Tampilkan postingan dengan label #MatahariAkar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #MatahariAkar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

#MatahariAkar [Split Bill]

Es krim: Dingin di lidah tapi hangat di hati #CaptionTidakNyambungDenganJudul

Ada suatu budaya di Jepang yang cukup membuat gue terkedjoet saat pertama kali mengetahuinya yaitu budaya untuk split bill (pisah tagihan) ketika makan di tempat makan. Di Indonesia, hal ini sepertinya ga umum, bahkan gue belum pernah menemukannya. Sekalinya sok ide mau makan tapi bayarnya split bill (ketika sepulang dari Jepang) eh malah ga boleh sama si kasirnya. Sedih dah emang.

Tapi di Jepang, misal makan bertiga, ketika selesai makan itu kita bertiga cukup bersama-sama menuju ke arah kasir lalu ngomong,
"Betsu-betsu"
Artinya kurang lebih seperti "(Bayarnya) dipisah". 

Kasus split bill ini adalah hal yang sangat umum dilakukan. Gue pernah makan berama-ramai sekitar 8 orang bersama teman-teman Indonesia di Jepang, dan restorannya tidak keberatan ketika kami minta agar split bill. Jadi ketika sudah kelar makan ya satu-satu antre di depan kasir buat bayar makanan apa yang dipesan. Mungkin budaya split bill ini adalah salah satu dampak dari orang-orang Jepang yang jujur, jadinya ga ada yang ngibul makan makanan mahal tapi menyebutkan menu murah ketika bayar. Mungkin juga ini dampak dari budaya orang Jepang yang cenderung mandiri dan ga mau merepotkan orang lain, makanya ga enakan ketika dibayarin orang lain.

Maafkan gue yang mulai sotoy.

Satu hal yang gue terkaget-kaget dengan split bill ini adalah orang pacaran aja makannya juga split bill. We-O-We. Seru amat ya jadi cowok di Jepang, ga perlu bayarin makanan ceweknya. Hahaha..

Sepulang dari Jepang ini gue jadi punya kata-kata pamungkas untuk menolak dibayari oleh orang lain.
"Orang pacaran di Jepang aja makannya split bill kok. Bayar sendiri-sendiri."

Meskipun akhirnya ada satu orang yang menjawab,
"Ini kan bukan di Jepang."

Dan tak lama, ada senyum yang tak bisa disembunyikan.

Minggu, 15 Januari 2017

STEP@TUAT; A How To (Part 1)

Sehubungan dengan post sebelumnya, pada post kali ini gue mau bercerita mengenai bagaimana proses persiapan gue untuk mendaftar program STEP. Gue mendaftar STEP dua tahun lalu, berangkat pada Oktober 2015, dan sudah kembali ke Bogor pada September 2016.

First of all, I want to tell you that having a whole year not in your hometown itu harus dikompensasi dengan hal yang tidak sedikit. Gue pribadi kehilangan banyak momen bersejarah dari teman-teman gue. Gue melewatkan setahun periode wisuda, beberapa belas nikahan, dan entah berapa lahiran. Gue ga bisa mendampingi pas ibu harus tengah malam ke rumah sakit (untungnya ga kenapa-kenapa, cuma sempet ngedrop doang), gue ga bisa hadir ketika ibu pelantikan naik jabatan, ga ikutan acara liburan keluarga ke Bukittinggi, and so on.

Dengan sebegitu banyak hal yang gue lewatkan di Bogor dan sekitarnya, yang bisa gue lakukan selama di Jepang adalah bersenang-bersenang. Hahaha. Jangan sampai gue menyesal karena ga bisa merasakan momen di Bogor dan sekitarnya, lalu ditambah di Jepang juga cuma diem-diem aja.

Oke, stop ngelantur dan curhatnya, let's start.

Pada tulisan kali ini (dan yang akan datang) gue mau menceritakan mengenai beberapa syarat kelengkapan berkas yang proses mendapatkannya agak lumayan. Definisi 'lumayan' di sini artinya tidak melulu sulit, bisa jadi tricky, malesin *misal, urusan ke DIT.AP IPB*, ngabisin duit tabungan, and so on.

Surat rekomendasi
Dari sekian banyak syarat pendaftaran, salah satu yang bikin deg-deg-ser adalah surat rekomendasi dari dosen. Diminta 2 pula.

Usul gue sih yang pertama adalah jelas dosen pembimbing. Ibaratnya selama di kampus, beliau lah orang tua kita. Kunci lulus atau enggaknya kita (kuasa Allah sih pasti ya) juga ada di tangan beliau. Dengan minta rekomendasi dari beliau, semisal nanti lolos juga enak ketika ngadep untuk laporan. That's what I did 2 years ago. "Pak, terkait surat rekomendasi exchange yang waktu itu, Alhamdulillah saya lolos..". Ga mungkin kan kita ngilang setahun ke negara orang dan Si Bapak ga tau. Ga sopan juga lagian kalau ga bilang.

Secara ga langsung, ketika beliau bikin surat rekomendasi untuk kita itu beliau merestui bahwa anak bimbingnya punya probabilitas ngilang setahun ke negara orang, haha.

Meminta rekomendasi ke beliau juga nanti bisa bikin enak ngobrol untuk ke depannya, variabel penelitian bisa dikurangi atau enggak (karena takut keburu berangkat), apakah setahun ini mau dijadiin cuti atau enggak, sks dari sana mau diakui di Indonesia atau enggak, mau penelitian di Jepang atau di Indonesia, dan lain sebagainya.

Usul untuk dosen kedua, cari dosen yang kita dekat dengan beliau. Entah karena kita jadi asisten mata kuliah beliau lah, entah karena kita aktif ketika beliau ngajar lah, entah beliau temen orang tua kita lah, entah beliau orang tuanya temen deket kita lah, entah apapun lah. Pastikan juga beliau "ngeuh" sama kita. Kalau kita ngerasa dekat tapi beliaunya kagak ngerasa sih itu namanya kebanyakan ngarep.

Kenapa nyari yang dekat? Karena kalau sama yang dekat, insya Allah rekomendasinya bagus. Lagian gunanya nyari surat rekomendasi kan untuk 'menjual diri'. Kalau minta rekomendasi ke dosen yang kita sering telat datang kuliahnya mah berabe.
"..mahasiswa ini kurang bertanggung jawab karena sering terlambat datang ke kuliah saya.."
END
Bhay

Alternatif lain, cari dosen yang sering stand by di kampus. In case ada perintilan yang kelewatan, gampang untuk nyarinya lagi. Dua tahun lalu gue memilih dosen kedua untuk rekomendasi dengan cara seperti ini. Entah sial atau hoki, ternyata ada hal yang masih harus ditambahkan setelah gue mengumpulkan berkas. Lucky me, Si Ibu mudah ditemui, Alhamdulillah.

Berkas rekomendasi dosen ini ada formatnya di form pendaftaran dan gue hanya meminta beliau-beliau untuk mengisi saja (dengan kata-kata yang sudah gue tulis terlebih dahulu, hehe). Ternyata eh ternyata, agar lebih resmi dan rahasia. Ditmawa meminta agar kertas selembar tersebut dimasukkan ke dalam amplop putih, di-seal, lalu dosen yang bersangkutan mendatangani seal-nya sebagai tanda bahwa bener lho surat ini dibikin beliau dan ga gue otak-atik.

Actually ga rahasia-rahasia amat sih, gue udah kepalang baca tulisan Bapak tentang gue (ketika mau ngerapihin berkas sesuai halaman) dan gue jadi terlihat keren di surat rekomendasi dari Bapak. I love you full lah, Pak.

Alternatif lain (lagi), cari dosen yang gelarnya profesor. Berhubung tujuan exchange ini adalah untuk pendidikan, berhubung profesor adalah gelar tertinggi dalam dunia akademisi, ya pikir deh ya hubungannya apa, hahaha.

Keterangan kemampuan bahasa Inggris
Ini mah ga ada cara lain, ya tes atuhlah.

Kalau kita ngerasa skill English kita ga cupu-cupu amat, sekalian aja tes beneran. Dua tahun lalu itu gue ikutan TOEFL PBT di UPT Bahasa IPB di Kampus Gunung Gede, harganya 400 ribu (untuk 2017 ini pekan lalu gue cek, harganya udah jadi 500 ribu). Tes beneran ini umumnya berlaku selama dua tahun, or at least ada semacam rahasia umum dan kesepakatan bersama bahwa itu bisa digunakan selama dua tahun. Lumayan bisa dipake untuk syarat SKL dan ngelamar kerja kalau udah lulus *itu sih gue*.

