Saya sehari-hari ga menyebut sebagai 'manifesting'. Saya sebutnya 'doa'.
Saya ga pernah berdoa, "Ya Allah, mau gaji dua digit".
Tau digit ga sih? Digit itu simbol angka penyusun pembentuk nilai bilangan.
2 digit? Berarti satuan dan puluhan.
Mau gaji dua digit apa? Per apa?
Dua digit rupiah? Per bulan?
Mau gaji 10 perak? 75 perak? atau berapa?
Sebenarnya pinginnya gaji puluhan juta kan. Itu delapan digit, broh. Padahal hanya beda satu syllable antara 'dua' dan 'delapan'. Se-mager itu kah untuk menambah satu suku kata di dalam doa? Berdoa kok mageran.
Berdoa aja ga mau effort tu gimana? Baru juga berdoa. Ga yang sampai ngasih sesajen/persembahan.
Berdoalah yang lengkap dan banyak lho besti.. yang muluk-muluk sekalian. Berdoa hingga kita tu gemetar, takut sekaligus berharap ini bisa terkabul atau tidak.
Lagipula, kenapa sih pada berdoa agar dapat gaji sekian dan sekian? Gajinya banyak tapi kebutuhannya lebih banyak kan artinya masih akan tetap kurang 😜.
Ada doa yang lebih kusukai,
"Ya Allah, jadikan aku berzakat delapan digit (rupiah) di tahun depan."
Artinyaaaaaaaa : Zakat 8 digit = minimal 10 juta rupiah = minimal aset/uang menganggur 400 juta.
Acuannya uang/aset menganggur ya. Jadi sudah selesai tu urusan bayar utang, ngasih ke ortu, bayar sekolah anak, bayar tagihan, dan bayar-bayar lainnya.
Berdoa dengan niat untuk berzakat juga aku meyakini ini sebagai cara untuk bilang ke Allah bahwa, "Ya Allah, aku ingat kewajibanku lho kalau aku punya rezeki lebih."
So, berdoalah yang lengkap dan banyak.
Jadi hamba aja kok berdoanya males dan sepotong-sepotong.
Memangnya kalau bukan karena dititipi oleh Allah, kita ini punya apa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar