin kita paham maka makin cepat pelaksanaannya. Tapi ada 2 aktivitas yang ketika kita makin paham maka kita makin berhati-hati melakukannya yaitu shalat dan membaca Al-Quran.

Lagipula, kalau memang cinta dengan AL-Quran, bukankah kita selalu pingin berlama-lama dengan yang dicinta? Sehingga ya up to this time jadi gagal paham aja sama yang pengajian tapi ngajinya serasa pakai shinkansen.

Wallahu'alam bisshawab.

Ditulis karena gagal paham sama yang Yaasiin-an 3 balik dalam rangka nisfu Sya'ban dan selesai for about 20 minutes. Maji de!?

Kamis, 19 Desember 2019

Pro Tips

Pro tips untuk teman-teman yang mau penghasilannya meningkat:
Mengeluarkan zakat senilai 2,5% dari jumlah penghasilan yang diinginkan
Trust me, it works.

Tapi ada beberapa hal yang perlu diingat..
  1. Iringi dengan kerja keras menjemput rezeki, ga diam dan leha-leha doang meskipun rezeki akan tau siapa pemiliknya. Karena kan memang ada rezeki yang akan datang sendiri dan ada yang harus dijemput dulu, so lets assume itu adalah part of rezeki yang harus diupayakan dulu.
  2. Rezeki bukan cuma gaji. Kita harus terus husnudzon kepada Allah. Tiba-tiba dapat satu set toiletries sepulang audit juga rezeki. Tiba-tiba ada promo ojol juga rezeki. Dikasih harga murah sama tukang jualan di pasar juga rezeki.

Cemunguts
:)

Senin, 26 Agustus 2019

Qurban

Pada suatu hari, beberapa hari setelah Idul Adha 1440 H, ada seseorang yang berkata,

"Mulai nabung bareng per bulan buat Idul Adha tahun depan ya?"

Trus ada yang meleleh rasanya di hati.
:"

Semoga dilancarkan, aamiin.

Rabu, 10 Juli 2019

Parenting

Bagaimana cara menjadi anak yang baik di mata orang tua?
Gampang..
Cukup jadi anak yang penurut.

Bagaimana cara menjadi orang tua yang baik di mata anak?
Dengan meng-iya-kan seluruh keinginan anak biar anak ga nangis?
Dengan membuat rencana hidup anak yang baik menurut kita? Agar anak kita sukses (menurut kita)?
Nope.

Cara menjadi orang tua yang baik ini yang ga gampang.

Makanya cara membesarkan anak itu namanya 'Parenting', bukan 'Childening'. Cara membesarkan anak itu adalah cara kita menjadi orang tua yang baik.

Baik di sini maksudnya adalah memberikan fasilitas semampu yang orang tua mampu usahakan (dengan halal of course), mengajarkan anak sesuai kaidah agama tanpa melanggar nilai-nilai hukum dan norma di masyarakat, agar anak sukses dunia akhirat (ya pandangan cetek gue yang belum punya anak sih begono).

Kalau someday anak kita kelakuannya ga seperti yang kita harapkan. Harusnya kita yang introspeksi, apakah kita sudah membesarkan dia sesuai minat, bakat, kemampuan, dan kepribadiannya?

Berikutnya,
Bagi para orang tua, sudah berapa lama kah kalian menjadi orang tua?
Seumur hidup kalian?
Nope.

Jawabannya adalah seumur anak pertama kalian.

Jadi, kalau merasa udah berumur 57 tahun dan anak pertama kalian baru 26 tahun, jangan merasa kalian udah jadi orang tua selama 57 tahun. CATET.

Kalian baru jadi orang tua selama 26 tahun. CATET.

Zaman berubah.
Hidup lebih lama tidak berarti lebih paham.

Kalian pernah muda,
Tapi bukan muda di zaman anak kalian menghabiskan masa muda.

Kalian pernah muda,
Tapi apa masih ingat rasanya?

Senin, 21 Januari 2019

Beda Prinsip

Sampai saat ini gue selalu ga abis pikir kalau menemukan foto bridal shower yang calon pengantinnya didandanin sampai jelek.