TOEFL ini menurut gue agak risky, tricky, dan ngabisin uang tabungan gue. Dua tahun lalu TOEFL di IPB diadakan tiap minggu, minggu ini di Dramaga, minggu depannya di Gunung Gede, gitu terus berulang. Sistem TOEFL di IPB itu pakai kuota, jadi kalau kuotanya udah penuh ya ikutan sesi setelahnya. Nah berhubung gue ngincer yang di Gunung Gede biar ga terlalu jauh dari rumah dan ternyata kuotanya udah penuh, alhasil gue baru tes pada Sabtu ketiga setelah pendaftaran dan hasilnya baru bisa diambil sekitar 8-12 hari kerja setelah tes. Tricky abis kan? Hahaha. Syarat ini sepertinya harus dikerjain duluan.

Kalau ikutan yang TOEFL prediction gitu di tempat-tempat les di Bogor, harganya skitar 150-200 ribu dan cuma berlaku 3-6 bulan. Trus ga resmi pula, power-nya ga sesakti hasil tes beneran.

Selain TOEFL, mau IELTS atau apa juga boleh. Intinya bukti yang menyatakan bahwa kita bisa bahasa Inggris karena selama perkuliahan (kecuali mata kuliah Bahasa Jepang) menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar.

Karena pendaftar dari IPB yang cukup banyak di tahun gue mendaftar (ada 7 orang), maka dilangsungkan sesi wawancara untuk semacam 'seleksi tambahan' dari IPB. Gue yakin bahwa hasil TOEFL gue yang ketika itu belum menyentuh angka 500 bakal dijadikan topik hangat ketika wawancara..
..dan bener aja.

Akhirnya gue ngeles ketika wawancara (pakai bahasa Inggris pula) bahwa poin utama dari komunikasi bukanlah tentang kesamaan bahasa, tetapi saling mengerti antara kedua pihak yang berkomunikasi.
Tsaaaaaaah
Gaya banget kan gue
*ditimpuk

Thanks to modul daskom yang pernah iseng dibaca.
:D

----------

Inilah dua dari beberapa hal yang bagi gue paling dagdigdug pas mengusahakannya. Hal lain yang ga-se-dagdigdug dua hal ini akan disambung secepatnya.

いじょうです
ありがとうございます
*bowing

(Dibaca: Ijou desu, arigatougozaimasu; Artinya: that's all, thank you)

Kamis, 05 Januari 2017

STEP@TUAT; Kesempatan Exchange untuk Mahasiswa IPB

Tersebutlah sebuah departemen tetangga di fakultas. Departemen ini termasuk departemen perintis yang terakreditasi internasional di IPB, bahkan ketika SMA gue sempat mau masuk departemen ini, haha. Departemen ini termasuk dalam departemen yang mahasiswanya bisa ikutan program exchange AIMS (ASEAN International Mobility for Students). Selain dari departemen tetangga ini, gue hanya tau Faperta (seluruh departemen di Faperta) yang bisa ikutan program tersebut, mohon dikoreksi kalau salah but the point of my post is not about AIMS.

Ketika tingkat 2 dan gabung BEM fakultas, di akhir kepengurusan ada kakak kelas dari departemen tetangga tersebut yang ikutan AIMS. Trus ga lama mulai iseng cari tau dan kesel sendiri karena departemen gue ga bisa, haha.

Gue lupa bahwa setahun sebelumnya pernah dikasih tau oleh Si Teteh tentang program exchange lain, namanya STEP@TUAT, Short Term Exchange Program at Tokyo University of Agriculture and Technology.

TUAT dan IPB ini mereka bersaudara. Sister school istilah gaulnya mah. TUAT membuka kesempatan exchange bagi mahasiswa sister school yang tersebar di seluruh dunia melalui program STEP ini. Pada tahun gue terdapat 20 orang yang mengikuti program STEP dan berasal dari seluruh dunia. Mulai tahun 2017 ini kata webnya ditambah jadi 25 orang.

Bukan mahasiswa IPB?
Jangan khawatir..
Setahu saya *elah tumben pake 'saya'* ada kampus-kampus lain di Indonesia yang juga sister school dengan TUAT yaitu ITB, Unila, dan UGM.

Hal yang agak membuat gue sedih, tahun 2016-2017 ga ada perwakilan STEP dari IPB, kayaknya karena pada ga tau deh..

STEP@TUAT terbuka untuk program undergraduate, master student, dan juga doctoral student. Program berlangsung selama setahun, yaitu mulai Oktober hingga September tahun depannya. Kehidupan selama di sana di-cover oleh JASSO scholarship.

More info:
Kindly open this link and read carefully
(carilah ada berapa banyak foto gue di sana, hahaha)

Unduh berkas pendaftarannya

Jangan lupa tanya-tanya juga ke International Office di masing-masing kampus yaaa!!

Yang mahasiswa IPB, tau ga International Office IPB ada di mana? Haha
International Office IPB lebih dikenal dengan nama ICO, International dan Collaboration Office. Terletak di Gedung Andi Hakim Nasution. Kalau berdiri dari ATM Mandiri, nanti kelihatan.

Untuk mahasiswa IPB, selain main ke ICO, main juga ke Ditmawa ya untuk nanya-nanya. Sila datang ke Sub Direktorat Pengembangan Karakter dan Mobilitas karena ada beberapa berkas yang bisa disediakan oleh ICO/Ditmawa.

Terlepas dari apapun niat kalian untuk ikutan program pertukaran pelajar, entah mau jalan-jalan, entah nyari link buat lanjut sekolah, entah untuk mempercantik tampilan instagram, entah apapun itu, saya *ciye pake 'saya' lagi* sepenuh hati merekomendasikan karena akan banyak sekali pelajaran yang didapat ketika berada jauh dari zona aman.

Kalau kata Imam Syafi'i mah,
Merantaulah, maka akan kau temukan pengganti kerabat dan kawan.
I strongly agree.
Uuuuuu, kangen Tokyo kan jadinyaaaa :'

Sesungguhnya, banyak program sejenis dari kampus lain di Jepang tapi gue ga hapal namanya. Ada HUSTEP, URSTEP, dan entah apa lagi deh. For further info, kindly check ICO or Ditmawa or your own campus' International Office.

Kisah gue selama di Jepang dapat dilihat pada tautan #MatahariAkar di blog ini (atau klik di sini). Belum banyak sih karena keasikan main selama di Jepang sampai lupa nulis. Hahaha..
#AlesanAjaKamuDiiil

Tips and trick untuk mengisi berkas, insya Allah, akan gue sambung di post berikutnya.
Cheers!!

Sumber gambar (klik di sini)

Dua puluh tahun lagi ga mau dihantui kan? Makanya dicoba aja sekarang.
Hehehe

Footnote
For earlier tips and trick, kindly contact me on:
Line id : .fadila. (ada . sebelum dan sesudah nama)
Instagram : @dilahoy

Minggu, 21 Agustus 2016

#MatahariAkar [Tokyo Skytree]

Pada akhir Juli lalu, ada adik kelas gue di TIN yang ikutan semacam shortcourse di Tohoku University di Sendai. Berhubung Sendai itu agak terpencil jauh, jadilah adik kelas gue ini flight dari Indonesia ke Tokyo, lalu akan naik bus ke Sendai.

Oiya, adik kelas gue ini namanya Aldrian, gue sering memanggilnya Rian. Lengkapnya adalah Aldrian Kuswadi, TIN 49. Rian ini sepengamatan gue di kampus lumayan dekat dengan Septian *siapa lagi ini Septian --"*. Sempitnya dunia adalah ketika Si Ehem-nya Septian ini (namanya Natsumi) ternyata adalah mahasiswi Jepang (kampusnya di Tokyo, rumahnya di Tokyo-coret) yang pernah AIMS di IPB, bahkan cinlok mereka terjadi semester lalu ketika Natsumi AIMS di IPB.

Gue pribadi nyaris selalu mengiyakan ajakan ketemuan dari teman di Indonesia yang kebetulan sedang berkunjung ke Tokyo. Rasanya seperti dijenguk. Seneng ajaaa~, Alhasil pada 23  Juli lalu, kami bertiga (gue, Rian, dan Natsumi) berjalan-jalan di sekitaran Tokyo.

Semenjak kenal, sesungguhnya gue ga banyak ngobrol dengan Rian. Salah satu obrolan terbanyak kami adalah sekitar 2 tahun lalu, ketika angkatan 49 jadi panitia Hagatri. Kebetulan Rian ini jadi Kadiv Medis Hagatri sedangkan di tahun sebelumnya gue adalah rakyat jelita di Medis Hagatri, jadilah kami sempat ngobrol banyak meskipun isi obrolannya ga jauh-jauh dari revanol, promaag, oxycan, biskuit, teh manis hangat, tandu, pita, pelatihan medis KSR, dan angket riwayat penyakit.

