Tampilkan postingan dengan label Cuma Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cuma Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Oktober 2026

Berdoalah yang Lengkap

Saya sehari-hari ga menyebut sebagai 'manifesting'. Saya sebutnya 'doa'.


Saya ga pernah berdoa, "Ya Allah, mau gaji dua digit".

Tau digit ga sih? Digit itu simbol angka penyusun pembentuk nilai bilangan.

2 digit? Berarti satuan dan puluhan.


Mau gaji dua digit apa? Per apa?

Dua digit rupiah? Per bulan?

Mau gaji 10 perak? 75 perak? atau berapa?


Sebenarnya pinginnya gaji puluhan juta kan. Itu delapan digit, broh. Padahal hanya beda satu syllable antara 'dua' dan 'delapan'. Se-mager itu kah untuk menambah satu suku kata di dalam doa? Berdoa kok mageran.

Berdoa aja ga mau effort tu gimana? Baru juga berdoa. Ga yang sampai ngasih sesajen/persembahan.

Berdoalah yang lengkap dan banyak lho besti.. yang muluk-muluk sekalian. Berdoa hingga kita tu gemetar, takut sekaligus berharap ini bisa terkabul atau tidak.


Lagipula, kenapa sih pada berdoa agar dapat gaji sekian dan sekian? Gajinya banyak tapi kebutuhannya lebih banyak kan artinya masih akan tetap kurang 😜.


Ada doa yang lebih kusukai,

"Ya Allah, jadikan aku berzakat delapan digit (rupiah) di tahun depan."

Artinyaaaaaaaa : Zakat 8 digit = minimal 10 juta rupiah = minimal aset/uang menganggur 400 juta.


Acuannya uang/aset menganggur ya. Jadi sudah selesai tu urusan bayar utang, ngasih ke ortu, bayar sekolah anak, bayar tagihan, dan bayar-bayar lainnya.

Berdoa dengan niat untuk berzakat juga aku meyakini ini sebagai cara untuk bilang ke Allah bahwa, "Ya Allah, aku ingat kewajibanku lho kalau aku punya rezeki lebih."


So, berdoalah yang lengkap dan banyak.

Jadi hamba aja kok berdoanya males dan sepotong-sepotong.

Memangnya kalau bukan karena dititipi oleh Allah, kita ini punya apa? 

Sabtu, 20 Desember 2025

Tidak Disukai

Bagaimana rasanya tidak disukai oleh sangat banyak orang?

Literally, SANGAT BANYAK (capslock jebol)..

Mungkin ada sebagian yang merasa : "Ah, gue melakukan hal yang benar, maka wajar kalau gue sendirian di jalan kebenaran sebagaimana nabi-nabi dan orang shalih terdahulu."

Ada juga yang merasa : "Ah, 'kelas' gue bukan di sini. Maka wajar orang-orang ga ngerti dengan style dan selera gue."

Atau memang simply ga ada yang merasa bahwa : "Mungkin gue yang salah. Gue harus evaluasi diri."

=======================================

Prinsip gue jelas :

Kalau 1-2 orang ga suka lu, ya itu wajar. Tapi kalau hampir seluruh orang ga suka lu, nah itu lu harusnya mikir ga sih?

Kalau lu tetap merasa 'si-paling-benar' sehingga ga disukai oleh orang-orang salah, ga pernah kah lu kepikiran untuk cari circle baru? Masa iya lu betah berada di circle yg isinya orang salah semua?

Kalau ada seorang atasan yang rekan satu tim-nya tingkat turnover-nya tinggi, apakah pasti timnya yg salah dan ga bisa achieve target? Atau..

(Silakan dipikir karena Allah sudah menganugerahkan otak untuk berpikir)

Rabu, 01 Oktober 2025

Akhirnya Paham

Aslinya gue tu suka kasian sama orang-orang yang jadi public enemy. Ga sekali-dua kali gue berusaha mencoba komunikasi atau berteman dengan orang-orang begitu, baik itu karena kasian atau karena penasaran.

Kadang ada yang sebenernya orangnya baik, tapi selera jokes-nya ga sama dengan lingkungannya, atau jarang ikut nongkrong karena ada kendala ekonomi, atau lainnya.

Tapi seringnya, berteman dengan public enemy membawa gue ke sebuah kesimpulan:

"Ooooh.. pantes dia jadi public enemy"

Kadang isi pikirannya memang kurang satu sendok 😅.

Jumat, 06 November 2020

Materi Kuliah Anak Shalihah

Kalau saya bikin IG story tentang materi 'kuliah' anak shalihah, suka ada aja yang nanya "Beneran lu ceritain hal-hal ilmiah itu ke anak lu?"

Jawabannya :

Ya beneran lah, wkwkwkwk

Ngapain juga bohong yekan


Biar anak shalihah pinter?