Kalau makan-makan di tempat mahal masih oke lah (uangnya juga ga minta ke gue kan yhaaa) as long as makannya dihabiskan, tidak malah dibuang-buang, tidak malah dipeper-peperin ke calon pengantinnya.

Karena menurut yang gue pelajari, mubadzir (orang yang menghambur-hambur, in this case adalah make up dan/atau makanan) adalah saudaranya syaitan, dan syaitan itu sangat ingkar kepada tuhannya.

Atas nikmat-Nya yang sebanyak ini, masa masih mau jadi ciptaan yang ingkar?

Untungnya lingkaran pertemanan terdekat gue ga seperti itu. Kalau ada, insya Allah akan gue ingatkan.

Tapi kalau yang berkelakuan begitu bukan lingkaran terdekat gue, rasanya semacam lemah iman aja, cuma bisa mengingkari dalam hati.

Kadang memang trend itu ga berjalan lurus dengan hati nurani. Bersyukurlah gue masih risih melihat yang kayak gitu. Semoga dijaga oleh Allah agar tetap halus hatinya sampai nanti, tetap yakin bahwa yang benar itu benar, dan yang salah itu salah, karena ga ada yang lebih mahal daripada hidayah Allah, aamiin.

Rabu, 21 November 2018

What People Talk About When They Talk About Business

Ketika kuliah dulu gue sempat mendapat materi mengenai bisnis, marketing, dan sahabat-sahabatnya. Salah satu dosen berkata bahwa,
"When we talk talk about industry/business/company, then we talk about about profit and money."

Awalnya gue berpikir,
"Ebuset, kapitalis amat."

Tapi dosen tersebut menjelaskan lebih lanjut. Bahwa (semisal) sebuah industri mengajukan sertifikasi FSC (misal nih ya.. misal..), yaaaa berarti ujung-ujungnya industri tersebut dapat mempromosikan produknya sebagai produk yang sudah tersertifikasi sumber kayunya sehingga meng-klaim diri sebagai industri yang lebih 'perhatian' terhadap lingkungan, dan lain-lainnya. Kalau suatu brand mengklaim fair trade, ya berarti produk yang dijual tersebut dipromosikan sebagai produk yang tidak menzalimi produsen, tidak mengeksploitasi tenaga kerja, bahan baku dibeli dengan harga wajar, dan sejenisnya. Serta sertifikasi serta standar-standar lainnya, ujung-ujungnya sih memang ternyata membuat citra baik perusahaan, sehingga customer menjadi loyal.

Hingga pada akhirnya these days kok ya rasanya gue mulai perlu ilmu buat ber-make-up. Kalau ibarat kuliah, gue cuma butuh mata kuliah "Dandan 101, Dasar-dasar Make Up" doang (101 maksudnya adalah mata kuliah di perkuliahan tingkat dasar gitu). Make up ala kadarnya aja, asalkan pantes untuk dibawa marathon kondangan hampir tiap pekan.

Lalu gue mulai mencari-cari kelas make up murah-meriah. Ada beberapa list yang masuk ke dalam pertimbangan gue, salah satunya adalah brand kosmetik muslimah dengan tagline "Halal" dan "Inspiring Beauty", sebut saja brand Mawar.
Hint: Terjemahkan kata 'Mawar' ke dalam bahasa Arab, maka anda akan menemukan artinya bahwa gue bukan asal comot nama kembang.

Brand Mawar ini punya akun IG untuk beauty house-nya yang di Bogor, lalu dengan budimannya gue follow untuk mengetahui jadwal-jadwal dan detail kelas make up-nya seperti apa. Meskipun muka gue selalu jerawatan tiap abis pakai Mawar ini, yaaa setidaknya gue akan dapat ilmu make up-nya lah. Ilmu make up-an yang proper ga apa-apa lah ditukar dengan jerawatan seminggu.