Kebetulan yang membuat makin seru, agenda jalan kali ini adalah naik ke Tokyo Skytree, horeeeeee..

Menurut Wikipedia, Tokyo Skytree ini adalah menara tertinggi di dunia serta menjadi bangunan tertinggi kedua setelah Burj Khalifa di Dubai. Fungsi lain dari Tokyo Skytree selain objek wisata adalah menara pemancar beberapa channel radio dan channel TV. Gue sudah sejak lama ingin naik ke Tokyo Skytree, tapi ga nemu-nemu teman untuk diajak barengan.

Ketika autumn lalu gue pernah berfoto dari Sensou-ji Asakusa, berlatarkan Tokyo Skytree.

Taken by Indria Wahyu Mulsanti

Di penghujung winter, masih lengkap dengan coat tebal, gue juga pernah berfoto lagi berlatar Tokyo Skytree setelah sepanjang siang ngebolang bersama Tiwi dan Aul.

Taken by Khoirina Retno Pratiwi

Rute ke Skytree ini mudah. Dari Sensou-ji, masuk ke subway Asakusa Line dan naik kereta sampai Stasiun Oshiage. Bahkan sejak begitu sampai tap gate Asakusa Line aja langsung ada arahan harus ke platform mana untuk menuju Skytree. Dari platform tersebut, semua kereta yang lewat akan berhenti di Oshiage, ada poster peberitahuan juga bahwa semua kereta yang lewat akan berhenti di Oshiage, jadi ga perlu bingung. Begitu turun dari kereta juga ga perlu bingung karena bertebaran penunjuk arah menuju Skytree. Makin ga perlu bingung karena instruksi menuju Skytree tersedia dalam Nihongo dan English.

Untuk naik ke atas Skytree, kita 'hanya' perlu antre tiket bersama-sama dengan rombongan kita yang akan naik, lalu naiklah ke atas dengan lift. Mengapa gue mengatakan 'hanya'? Karena antre beli tiketnya aja udah dua jam coy, hahaha. Mungkin kalau weekdays antre-nya akan lebih singkat, wallahu'alam bisshawab.

Mengapa harus bareng-bareng antre-nya? Ga bisa nitip ke seorang, trus sisanya nungguin sambil duduk-duduk? Karena setelah selesai dari konter tiket, kita akan langsung bergerak menuju lift, jadi sekali jalan gitu. 

Jangan khawatir, di konter tiket kita bisa beli tiket sendiri-sendiri kok, bilang aja ke si Mbaknya 'betsu betsu' (artinya sendiri-sendiri) jadi ga perlu repot utang-piutang dan talang-talangan dana.

Oiya, ada dua tingkatan di Tokyo Skytree, yang pertama adalah 350 meter. dari bawah ke tingkatan 350 meter ini harga tiket lift-nya 2060 yen. Tingkatan berikutnya adalah naik lift lagi ke 450 meter dari 350 meter, harga tiketnya 1030 yen. Waktu itu gue hanya naik sampai 350 meter aja.

Mahal?
Heummmmm.. no comment deh gue
Kalau mau mencoba mengonversi harga tiketnya ke rupiah, sok mangga~
1 yen sekarang ini setara dengan 120an rupiah
Tapi gue udah sejak lama ga pernah mengonversi harga di Jepang (khususnya Tokyo) menjadi rupiah, biar ga sakit hati..

Teknologi liftnya canggih coy *yaiyalah*. Ketika naik lift ke level 350 meter, kalau kuping ga berdenging, gue ga akan sadar bahwa gue sedang dalam perjalanan cepat ke arah atas. Ketika turunnya juga sama. Getaran liftnya ga kerasa sama sekali. Interior lift-nya juga didekorasi dengan cantik, jadi bisa liat-liat desainnya, hahaha *tipikal anak ga ada kerjaan*.

Ketika itu hari sedikit berawan. Tapi dari atas Skytree, gue tetap bisa melihat seluruh Tokyo kok. Cantik banget, Masya Allah.

Maafkan skill dan kamera yang kurang mumpuni ^.^v

Selfie yang backlight~

Anyhow, jargon divisi Medis Hagatri 2012 adalah,
"Get well soon, dek!!"
Lengkap dengan senyum dan tangan di depan dada sebagai visualisasi dari emot peluk ({}). Dengan ga tau malu, gue dan Rian berpose seperti itu pada ketinggian 350 meter di atas permukaan tanah.

Get well soon, dek!!

Di level 350 meter itu terdapat dua lantai. Di lantai bawah ada spot bernama 'glass floor' *atau floor glass yak? Heummmmm*. Itu adalah beberapa buah lantai kaca *nya heu euh atuh* berukuran sekitar 50 x 50 cm di mana kita bisa melihat ke arah bawah, literally bawah.

Ya Allah, semoga ga ada yang ngintip dari bawah, soalnya hamba-Mu ini pakai rok

Di Skytree, seperti objek wisata di Jepang pada umumnya, juga ada toko souvenir. Selain toko souvenir khas Skytree, juga masih banyak kios lain di dasar Skytree termasuk Pokemon Center dan sebuah kios yang menjual pernak-pernik unyu macam Hello Kitty.

Epilog
Ini ada sedikit oleh-oleh foto *da apa atuh gue mah bukan anak IG*.

Selfie yang ga backlight, dari bawah!!

Foto yang bikin seorang praktikan ngejapri karena envy, haha

Iklan Peps*d*nt

After Credit
Tokyo Skytree:
Checked!!

Senin, 15 Agustus 2016

#MatahariAkar [Taifun]

Berikut ini dilampirkan screenshoot percakapan antara dua orang Bogor yang sedang terdampar sekitar 5800 km dari Bogor.

Taifun, coy~

Orang (yang pernah tinggal di) Bogor sepertinya akan paham.
Hehehe


いじょう です
(read: Ijou desu; means: that's all)

Rabu, 03 Agustus 2016

#MatahariAkar [3776 MDPL Part 1]

3776 MDPL itu apa?
3776 MDPL adalah tingginya Gunung Fuji (for short, let's call Gunung Fuji as Fujisan). Fujisan adalah gunung tertinggi di Jepang.

Kenapa part 1?
Karena sedang membuat rencana untuk mendaki Fujisan lagi di pertengahan bulan Agustus. Mohon doa semoga turun izin dari orang tua, aamiin *bisaan emang, sekalian minta didoain*. For short, let's call 'mendaki Fuji' as 'Fujinobori'; Nobori, noboru (登る) artinya mendaki.

Ceritanya, pada 15-16 Juli 2016 lalu gue Fujinobori bersama Kak Fima dan seorang teman kantornya. Beberapa hari setelahnya mereka berdua akan pulang ke negara masing-masing, sehingga yang paling memungkinkan adalah tanggal 15-16 Juli itu.

Kak Fima ceritanya sangat ingin Fujinobori. Ya cetakan WL lah ya, nurun ke gue. Kak Fima baru ke Jepang September lalu sedangkan Fujisan dibuka untuk dinaiki hanya di bulan Juli dan Agustus. Mungkin Fujisan hanya dibuka dua bulan per tahun dengan alasan keamanan pendaki. Suhu summer di gunung ketika malam hari aja ga beda jauh dengan winter Tokyo di malam hari. Kalau Fujinobori di musim dingin, idih, ngebayangin dinginnya aja gue ogah. Akhir pekan pertama di bulan Juli masih Ramadhan, adapun weekend keduanya gue udah ada agenda nonton kembang api, maka dari itulah akhirnya baru naik di tanggal 15 dan 16 Juli.

Sebelum naik, banyak instruksi yang diberikan Kak Fima ke gue via chat messanger, ya instruksi biar olah raga lah, nyari barang ini-itu lah untuk pendakian, diskusi waktu dan tempat ketemuan lah, dan banyak lainnya. Sebelum naik, kami sempet ketemuan lagi untuk nyari headlamp untuk kami dan sepatu outdoor untuk Kak Fima. Ujung-ujungnya gue malah naksir carrier ukuran imut, hanya 28 liter. Warna biru, cantik, suka banget sama birunya. Pas-pasan tas ransel biru gue baru putus talinya ketika Ramadhan. Huffft, perempuan mah emang suka gitu. Niat ga belanja, ujung-ujungnya belanja paling heboh. Haha..

Perlengkapan naik; Pooh dan beruang tidak termasuk

Kalau dengar-dengar cerita dan baca blog orang tentang Fujinobori, katanya ga sesulit naik gunung di Indonesia, maka dari itulah carrier imut itu gue beli. Tujuan pertama adalah untuk Fujinobori. Tujuan keduanya untuk bawa barang pas pulang ke Indonesia, tujuan ketiganya adalah untuk piknik dan jalan-jalan yang cuma sehari-dua-hari saja.

Winter coat gue sudah dibawa pulang oleh Ibu ketika Mei lalu sempat main ke Tokyo, alhasil gue meminjam winter coat Mbak Indri untuk naik ini. Jas hujan juga minjem seorang senpai lain. Headlamp dibeliin. Sepatu running udah beli beberapa bulan lalu. Carrier baru beli 4 hari sebelum naik.
Kelakuan banget kan..
-______-

Gula merah yang ga abis-abis karena cuma sekali-kalinya bikin bubur kacang hijau, dibuang sayang, mau dipakai masak tapi skill masaknya cupu, akhirnya gue bawa naik gunung untuk asupan energi sederhana yang mudah dicerna. Bawa juga madu hasil shopping di toko 100円. Pengalaman naik Gede tahun lalu bawa air 3 liter, sehingga Fujinobori ini gue juga bawa air 3 liter.

Tanggal 15 Juli lalu, gue langsung ngacir setelah pulang kuliah jam 14,30 JST. Sambil ngebut naik sepeda dari Koganei ke Fuchu, gue beli onigiri 8 biji (buat makan malam dan besok paginya), dan langsung mandi setelah sampai kamar. Setelahnya langsung ngacir lagi ke stasiun untuk naik kereta ke tempat ketemuan dengan Kak Fima, Stasiun Gotemba. Jauh bro, sekitar 85 km, 2 jam lebih naik kereta. Akhirnya gue berhasil sampai Gotemba jam 17.55 dan jadwal keberangkatan bis ke Fujisan adalah jam 18.10. Kalau kata gmaps, dari kamar ke Gotemba rutenya seperti ini..

Mayan uga~

Di Fujisan ada 10 pos, dengan pos 1 di bawah dan pos 10 adalah di puncak. Kendaraan dapat naik hingga pos 5. Setelah pos 5, silakan berjalan kaki sampai atas. Bis yang kami naiki itu adalah bis menuju pos 5. Kalau naiknya paket wisata Fujisan, maka bis akan menjelajah dari pos 1 hingga pos 5.

Menurut cerita mbak-mbak pemandu paket wisata (inipun gue diceritain senpai yang pernah ikutan paket wisata), pos 1 hingga 10 posisinya ditentukan dari kebutuhan lentera selama pendakian. Ketika lentera pertama habis, maka di situlah posisi pos 1. Lalu ganti lentera, ketika lentera kedua habis maka di situlah pos 2, dan begitu seterusnya.

Kami bertiga mulai naik lewat dari jam 7an malam dengan headlamp menyala. Selangkah demi selangkah. Beberapa kali gue dan DJ (temannya Kak Fima) mendapati Kak Fima tertinggal jauh di belakang. Padahal saat itu belum juga sampai pos 6. Setelah beberapa kali fase menunggu-ketemu-ketinggalan lagi-nunggu lagi-dst, akhirnya kami dapati cahaya lampu di kejauhan, tak lama kemudian muncul Kak Fima.

Pada ketertinggalan yang kesekian kali itu, dengan muka pucat Kak Fima bilang bahwa dia ga kuat. Sudah lama ga latihan fisik dengan keras, efek terlalu lama duduk di balik meja kerja. Nungguin dirinya hanya akan bikin langkah kami jadi luar biasa terhambat. The most surprising thing is Kak Fima bilang bahwa kami ga perlu nungguin dia. Kak Fima ga akan sampai puncak, mungkin akan berhenti di pos terdekat, pos 6. Kalau kuat akan lanjut ke pos 7 besok paginya. Nanti setelah pagi kami akan kontak-kontakan kembali untuk ketemuan pulang.

Di situ gue diem.
Ga percaya aja..
Seorang kakak kelas yang gue tau banget deh 10 tahun lalu beliau keadaan fisiknya kayak apa, bisa jalan kaki 4 jam nyaris tanpa berenti, sekarang bahkan belum sampai 2 jam berjalan dengan trek agak terjal sudah ga kuat.

Setelahnya ada prosesi yang agak panjang dan cukup drama. Kak Fima personally menitipkan gue ke DJ dan minta maaf ke gue karena ga bisa ikutan sampai atas.
"She's supposed to be my responsibility. Could you please take her care for me?"

Gue susah buat percaya dengan orang lain. Tapi di WL gue menemukan beberapa alumni yang bisa gue percaya sepenuhnya dan Kak Fima termasuk di dalamnya. Bahkan saking percayanya sehingga gue berani diajak naik gunung paling tinggi di negara orang sekalipun. Adapun di Pandawa, gue hanya menemukan seorang Purna yang bisa gue percaya sepenuhnya.

Setelah pernyataan bahwa Kak Fima ga bisa ikut ke puncak Fuji, ga berarti rasa percaya gue hilang. Bahkan sama sekali ga berkurang. Berhentinya Kak Fima di tengah jalan membuat gue kembali belajar mengenai quote legendaris Smansa,
Jangan batasi diri, tapi tau batasan diri
Bentuk nyatanya ternyata benar-benar sangat banyak jenisnya.

Kami (gue dan DJ) akhirnya tiba di puncak setelah matahari terbit. Kurang lebih 12 jam waktu yang kami butuhkan untuk naik. Seharusnya ga selama itu, tapi kami sempat tidur di beberapa pos karena capek. Persis sebelum naik, kami punya aktivitas masing-masing dan memang belum ada yang sempat boci.

Kalau baca di blog orang-orang, rata-rata hanya membutuhkan 6-8 jam aja untuk naik dari pos 5 sampai puncak. Salah satu hal yang menghambat langkah gue (DJ selalu di depan gue dan kayaknya dia ga capek-capek deh) sepertinya adalah air 3 liter.
((TIGA KILO MEEEEN))

Berhubung ini summer, subuh itu mulai jam 3an dan matahari terbit sekitar jam 5.

Lovely dawn

Matahari terbit ketika kami ada di pos 8. Kata tulisan di sekitar situ sih 3300 MDPL. Hal yang menakjubkan di pos 8 adalah ada wifi.
((3300 MDPL DAN ADA WIFI))
Negara macam apa iniiiii -____-

Matahari terbit di gunung tertinggi di negara matahari terbit

Ketika matahari terbit, untuk pertama kalinya setelah sembilan-setengah-bulan hidup di Jepang, gue melihat orang jepang menyembah matahari terbit. Setelah matahari terbit, kami melanjutkan perjalanan sampai puncak. Ceritanya, gue lupa foto-foto selama di puncak karena ngantuk, jadi foto-fotonya agak ga jelas apa..

Di dekat kawah di puncak gunung

Monumen yang sepertinya bilang bahwa sudah berada di atas Fujisan

Sempat-sempatnya berpose sebelum turun

Kalau kata teman gue sih ini busa cucian mesin cuci~

Peta puncak Fujisan

Bendera negara penjajah di puncak gunung tertinggi di negaranya

Di tiap pos pemberhentian ada toilet tapi sumfeh ga recommended banget. Ada klosetnya, tapi ga ada air di klosetnya, adanya jerami doang jauh di bawah. Bahkan ketika melongokkan kepala ke atas kloset aja jeraminya keliatan. Jadi semua hasil buangan manusia itu akan jatuh ke atas jerami dan periodically jeraminya akan dibakar.

Katanyamah eco friendly. Tetep aja geleuh --"
Gue yang jarang geleuh aja sampai bisa geleuh --"

Satu hal lagi, toilet di sini bayar, men. Pertama kalinya nemu toilet bayar di Jepang ya di gunung ini. Toilet di seluruh pos bayar 200 yen, kecuali di puncak, 300 yen.

Setelah duduk cantik dan tidur (lagi) di puncak, kami memutuskan untuk turun gunung. Ada rute yang dibuat khusus untuk turun. Medan yang berpasir-kerikil-baru membuat sesi turun gunung menjadi agak sedikit lebih mudah, meskipun sakit di ujung-ujung jari kaki karena digunakan untuk mengerem. Gunung yang sekian lama didaki itu dituruni hanya kurang dari 3 jam.

Rute turunnya hanya serosotan doang di pasir, haha. Seru deh. Tapi tetep aja kalau apes bisa menginjak batu dan kerikil dan jatuh guling-guling. Gue berkali-kali kesandung, telapak tangan udah sempet berdarah, dan mayan juga sih sakitnya setelah nyaris guling-guling.

Akhirnya di pos 5 kembali ketemu dengan Kak Fima, lalu kami bergerak menuju halte bis untuk naik bis yang akan membawa kami menuju Stasiun Gotemba. Dari Stasiun Gotemba, selanjutnya gue pulang menuju rumah.