Bukan

Tapi biar anak shalihah senang belajar. Bahwa belajar itu bisa di mana saja, kapan saja, dengan hal-hal dan fenomena yang bahkan sangat sederhana.


Pinter itu hasil.

Senang belajar itu value.

Transkrip itu fana, wkwkwk.


Siapa yang udah pada lupa materi pelajaran SMP dan SMA? Atau bahkan materi kuliah?

Sama.

Saya juga udah lupa ke mana tau materi pelajaran SMP dan SMA di sekolah dulu. Tapi pelajaran yg saya eksplor sendiri di luar gedung sekolah, saya masih inget.


Sekolah di SMP dan SMA favorit di Bogor, kadang saya suka ga ngerti lagi kenapa temen-temen saya pada pinter. Alhasil banyak guru (tidak semuanya, ofkors) yang yaaaa masuk kelas cuma masuk doang, nyuruh menghapal, lalu nyuruh ujian. Banyak yang tidak benar-benar mengajar.

Bahkan guru biologi saya kelas XI pernah bilang di depan kelas yang intinya saya payah banget dalam menghapal. Masih kesumat kalo inget sekarang.

Tapi lain dengan materi di kuliah. Masih banyak materi kuliah yang saya bisa ingat dengan sangat baik up to this time. Dosen-dosen saya (semoga beliau semua selalu dirahmati Allah, aamin) mengajar dengan cara yang beda jauh dengan guru-guru ketika sekolah.

Beliau-beliau ini mengajar dengan contoh sederhana yang bisa ditemukan sehari-hari. Beliau menjelaskan tentang 'why' dan 'how' things work. Saya jadi merasa tertantang untuk eksplor lebih jauh. Mencari hal-hal sederhana dan mencari tau how they work.

Sederhananya, ketika SMA saya disuruh menghapal (di mata pelajaran biologi yang gurunya amsiyong tadi itu) bahwa laktosa terdiri dari glukosa dan galaktosa.

Apa saya ingat materi itu ketika SMA? Tentu tidak. Saya langganan remedial biologi. Makanya sampai dikatain oleh guru itu di depan kelas.

Tapi ketika kuliah, materi yang sama, dijelaskan bahwa ada anak-anak yang lactose intolerrant (bisa diare hebat kalau mengonsumsi laktosa) bisa dapat asupan kalsium salah satunya dari yogurt. Kenapa? Karena bakteri di yogurt sudah memecah laktosa pada susu menjadi glukosa dan galaktosa.

Apa saya ingat materi itu ketika kuliah? Alhamdulillah ingat dan masih ingat sampai sekarang. Buktinya masih bisa ngetik ini.

(Yaaaa mohon maap kalau salah-salah redaksi dan reaksi, intinya tapi begitu kan)

See?

Sama lho poinnya.

Tapi penyampaiannya beda.

Hasilnya beda.


Di samping itu, kalau belajar tentang ilmuwan-ilmuwan muslim, beliau semua itu paham multisubject. Memang Ibnu Sinna adalah bapak kedokteran, memang Al-Khawarizmi menemukan angka 0, dan memang-memang lainnya, tapi ilmu lain yang dikuasai juga super banyak serta mendalam.

Mimpi saya adalah menjadikan anak shalihah serta adik-adiknya paham multisubject dengan baik. Bisa menemukan how dan why dari hal-hal sederhana (dan kompleks) di kesehariannya. Ga membagi-bagi ilmu menjadi "itu matematika", "ini fisika", "itu biologi", dst.

Dan kalau kata dosen Agama Islam saya ketika TPB,

"Ayat Allah itu luas, bukan cuma Al-Quran, melainkan seluruh alam semesta ini juga ayat Allah."


Mudah-mudahan pahamnya anak shalihah (serta adik-adiknya) dengan banyak subject, serta kemampuannya belajar sendiri dan menarik korelasi dari banyak aspek, senantiasa membuat mereka ingat bahwa kompleksitas sesuatu itu sudah tentu diciptakan oleh Yang Maha Teliti.

Lagipula, ilmu yang berkah bukan yang ada di transkrip kan? Buktinya, penjahat kelas kakap banyak lho yang gelar akademisnya panjang.

Sependek pengetahuan saya, ilmu yang berkah adalah yang diingat, diamalkan, memberi manfaat, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Wallahu'alam bisshawab.

Rabu, 10 Juli 2019

Parenting

Bagaimana cara menjadi anak yang baik di mata orang tua?
Gampang..
Cukup jadi anak yang penurut.

Bagaimana cara menjadi orang tua yang baik di mata anak?
Dengan meng-iya-kan seluruh keinginan anak biar anak ga nangis?
Dengan membuat rencana hidup anak yang baik menurut kita? Agar anak kita sukses (menurut kita)?
Nope.