Btw, ada cerita sampingan tentang gue dan brand Mawar ini.
Suatu hari gue mencari bedak favorit gue di sebuah drugstore di mall paling hitz se-Cibinong Raya. Eh etalase brand bedak favorit gue ini sebelahan dengan brand Mawar. Begitu gue mulai mendekat, mulai lah sang SPG Mawar mempromosikan produknya. Merasa ga butuh (lha wong gue ngincer bedak di etalase sebelahnya), gue tolak dong. Eh, si mbaknya pantang menyerah, men, masih terus menerus mempromosikan bedaknya. Lalu karena males, gue bilang lah apa adanya, "Saya selalu jerawatan kalau pakai brand Mawar buat di muka. Saya cuma cocok sama minyak wanginya doang."

Daaaaaaaaan..
Tebak apa yang dikatakan si mbak SPG-nya..
"Mbaknya cuci muka ga bersih, kali.."
Amsyong.
Ingin ku berkata kasar.
Makin-makin lah gue ogah beli brand itu.

Kembali ke "Dandan 101, Dasar-dasar Make Up"
Dengan tagline "Halal" yang diusung, wajar dong kalau gue berpikir brand ini sangat Islami. Mulai lah gue mantengin IG beauty house-nya. Hingga pada akhirnya, ada story mengenai kelas make up yang dilaksanakan pada hari itu. Ketika gue cek..
Jeng.. jeng.. jeng..
Ada foto orang-orang yang sedang berdandan.

Mau lebih dramatis?
Mana ada sih orang berdandan pakai jilbab lengkap?

Itu lah horor story versi gue.

Lalu gue berusaha mengamalkan surat Al-Ashr dong, menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Gue reply lah story tersebut, gue mengatakan bahwa ada aurat saudari kita yang terbuka di story itu dan harapannya admin dapat lebih bijak dalam mengepos sesuatu di sosmed. Message gue sih dibaca, tapi story itu tetap tidak dihapus oleh adminnya. Meskipun hilang dalam 24 jam, but it does matter kalau bagi gue mah.

Finally, what DO people talk when they talk about business is : Profit.
No doubt.
They don't really care whether aurat saudarinya terbuka atau tidak.
Lalu gue mendadak hilang minat dengan beauty class, biarlah dandanan gue tiap kondangan gini-gini aja. Gue lebih memilih menjaga apa yang harus gue jaga.

Simpulan:
Pada akhirnya, cantik adalah titipan. Tugas kita adalah menjaga titipan ini dengan cara yang baik dan sesuai dengan tuntunan yang lebih fundamental yaitu Al-Quran dan Al-Hadist.

Epilog:
Lalu gue meng-unfol akun IG beauty house tersebut pada akhir Agustus 2018 karena akun ini memajang begitu saja foto-foto muslimah sedang ber-make up sambil lepas jilbab di acara make up class lainnya (itu dipost di feed btw, bukan di story seperti kasus sebelumnya). Sampai saat ini gue belum mem-follow lagi dan mohon maaf jika ternyata keadaan saat ini sudah tidak seperti di akhir Agustus lalu. Sesungguhnya tulisan ini bukan berniat untuk pencemaran nama baik, melainkan hanya menulis keresahan semata, bahwa ternyata apa yang kita anggap penting belum tentu jadi penting buat orang lain.

Selasa, 02 Oktober 2018

When People Determine about How Should a Bride Look Alike

Kadang gue suka bingung dengan kata-kata orang ketika datang ke suatu acara nikahan dan melihat mempelai wanitanya,
"Ih, pangling. Cantik ya."

Pangling
pang.ling
Verba : tidak mengenali lagi

Cantik
can.tik
Ajektiva : elok, molek (tentang wajah, muka perempuan)

Dengan adanya kata-kata ini, gue jadi punya beberapa pemikiran lebih lanjut.
Kondisi 1 : Si manten tidak dikenali (pangling).
Kondisi 2 : Si manten cantik.
Simpulan : Kalau si manten menjadi apa adanya dia (dikenali), berarti dia ga cantik.

Am I right?

Gue pribadi kadang suka ga abis pikir dengan salon/MUA yang mendadani manten sehingga menjadi oh-men-buset-itu-jauh-amat-sama-orang-aslinya. Orang-orang rasanya punya standar cantik yang sama untuk pengantin wanita:
  • Putih (masa bodoh dengan muka yang putih tapi warnanya belang dengan leher),
  • Alis dengan sudut dan ketebalan tertentu (yang alisnya terlalu tebal jadi banyak yang dicukur, padahal bukannya ga boleh oleh agama?),
  • Pipi dengan ketirusan tertentu,
  • Warna iris yang bukan hitam (meeeen, kita orang Asia Tenggara, warna kulit sawo matang tapi warna mata abu-abu cerah kan agak maksa ya?).