Muka gosong di stasiun Gotemba, menuju Tokyo >.<

Menurut pemaparan teman yang pernah naik Mahameru, sepertinya medan Fuji ga beda jauh dengan Mahameru. Berpasir, berkerikil, curam. Di bagian nyaris puncak, medannya berbatu-batu besar. Ada saat-saat di mana gue harus memanjat untuk bisa naik, ga kuat kalau hanya mengandalkan kaki saja, tangan juga harus ikutan. Ada juga saat di mana angin bertiup luar biasa kencang sehingga rasanya takut terbang kebawa angin. Jangankan takut terbawa angin, rasanya bergeser sejauh tiga puluh senti  dari tempat kaki berpijak aja udah takut, itu berarti sudah keluar dari rute dan medan curam berpasir bisa bikin kita menggelinding ke bawah dengan mudahnya.

Ada suatu masa di tengah malam itu gue dan DJ tersesat. Seriusan rasanya mau nangis. Di kejauhan melihat lampu dari headlamp yang berbaris rapi, itu rute yang benar. Lalu kami berusaha melewati hamparan pasir dengan kemiringan curam untuk sampai ke tempat yang benar. Saat itu, jalan tegap aja ga bisa, harus setengah merangkak saking curamnya. Setiap melangkah, merosot ke bawah 10-20 cm karena pasir semua dan curam. Jarak 100 meter aja gue tempuh lebih dari 5 menit.
Alhamdulillah terlewati..

Kecuramannya segini, cuy ~


----------


Penutup
Tanggal 13-14 Agustus 2016 mendatang, PMIJ (Persaudaraan Muslim Indonesia di Jepang) akan mengadakan Fujinobori dan gue direkrut jadi panitia. Sebenarnya ajakan Fujinobori PMIJ ini udah ada sejak lama. Bahkan ketika Ibu datang di bulan Mei itu gue sudah sempat melempar isu mengenai naik Fuji. Ketika itu responnya positif. Jadi sebenarnya persiapan naik gue ini adalah untuk naik bersama PMIJ, hehe. Makanya ini sedang dalam proses izin lagi, semoga boleh lagi.
Aamiin..

Kesempatan kedua, men. Kesempatan kedua tidak akan menjadi lebih baik kalau kita menjalankan kesempatan tersebut dengan cara yang sama dengan kesempatan pertama. Maka dari itu gue belajar banyak dari kesempatan pertama Fujinobori. Jangan lupa bawa sunblock, karena muka sudah kebakar di penanjakan yang pertama.

Naik di pertengahan Agustus nanti gue ga akan bawa air 3 liter, mungkin hanya akan 1,5 atau 2 liter aja. Ga akan bawa baju ganti sepasang dan baju naik sepasang, gue bawa baju untuk naik aja karena nanti ganti pas pulang akan pakai baju pas berangkat aja (asalkan bajunya cuma dipakai dari kamar ke tempat janjian lalu ke pos 5, jadi masih belum kotor). Berat men.

Semoga kesempatan kedua Fujibonori ini bisa lebih baik, lebih ringan, lebih praktis, lebih gesit, apalagi ditambah tanggung jawab tambahan bawa rombongan naik sekitar 10 orang.
Aamiin.


----------


After Credit
Kalau ada yang nanya mengapa gue mau-maunya naik gunung yang sama untuk kali kedua dalam jangka waktu cuma selisih 4 pekan, gue punya jawabannya.

Naik gunung mengajarkan gue untuk well prepared dalam melakukan sesuatu. Gue juga belajar untuk memilah-milah, mana yang penting serta perlu dibawa, dan mana yang enggak, terbukti dari banyaknya benda di Fujinobori pertama yang akhirnya akan gue tinggalkan ketika naik untuk kedua kalinya.

Naik gunung juga mengajarkan gue untuk menghadapi masalah. Fujisan kalau dilihat dari jauh rasanya tinggi. Pake banget. Tapi ternyata kalau dijalani, selangkah demi selangkah, asalkan ga berhenti, akan ada saatnya berhasil didaki. Masalah dalam hidup juga seperti itu kan? Di awal kelihatan besar dan rumit, tapi setelah diuraikan satu-satu, dikerjakan sedikit-sedikit, akhirnya selesai juga.

Melakukan sesuatu lebih dari sekali (apalagi dalam jangka waktu yang cukup dekat) membuat gue mengukur diri, sebenarnya gue belajar apa sih dari kegiatan yang pertama? Apakah gue melakukan kesalahan yang sama? Kebodohan yang sama? Keteledoran yang sama? Apakah gue melakukannya dengan lebih cerdas? Lebih efisien? Lebih baik? Lebih bertanggung jawab? Lebih ga manja? Lebih ga ngerepotin?

Manusia yang beruntung adalah yang lebih baik daripada masa lalunya kan?
Naiknya gue sampai dua kali ini adalah untuk melihat,
Apakah gue sudah jadi orang yang beruntung?
Semoga sudah
:)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Senin, 13 Juni 2016

#MatahariAkar [Persiapan Besar Sebelum Merantau di Luar Negeri]

Setelah delapan setengah bulan tinggal di negara orang lain, akhirnya gue menyimpulkan bahwa ada sebuah hal besar yang perlu dipersiapkan sebelum mencoba untuk merantau ke negara lain dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal itu adalah kesiapan mental.

Setelah gue kerucutkan, salah satu mental dasar dalam urusan rantau-merantau ini adalah aplikasi dari beberapa jenis pepatah,
"Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya"
"Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung"
Intinya sama, hormati dan patuhilah adat-istiadat serta kebiasaan setempat.

Judulnya juga merantau, ga perlu ditanya lagi bahwa tanah yang menjadi tujuan kita memiliki adat-istiadat dan kebiasaan yang berbeda dengan tanah yang biasa kita pijak. Jangankan jauh-jauh ke luar negeri, beberapa kota yang tetanggaan aja adat istiadatnya bisa beda, misal di Bogor mungkin ga akan ada yang menyebut bahwa liburan ke pantai itu mudah-murah-meriah secara Bogor ga punya pantai, beda dengan Sukabumi yang punya Pelabuhan Ratu.

Sebenarnya, ada kesimpulan yang lebih inti, yaitu..
Belajar bertanggung jawab.
Jalanilah segala konsekuensi dari pilihan yang diambil, dalam kasus ini adalah pilihan untuk hidup di luar negeri. Jangan cuma mau enaknya saja punya judul gelar akademis lulusan luar negeri, mencantumkan di CV bahwa pernah kuliah/kerja di luar negeri, tapi ga mau (mencoba) patuh dengan cara hidup di negeri yang bersangkutan. Itu namanya egois.

Selama hidup sehari-hari di Jepang dalam delapan setengah bulan ini, ada beberapa kasus yang benar-benar membuat gue gerah. Kasus-kasus nyata yang gue alami sendiri di sini. Kasus-kasus yang -di mata gue- pelakunya itu egois. 

Kasus 1
Sampah
Mungkin sudah pada paham teori mengenai urusan buang sampah di Jepang ini termasuk ribet. Sampah harus dipisah-pisah menjadi sampah burnable, unburnable, dan sampah berwujud agak besar seperti misal pecahan gelas atau payung. Di samping itu ada pula ketentuan untuk membuang karton tetrapack, kaleng, beling, dan botol minum kemasan PET. Ditambah jadwal buang sampah juga ada harinya dan tiap katagori sampah ada plastik khusus untuk membuang dengan warnanya tersendiri, jadi di hari tersebut kita diminta menaruh sampah yang bersangkutan (tentunya dengan plastik yang sesuai) di depan rumah sebelum jam  8 pagi agar dapat diambil oleh mobil sampah. Plastiknya sendiri harus beli, tapi harganya manusiawi kok.

Jadwal buang sampah, lengkap dengan warna plastik sampah yang semestinya

Di international house tempat gue tinggal ini ada bak sampah tertutup cukup besar di halaman depan sehingga banyak yang membuang sampah tidak pada waktunya karena toh dapat tertampung di bak sampah dan baunya ga ke mana-mana. But that's not the right one.

Hal yang mau gue kritisi sebenarnya bukan masalah jam buang sampah, melainkan apa yang sering gue temui ketika membuka bak sampah untuk buang sampah. Sangat sering gue menemui sampah yang dibuang bukan dalam plastik yang semestinya. Banyak yang buang sampah di dalam plastik-plastik  berbelanja di supermarket. Salah satu yang berkali-kali gue pergoki adalah dua orang dari negara yang sama di benua yang berawalan huruf A (nahloh bingung kan, hampir benua berawalan huruf A).