Cara menjadi orang tua yang baik ini yang ga gampang.

Makanya cara membesarkan anak itu namanya 'Parenting', bukan 'Childening'. Cara membesarkan anak itu adalah cara kita menjadi orang tua yang baik.

Baik di sini maksudnya adalah memberikan fasilitas semampu yang orang tua mampu usahakan (dengan halal of course), mengajarkan anak sesuai kaidah agama tanpa melanggar nilai-nilai hukum dan norma di masyarakat, agar anak sukses dunia akhirat (ya pandangan cetek gue yang belum punya anak sih begono).

Kalau someday anak kita kelakuannya ga seperti yang kita harapkan. Harusnya kita yang introspeksi, apakah kita sudah membesarkan dia sesuai minat, bakat, kemampuan, dan kepribadiannya?

Berikutnya,
Bagi para orang tua, sudah berapa lama kah kalian menjadi orang tua?
Seumur hidup kalian?
Nope.

Jawabannya adalah seumur anak pertama kalian.

Jadi, kalau merasa udah berumur 57 tahun dan anak pertama kalian baru 26 tahun, jangan merasa kalian udah jadi orang tua selama 57 tahun. CATET.

Kalian baru jadi orang tua selama 26 tahun. CATET.

Zaman berubah.
Hidup lebih lama tidak berarti lebih paham.

Kalian pernah muda,
Tapi bukan muda di zaman anak kalian menghabiskan masa muda.

Kalian pernah muda,
Tapi apa masih ingat rasanya?

Senin, 21 Januari 2019

Beda Prinsip

Sampai saat ini gue selalu ga abis pikir kalau menemukan foto bridal shower yang calon pengantinnya didandanin sampai jelek.

Kalau makan-makan di tempat mahal masih oke lah (uangnya juga ga minta ke gue kan yhaaa) as long as makannya dihabiskan, tidak malah dibuang-buang, tidak malah dipeper-peperin ke calon pengantinnya.

Karena menurut yang gue pelajari, mubadzir (orang yang menghambur-hambur, in this case adalah make up dan/atau makanan) adalah saudaranya syaitan, dan syaitan itu sangat ingkar kepada tuhannya.

Atas nikmat-Nya yang sebanyak ini, masa masih mau jadi ciptaan yang ingkar?

Untungnya lingkaran pertemanan terdekat gue ga seperti itu. Kalau ada, insya Allah akan gue ingatkan.

Tapi kalau yang berkelakuan begitu bukan lingkaran terdekat gue, rasanya semacam lemah iman aja, cuma bisa mengingkari dalam hati.

Kadang memang trend itu ga berjalan lurus dengan hati nurani. Bersyukurlah gue masih risih melihat yang kayak gitu. Semoga dijaga oleh Allah agar tetap halus hatinya sampai nanti, tetap yakin bahwa yang benar itu benar, dan yang salah itu salah, karena ga ada yang lebih mahal daripada hidayah Allah, aamiin.

Rabu, 21 November 2018

What People Talk About When They Talk About Business

Ketika kuliah dulu gue sempat mendapat materi mengenai bisnis, marketing, dan sahabat-sahabatnya. Salah satu dosen berkata bahwa,
"When we talk talk about industry/business/company, then we talk about about profit and money."

Awalnya gue berpikir,
"Ebuset, kapitalis amat."

Tapi dosen tersebut menjelaskan lebih lanjut. Bahwa (semisal) sebuah industri mengajukan sertifikasi FSC (misal nih ya.. misal..), yaaaa berarti ujung-ujungnya industri tersebut dapat mempromosikan produknya sebagai produk yang sudah tersertifikasi sumber kayunya sehingga meng-klaim diri sebagai industri yang lebih 'perhatian' terhadap lingkungan, dan lain-lainnya. Kalau suatu brand mengklaim fair trade, ya berarti produk yang dijual tersebut dipromosikan sebagai produk yang tidak menzalimi produsen, tidak mengeksploitasi tenaga kerja, bahan baku dibeli dengan harga wajar, dan sejenisnya. Serta sertifikasi serta standar-standar lainnya, ujung-ujungnya sih memang ternyata membuat citra baik perusahaan, sehingga customer menjadi loyal.

Hingga pada akhirnya these days kok ya rasanya gue mulai perlu ilmu buat ber-make-up. Kalau ibarat kuliah, gue cuma butuh mata kuliah "Dandan 101, Dasar-dasar Make Up" doang (101 maksudnya adalah mata kuliah di perkuliahan tingkat dasar gitu). Make up ala kadarnya aja, asalkan pantes untuk dibawa marathon kondangan hampir tiap pekan.