Padahal kan kalau kata Cherrybelle mah,

"..You are beautiful,
Beautiful,
Beautiful,
Kamu cantik, cantik, apa adanya.."

Pertanyaannya, siapa sih perempuan yang ga mau dibilang cantik?
Semua pasti mau kan?

Pertanyaan berikutnya,
Mau ga sih kalau dibilang cantik tapi karena ga mirip kita?
Kalau gue kok lebih bahagia dibilang cantik aja, tanpa mirip siapa-siapa.

Terkait dandan-dandanan nikah, gue juga akhirnya jadi punya kriteria mau yang seperti apa. Hal terbesarnya adalah gue mau kok jadi cantik, asalkan cantik itu tetap terlihat seperti gue.

Pada akhirnya, setelah iseng-iseng buka akun IG banyak MUA dan banyak banget yang hasinya lebay, gue jadi menentukan sendiri beberapa kriteria mengenai "How I Want To Be on My Wedding Day", di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Jilbab menutupi dada
Tanpa tapi.

2. Warna bedak yang tidak terlalu putih
Gue sadar dengan sepenuh hati bawa warna kulit gue adalah sawo yang kelewat matang. Lagipula, koplak ga sih ketika tangan gue warnanya macam tangan-driver-ojol-yang-sering-bawa-motor-di-jalan-dan-lupa-pakai-sarung-tangan, tapi mukanya putih?

3. Bentuk alis yang natural
Ga kayak ulat bulu yang terlalu tebal di depan (karena bagi gue alis model gitu 'palsu' banget dan jadi aneh). Ga dicukur-cukur juga, alis gue udah ngepas jadi ga usah lah dicukur lagi. Alis gue memang agak terlalu tipis di bagian pinggir, but what's wrong with that?

4. Lipstick yang ga kayak orang abis makan gorengan
Dilap dulu ya, ceu, kalau abis makan gorengan.
Apa purpose-nya coba ya pakai lipstick macem orang yang abis makan gorengan gini?

5. Tidak menggunakan heels yang terlalu tinggi
Gue bahkan punya preferensi sendiri yaitu wedges dengan tinggi maksimal 5 cm. Makin teplek, makin baik.
Why?
Karena tinggi gue sudah 165 cm.

Apakah ga aneh kalau ada mempelai perempuan pakai sepatu teplek di hari pernikahannya?
Let's be realistic.
What's the purpose of wearing heels? Untuk terlihat tinggi kan?
Gue sudah cukup tinggi. So, what else?

Besides, I just want to be comfort in my big day.
Gue ga nyaman pakai heels yang terlalu tinggi. Gue hanya ingin menikmati hari pernikahan gue tanpa perlu terlalu banyak memusingkan kaki yang pegal karena sepatu yang tidak nyaman.

Dan hal paling pentingnya adalah..
6. Gue mau pakai kacamata
Jangankan disuruh pakai contact lens, pakai obat tetes mata aja gue hampir selalu berkedip sepersekian detik sebelum cairannya masuk mata. Lagipula, mata gue ada minus dan silindrisnya. Minusnya besar pula. Setahu gue, kedua hal itu bukanlah kombinasi yang baik untuk harga sepasang softlens. Daripada ga bisa melihat dengan nyaman di hari bahagia, lebih baik gue pakai kacamata aja kayaknya.

"Softlens-nya bukan buat minus keleees, tapi buat warna mata yang beda."
Yakali. Terus gue melihat sepanjang hari dengan pandangan kabur-membayang?
Gue sih ogah.
Terima kasih.
Selaput pelangi mata saya warnanya sudah coklat kok dari dulu.
At the end, I just wanna be myself, dan gue rasa kacamata adalah salah satu ciri yang gue banget.

Simpulan barokah:
Ayo cari MUA/salon mana yang mau memfasilitasi customer banyak mau macem gue.
:)