Di bawah ini bahkan keadaan di depan pintu kamar salah satu dari mereka, gue cukup yakin plastik itu berisi sampah, tapi itu bukan plastik sampah yang seharusnya.
Sampah dengan plastik yang tidak semestinya

Kalau di mata gue, itu namanya egois.

Kasus 2
Attitude
Jadi ceritanya tahun fiskal di Jepang itu dimulai dari bulan April. Itu awal musim semi, ada sakura mekar *terooooos?*. Tahun ajaran sekolah juga dimulai sejak April. Khusus untuk universitas, untuk menyesuaikan dengan banyak kampus di luar Jepang (dengan maraknya kesempatan berkuliah di luar negeri), akhirnya ada juga tahun ajaran yang start di bulan Oktober.

Gue tinggal di asrama dekat kampus. Dekat banget. Di Jepang ini juga ada keluarga besar Indonesia yang kuliah di wilayah sekitar tempat gue tinggal (bukan hanya di kampus gue ini saja) dan kami punya grup line yang tiap tahun dibikin baru (isinya adalah orang-orang yang ada di kampus pada tahun itu, jadinya gue ga se-grup bareng Si Teteh karena kita exchange di tahun yang berbeda, jadinya pula para veteran ga terganggu dengan obrolan kekinian tentang Jepang).

Pada akhir Maret lalu, banyak apato (apartment) atau -sebut saja- kostan yang sudah habis masa berlakunya karena penghuni yang bersangkutan sudah pindah atau lulus. Ada seorang mbak yang mengiklankan kostannya di grup. Salah satu hal yang gue garis bawahi dari pesan Si Mbak di grup adalah ibu kost-nya bilang bahwa berita ini boleh disebar ke mahasiswa asing tapi tolong jangan ke orang B*******sh dan P******n (dua buah negara di Asia Selatan).

Di situ gue langsung melongo, masih dengan posisi terakhir sambil liat grup dan pegang hape.
Gileh..
Kalau kelakuan kita aneh-aneh di negara orang bukan cuma nama kita aja yang jelek, tapi nama bangsa juga bisa rusak.

Mengapa gerangan sang ibu kos sampai melarang?
Jadi ceritanya penghuni sebelumnya yang dari negara tersebut itu kalau bayar air dan listrik suka nunggak, suka berisik dan pernah sampai diprotes tetangga, juga buang sampah seenaknya (plastik ga sesuai, sampah ga dipisah, waktu buang ga sesuai). Pantas aja ibu kosnya juga emosi.

Kalau di mata gue, itu namanya egois.

Kasus 3
Living cost
Urusan living cost juga kasus yang sering membuat gue nyengir sinis (yang kenal dan pernah liat muka jutek gue pasti kebayang lah ya bentuknya senyolot apa). Ini sebenarnya kasus yang lucu, sekaligus banget-banget egois.

Untuk kasus gue yang hidup di Tokyo, living cost di sini mahal. Banget. Tapi sebenarnya itu bukan masalah besar karena beasiswa yang gue dapatkan juga besar. Kalau kebetulan ga dapat beasiswa dan mencari kerja, Insya Allah juga mencukupi untuk hidup (asal ambil shift kerjanya yang rajin aja). Beasiswa gue sebulan di sini, gue yakini lebih besar daripada sebulan gaji freshgrad di perusahaan multinasional di Indonesia.

Lembaga pemberi beasiswa tentunya ga ngasal ketika menentukan nominal beasiswa. Jumlah beasiswa sebesar itu (berapapun itu yang didapat oleh para beaswan) pasti telah dikalkulasi dan disesuaikan dengan living cost di negara atau kota yang dituju (untuk kasus gue, Tokyo), apalagi di Jepang belum nemu tuh hal yang dikerjain secara ngasal sehingga gue percaya bahwa kalkulasi jumlah beasiswa segitu memang cukup untuk dipakai hidup di Tokyo.

Di program exchange ini, ada juga teman-teman yang berasal dari negara-negara yang living cost-nya ga sesadis Tokyo (termasuk Indonesia), dan di sini hal yang menyebalkan terjadi.

Hal yang sangat sering teman-teman gue lakukan adalah membandingkan harga antara di Tokyo dan di kampung halaman mereka. Entah pola pikir gue yang ngaco atau gimana, tapi gue nyaris tidak pernah melakukan hal itu. Alhamdulillah, uang beasiswa guepun aman-aman saja, ga pernah tuh sampai ngutang karena uang bulanan abis (palingan minjem karena lupa bawa dompet atau beli sesuatu berdua dan ditalangin dulu untuk sekalian mecahin uang), ga pernah juga tuh gue setiap hari sampai harus puasa atau makan telor doang di akhir bulan karena lupa diri dan boros di awal bulan.

Apa hasilnya ketika mereka membandingkan harga antara di Tokyo dengan harga di kampung halaman? Teman-teman gue itu banyak yang pada akhirnya udah melampaui fase hemat dan irit, itu bahkan beberapa kali sudah sampai pada fase menjadi cenderung pelit dan dzalim terhadap diri sendiri. Pada akhirnya malah mengabaikan kebutuhan-kebutuhan pokok diri sendiri karena ya itu tadi, harga di sini lebih mahal dibanding harga di kampung halaman.

Studi kasus nyata,
Selama winter kemarin, jangan tanya dinginnya kayak apa. Bagi gue yang makhluk tropis, pengalaman dingin saat itu benar-benar "..for the first time in forever.." *sambil nyanyi*. Tentunya mulai dijual juga segala perlengkapan winter mulai dari coat, sepatu/boots winter, sarung tangan tebal, dan lain sebagainya.

Sebutlah teman gue namanya Lili (bosen Mawar terus, haha) dia sudah dari jauh-jauh hari merasa kedinginan tapi tak kunjung beli sepatu winter. Mahal, katanya. Memang sih kalau diubah jadi kurs rupiah (berhubung kurs yang gue pahami cuma rupiah doang) jadi cukup mahal, sekitar 200-350 ribuan, dan sepatu itu akan cuma dipakai kurang dari 4 bulan. Alhasil doi tidak kunjung membeli sepatu winter.

Di mata gue, itu namanya egois.

Padahal sepatu winter itu (at least, bagi gue) benar-benar berguna kala winter. Dia memang didesain untuk hal itu, broh. Sol sepatu yang ga licin, cocok untuk dipakai berjalan di atas salju. Bahan di dalam sepatunya hangat, biasanya bulu-bulu atau kulit *maaf gue bukan promosi*. Gue sendiri punya boots winter dua pasang, yang satu bawa dari Indonesia karena pernah dibelikan Ibu ketika beliau berdinas ke negara yang pas-pasan sedang winter, yang satunya lagi warisan dari angkatan terdahulu. Sepatu boots winter yang dari Ibu itu bahannya kulit, sedangkan yang warisan itu di bagian dalamnya ada bulu-bulu.

Hingga pada suatu hari, beberapa hari setelah salju turun dengan sangat lebat, jalanan sempat terasa sangat licin. Pada siang hari salju meleleh karena suhu yang di atas 0 derajat Celcius, tapi pada malam harinya kembali membeku karena suhu yang di bawah 0 derajat Celcius. Begitu terus selama beberapa hari.

Di sinilah kasus Lili terjadi. Doi pakai sepatu biasa, bukan sepatu winter, ketika dunia sedang licin kayak gitu. Hingga pada akhirnya entah bagaimana caranya doi terpeleset ketika sedang berjalan kaki karena sepatunya licin. Lecet-lecet dan memar ringan, untungnya keadaan doi bisa dibilang baik-baik saja. Tapi hal yang mengenaskan adalah hapenya terlempar ketika doi kepeleset. Layar sentuhnya retak. Rusak. Ga bisa dipakai lagi.

Pesan moral yang sangat berharga bagi gue adalah,
Cerdas-cerdaslah menentukan prioritas.
Sama diri sendiri, jangan pelit-pelit amat lah~
Sok-sok ide hemat 2000-3000 yen, akhirnya malah harus keluar uang lebih dari sepuluh kali lipatnya untuk beli hape baru.

Epilog (I)
Sekian kisah gue kali ini, mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh, lokasi, atau kejadian, karena bisa jadi memang itu kisah mengenai anda. Terima kasih telah memberikan banyak pelajaran berharga untuk gue.

Epilog (II)
Sekali lagi,
Jangan cuma mau enaknya aja punya judul gelar akademis lulusan luar negeri atau mencantumkan di CV bahwa pernah kuliah/kerja di luar negeri, tapi ga mau (mencoba) patuh dengan cara hidup di negeri yang bersangkutan. Itu namanya egois.

Selamat hidup di luar negeri.
Selamat belajar bertanggung jawab.
Selamat belajar menganalisa tiap keputusan, lengkap dengan menghadapi segala konsekuensinya.
Selamat belajar untuk tidak egois.
:)

Selasa, 17 Mei 2016

#MatahariAkar [My Shalat, My Adventure]

I will use the word "saya" instead of "gue" in several posts because I want to be more serious with some other posts on my blog in future.
Enjoy it :D

Dari awal bulan Oktober 2015 hingga September 2016 nanti, saya berkesempatan untuk menjadi pelajar yang tertukar mengikuti program pertukaran pelajar di sebuah kampus di Negara yang menjadi tanah air bagi Naruto dan Doraemon. Menjadi muslim di Negara minoritas ternyata memang benar-benar membutuhkan perjuangan seperti kata Hanum Rais di dalam bukunya “99 Cahaya di Langit Eropa”. Salah satu quote yang diulang berkali-kali di dalam buku tersebut adalah mengenai “..menjadi agen muslim yang baik”.

Bagi saya sendiri, “menjadi agen muslim yang baik” memiliki dua arti. Yang pertama adalah “menjadi agen muslim – yang baik” dan yang kedua adalah “menjadi – agen muslim yang baik”. Keduanya sama-sama menjadi agen muslim dan keduanya sama-sama menjadi baik. Tetapi jika ingin digabungkan maka keduanya akan bermuara pada menjadi seorang muslim yang menjalankan agamanya dengan baik serta berkehidupan dengan baik yang sesuai dengan tata-krama setempat.

Kalau kata Sudjiwo Tedjo,
“Cinta itu ga butuh pengorbanan. Ketika kamu merasa berkorban, maka ketika itu pula cintamu dipertanyakan”.
Tsaaaaah~. 

Maka dari itu, hidup setahun menjadi minoritas muslim bagi saya bukan merupakan pengorbanan, melainkan tantangan. Tantangan mengenai mana yang lebih kamu cintai apakah Tuhanmu atau image-mu, sedangkan image sekalipun adalah titipan-Nya. Lagipula, tantangan selalu menawarkan petualangan yang menarik, bukan?

Kita semua tahu bahwa shalat adalah tiang agama. Ada 5 waktu shalat dalam sehari yang wajib kita laksanakan, belum jika ditambah dengan waktu-waktu sunnah. Tak perlu ditanya lagi jika urusan mendirikan shalat ini menuai sangat banyak cerita.

Saya bersyukur bahwa kampus tempat saya exchange ini merupakan kampus dengan peringkat ke-15 se-Jepang[1] sehingga banyak mahasiswa asing yang juga berkuliah di sini. Di samping itu, sudah sekitar 20 tahun program exchange saya ini berlangsung sehingga banyak Sensei dan pegawai di International Office sudah berpengalaman menghadapi mahasiswa asing, termasuk asing dalam berbudaya dan ‘asing’ dalam beragama.

Pihak International Office bahkan sudah banyak yang tahu bahwa muslim harus shalat sebanyak 5 kali sehari, yang mana waktu Dzuhur dan Ashar seringkali harus dihabiskan di lingkungan kampus. Oleh International Office, kami (saya dan teman-teman muslim lainnya) ditunjukkan beberapa tempat untuk shalat. Di gedung yang biasa saya gunakan untuk kuliah, terdapat dua lokasi shalat di dua lantai berbeda yang ukurannya cukup untuk berjamaah sebanyak 3 orang. Pembatas ruangan kecil inipun hanya partisi beroda setinggi sekitar dua meter yang dapat digeser-geser. Di gedung lain, ada tempat shalat yang cukup luas karena sebenarnya tempat itu adalah lantai teratas gedung dan ada sepojokan area yang tidak berfungsi. 

Sejauh ini, Alhamdulillah, untuk urusan tempat shalat, saya di kampus tidak bermasalah.

Tantangan dari shalat di kampus adalah urusan wudhu. Berhubung bukan Negara mayoritas muslim, hal ini mengakibatkan tidak adanya tempat wudhu seperti di masjid/mushala Indonesia pada umumnya. Satu-satunya lokasi paling memungkinkan untuk wudhu adalah washtafel toilet. Terkadang Saya dan teman-teman muslim berwudhu di samping gadis Jepang yang sedang berdandan cantik. Malu? Ga usah ditanya *ketawa sedih di pojokan*. Paling banter kami hanya akan nyengir-nyengir polos ketika diamati dari kepala sampai kaki oleh mereka.

Tantangan dalam wudhu ini juga banyak, salah satu yang terberat adalah urusan membasuh kaki. Di sinilah perkara untuk “menjadi agen muslim yang baik” berperan. Di Jepang, semua air keran dapat langsung diminum sehingga bukan tidak mungkin apabila di toilet menyaksikan seseorang menampung air keran dengan tangan lalu meminumnya. Sehingga jika mau dipikir secara logika serta secara urusan pantas-tak pantas, sangat tidak sopan rasanya jika kami menaikkan kaki ke washtafel untuk mencuci kaki (apalagi jika dilihat orang Jepang).

Sampai pada titik ini, satu hal lagi yang perlu dikuasai untuk menjadi agen muslim yang baik yaitu ilmu. Bukankah Allah telah berjanji bahwa orang berilmu akan ditinggikan beberapa derajat? Hal ini didukung pula dengan kata-kata bijak mengenai anjuran menuntut ilmu dari sejak buaian ibu hingga ke liang lahat. Di samping itu, tidakkah kita tergiur dengan iming-iming mengenai pahala yang tak terputus dari ilmu kita yang bermanfaat?

“Allahumma yassir, walaa tu’assir”, Ya Allah, permudahlah dan jangan Engkau persulit. Bukankah jika tidak ada air bahkan Allah telah mengizinkan untuk tayamum? Sehingga sebenarnya ada air tapi kondisinya agak ribet bukanlah suatu masalah besar. Hal yang paling mungkin dilakukan adalah membasuh kaki (di luar washtafel) sebanyak tiga kali dengan tangan yang sudah dibasahi.

Selesai? Not that easy, guys.
Efek domino berikutnya adalah lantainya becek sehingga mau-tak mau harus dilap dengan tissue. Kadang jika airnya bercipratan ke mana-mana, ya dilap lah, mau bagaimana lagi.

Mungkin salah satu solusi yang paling solutif adalah menjaga wudhu. Di Jepang, kontak fisik sangat jarang terjadi. Bahasa tubuh ketika menyapa seseorang biasanya dilakukan dengan cara membungkuk sehingga batal wudhu karena bersentuhan dengan lawan jenis dapat diminimalisir.

Selesai? Not that easy, guys.
Saya orangnya mudah kebelet *ketawa sedih di pojokan*.

Tantangan shalat yang sebenarnya adalah ketika sedang berjalan-jalan demi mencoba menjadi anak gaul Ibukota. Jika ingin menghitung jumlah masjid se-Tokyo menggunakan jari tangan ditambah jari kaki, mungkin masih akan ada beberapa jari yang menganggur. Sedangkan tiap waktu shalat ada periodenya tersendiri dan waktu dalam sepanjang siang akan dapat habis dengan mudahnya hanya untuk menemukan masjid saja.

Di sini perkara untuk “menjadi agen muslim yang baik” kembali berperan. Bagaimana caranya “menjadi – agen muslim yang baik” sekaligus “menjadi agen muslim – yang baik”. Bagaimana caranya kita shalat di tempat selain masjid (re: tempat umum) tanpa mengganggu kepentingan umum.

Di sini pula terdapat urgensi untuk menuntut ilmu. Pada awalnya sempat terlintas pertanyaan, bagaimana jika kita shalat di pinggiran taman yang (bukan tidak mungkin) pernah dilewati anjing yang dibawa pemiliknya untuk jalan-jalan sore, bukankah liurnya najis?

“Allahumma yassir, walaa tu’assir”, Ya Allah, permudahlah dan jangan Engkau persulit. Bukankah bahkan najis di liur anjing akan hilang setelah dicuci sebanyak tujuh kali dan salah satunya dengan tanah? Sehingga sebenarnya perkara mengenai misteri adanya liur anjing yang mengenai tanah untuk shalat dapat terselesaikan.

Selain pinggiran taman, lokasi lain yang pernah saya jadikan tempat shalat ada banyak. Lokasi tersebut di antaranya adalah di pinggiran landmark suatu wilayah, di pelataran mall, di pinggir laut, di tempat parkiran sepeda, di dekat tangga darurat, di pojokan museum, di peron kereta bawah tanah, di dalam fitting room di department store, sampai di bawah pohon sakura.

Taktik shalat saya dan teman-teman muslim lain di tempat umum juga ada banyak. Salah satu yang menjadi favorit adalah tidak shalat semuanya dalam satu waktu, melainkan ada yang menunggu dan berjaga, untuk antisipasi jika ditegur satpam atau pihak berwenang lainnya. Sejauh ini pernah beberapa kali ditegur orang, Alhamdulillah berhasil menejelaskan dengan singkat dan mudah dimengerti. Beberapa orang yang telah diberikan penjelasan terlihat antusias, meskipun sebenarnya saya ragu apakah mereka benar-benar antusias atau memang tata krama di sini yang selalu curious jika menemukan hal baru.

Di tanah airnya Naruto dan Doraemon ini saya merasa bahagia dengan diri saya sendiri karena dapat istiqamah untuk shalat di waktu yang tepat meskipun tempatnya terkadang ditepat-tepati agar terasa tepat. Sepulangnya ke tanah air, sepertinya saya akan memperkecil excuse untuk diri sendiri dalam urusan ketepatan waktu shalat. Kokohnya tiang bangunan Islam ini masih jauh lebih indah untuk ditawar dengan image duniawi.

This is my story. My shalat, my adventure.
How about you?


Selasa, 19 April 2016

#MatahariAkar [Partner in Crime]

Jadi ceritanya selama di Tokyo ini gue telah menemukan seoang partner in crime, namanya Mbak Indri. Nama lengkapnya adalah Indria Wahyu Mulsanti. Dunia memang sangat sempit, Mbak Indri ini adalah adik bungsunya Bu Rini (laboran TIN), yang membuat makin sempit yakni Bu Rini adalah teman kuliah om gue (yang hanya selisih umurnya setahun di bawah Ibu) dahulu.

Bersenang-senang (I use the word 'bersenang-senang' instead of  'menggila') bersama Mbak Indri ini seru. Hal paling serunya adalah kami sama-sama suka makan. Kalau sedang badmood, kami dikasih makan juga bisa langsung jadi 'bener' lagi. Di samping itu, rentang makanan pilihan yang acceptable di lidah kami juga juga lumayan banyak (tapi nato tidak termasuk) sehingga urusan makan jadi lebih simpel. We live in Japan now, so why we should hardly try to find Indonesian food here.

Please remind me, someday I want to make post(s) about "What should you prepare for going abroad". I'm so sorry for my belepotan grammar.

Mbak, if someday you find this post, I swear, aku ga nulis yang aneh-aneh tentang dirimu.
Hehehe

Mbak Indri sering bilang bahwa doi ga bisa masak. Sesungguhnya masakan Mbak Indri enak, tapi doi males masak kalau mood-nya sedang ga sesuai. Mbak Indri juga hanya masak untuk memenuhi kebutuhan perut sendiri dan lebih memilih untuk ga masak untuk orang lain (mungkin juga karena aspek selera tiap orang yang beda dll). Sama persis kayak gue.

Selama Fall Semester kemarin tiap doi uring-uringan maka ga lama setelahnya kami akan berpetualang, haha. Work hard, play harder, coy. Kayaknya di Spring Semester ini kalau gue udah mulai uring-uringan, mungkin ga lama setelahnya kami akan berpetualang juga, hahaha.

Bagi gue yang anak sulung, bertemu Mbak Indri adalah serasa bertemu kakak. Bagi Mbak Indri yang anak bungsu, mungkin bertemu gue jadi serasa bertemu adik.

Ngobrol dengan Mbak Indri juga seru. Doi pernah bilang suka dengan cara gue yang mencoba membaca komposisi makanan tiap kali mau beli sesuatu karena di sini kami menemukan orang-orang yang tiap kali belanja itu hobi banget bertanya mengenai makanan yang ada di keranjang belanjaan kami, "Emang itu bisa dimakan?". Gue tau itu maksud sebenarnya baik, dia memastikan apakah ini bisa dimakan atau enggak, mengandung bahan tertentu yang kira-kira ga boleh atau enggak, but trust me sometimes in many cases that's very annoying. Logika sederhananya adalah kami ga akan dengan sengaja memakan makanan yang kami tau itu ga boleh dimakan. That's it.

Kalau inti obrolan waktu itu bersama Mbak Indri adalah,
"Itulah alasan kenapa Allah nyuruh kita untuk belajar. Biar punya ilmu. Trus dipakai ilmunya."
Belajar baca hiragana/katakana/kanji lalu dipakai ilmunya untuk baca komposisi produknya. Yang versi lebih canggih adalah install Google Translate, trus foto bagian yang mau diketahui artinya, tadaaaaa, muncul terjemahannya.
"Kamu kan di TIN, nah, jadi udah belajar juga kan proses pembuatan ini-itu"
Sehingga dapat meganalisa mana yang sekiranya proses pembuatannya melewati titik kritis kehalalan tertentu atau tidak.

Obrolan tersebut bagi gue sampai saat ini adalah obrolan paling menenangkan untuk urusan makan.

Kami hobi jalan-jalan, mulai dari yang tujuannya adalah memang untuk berjalan ataupun ada tujuan lainnya yang agak sedikit lebih jelas semisal untuk makan atau cuci mata. Salah satu pengalaman pertama kami makan berdua adalah makan sushi di sushi bar dekat Koganei Kouen. Itu adalah kali pertama Mbak Indri makan sushi tanpa ada senpai Indonesia lain yang lebih jago sekaligus kali pertama gue makan sushi. Hasilnya? Kami norak banget di tempat sushi, pakai acara ga tau bagaimana cara mengambil sushi di belt conveyor *aduh maaf ya ini penulisnya adalah anak industri yang kadang sering ga tau istilah 'normal'nya namanya apa* yang memutari restoran.

Perjalanan berdua yang entah kesekian kalinya ini agak sedikit lebih cerdas. Kami makan sushi di sushi bar lain. Kali ini kami makan ketika jam orang makan malam, alhasil antre-nya cukup panjang. Dengan bahasa Jepang yang belepotan, gue tanya ke kasir bagaimana caranya kalau kami mau makan, lalu mbak cantik di kasir itu menunjuk sebuah touchscreen tanpa ngasih tau apa-apa lagi. Mau nyambit ga itu rasanyaaaaaa T_T

Layar itu menggunakan bahasa Jepang lalu kami membaca dengan terbata-bata, haha. Inti besar dari touchscreen itu adalah mengonfirmasi berapa orang yang mau makan dan mau makan di mana apakah di counter atau di meja. Makan di counter serasa di kartun-kartun Jepang banget gitu, sushi akan berjalan menggunakan belt conveyor di depan meja kita dan kita tinggal comot gitu aja. Tapi sejauh ini kami selalu memilih makan di meja karena bisa sambil ngobrol (kalau di meja, belt conveyor-nya ada di samping meja). Ukuran meja makannya juga besar, pernah kami menyaksikan se-geng enam orang makan di meja. Da kami mah makan cuma duaan. Haha..

Hampir di tiap piring terdapat dua sushi, akhirnya tiap pesan suatu menu kami hanya pesan satu aja lalu sushi-nya dimakan berdua. Urusan bayarpun jadi agak sedikit lebih simpel, tinggal dibagi dua. Ini adalah hasil karya kami makan sushi dengan sukses.
Enam belas piring
((ENAM BELAS))

Karena penasaran, di lain kesempatan kami juga sempat berkelana ke Shinjuku untuk mencari ramen halal. Kami pergi di penghujung winter-permulaan spring. Kami berangkat dengan jaket winter dan pulangnya melepas jaket karena kegerahan, haha.
Ramen!! Yuhuuuu~

Pernah juga kami berkelana ke Asakusa dan setelahnya beli meron pan (roti melon). Sesungguhnya meron pan ini bukan roti rasa melon, melainkan hanya bentuknya saja menyerupai setengah melon. Di pinggir kios meron pan itu ada replika kue yang bisa dijadikan properti foto.
Maafkan ekspresi kami yang memang seperti ini

Kisah meron pan juga ga beda jauh dengan kisah ramen Shinjuku. Ujung-ujungnya kami lepas jaket karena dunia sudah mulai panas. Ga lama setelah meron pan, kami masih aja nyari ramen halal juga di sekitar sana.
Ramen (again), tapi beda tempat

Hampir setiap bersenang-senang dengan Mbak Indri, gue mengabari orang rumah. Kalau sudah begini, Ibu akan jadi orang yang paling senang karena yakin anaknya akan makan dengan cukup di hari itu.

Masih ada 6 bulan lagi sebelum gue pulang. Masih banyak juga wilayah yang menunggu untuk kami jelajahi. Semoga sepulangnya gue nanti Mbak Indri dapat menemukan orang lain yang bisa diajak untuk bersenang-senang lagi biar hidup jadi lebih berwarna.
Aamiin :)