Lalu gue mulai mencari-cari kelas make up murah-meriah. Ada beberapa list yang masuk ke dalam pertimbangan gue, salah satunya adalah brand kosmetik muslimah dengan tagline "Halal" dan "Inspiring Beauty", sebut saja brand Mawar.
Hint: Terjemahkan kata 'Mawar' ke dalam bahasa Arab, maka anda akan menemukan artinya bahwa gue bukan asal comot nama kembang.

Brand Mawar ini punya akun IG untuk beauty house-nya yang di Bogor, lalu dengan budimannya gue follow untuk mengetahui jadwal-jadwal dan detail kelas make up-nya seperti apa. Meskipun muka gue selalu jerawatan tiap abis pakai Mawar ini, yaaa setidaknya gue akan dapat ilmu make up-nya lah. Ilmu make up-an yang proper ga apa-apa lah ditukar dengan jerawatan seminggu.

Btw, ada cerita sampingan tentang gue dan brand Mawar ini.
Suatu hari gue mencari bedak favorit gue di sebuah drugstore di mall paling hitz se-Cibinong Raya. Eh etalase brand bedak favorit gue ini sebelahan dengan brand Mawar. Begitu gue mulai mendekat, mulai lah sang SPG Mawar mempromosikan produknya. Merasa ga butuh (lha wong gue ngincer bedak di etalase sebelahnya), gue tolak dong. Eh, si mbaknya pantang menyerah, men, masih terus menerus mempromosikan bedaknya. Lalu karena males, gue bilang lah apa adanya, "Saya selalu jerawatan kalau pakai brand Mawar buat di muka. Saya cuma cocok sama minyak wanginya doang."

Daaaaaaaaan..
Tebak apa yang dikatakan si mbak SPG-nya..
"Mbaknya cuci muka ga bersih, kali.."
Amsyong.
Ingin ku berkata kasar.
Makin-makin lah gue ogah beli brand itu.

Kembali ke "Dandan 101, Dasar-dasar Make Up"
Dengan tagline "Halal" yang diusung, wajar dong kalau gue berpikir brand ini sangat Islami. Mulai lah gue mantengin IG beauty house-nya. Hingga pada akhirnya, ada story mengenai kelas make up yang dilaksanakan pada hari itu. Ketika gue cek..
Jeng.. jeng.. jeng..
Ada foto orang-orang yang sedang berdandan.

Mau lebih dramatis?
Mana ada sih orang berdandan pakai jilbab lengkap?

Itu lah horor story versi gue.

Lalu gue berusaha mengamalkan surat Al-Ashr dong, menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Gue reply lah story tersebut, gue mengatakan bahwa ada aurat saudari kita yang terbuka di story itu dan harapannya admin dapat lebih bijak dalam mengepos sesuatu di sosmed. Message gue sih dibaca, tapi story itu tetap tidak dihapus oleh adminnya. Meskipun hilang dalam 24 jam, but it does matter kalau bagi gue mah.

Finally, what DO people talk when they talk about business is : Profit.
No doubt.
They don't really care whether aurat saudarinya terbuka atau tidak.
Lalu gue mendadak hilang minat dengan beauty class, biarlah dandanan gue tiap kondangan gini-gini aja. Gue lebih memilih menjaga apa yang harus gue jaga.

Simpulan:
Pada akhirnya, cantik adalah titipan. Tugas kita adalah menjaga titipan ini dengan cara yang baik dan sesuai dengan tuntunan yang lebih fundamental yaitu Al-Quran dan Al-Hadist.

Epilog:
Lalu gue meng-unfol akun IG beauty house tersebut pada akhir Agustus 2018 karena akun ini memajang begitu saja foto-foto muslimah sedang ber-make up sambil lepas jilbab di acara make up class lainnya (itu dipost di feed btw, bukan di story seperti kasus sebelumnya). Sampai saat ini gue belum mem-follow lagi dan mohon maaf jika ternyata keadaan saat ini sudah tidak seperti di akhir Agustus lalu. Sesungguhnya tulisan ini bukan berniat untuk pencemaran nama baik, melainkan hanya menulis keresahan semata, bahwa ternyata apa yang kita anggap penting belum tentu jadi penting buat orang lain.

Selasa, 02 Oktober 2018

When People Determine about How Should a Bride Look Alike

Kadang gue suka bingung dengan kata-kata orang ketika datang ke suatu acara nikahan dan melihat mempelai wanitanya,
"Ih, pangling. Cantik ya."

Pangling
pang.ling
Verba : tidak mengenali lagi

Cantik
can.tik
Ajektiva : elok, molek (tentang wajah, muka perempuan)

Dengan adanya kata-kata ini, gue jadi punya beberapa pemikiran lebih lanjut.
Kondisi 1 : Si manten tidak dikenali (pangling).
Kondisi 2 : Si manten cantik.
Simpulan : Kalau si manten menjadi apa adanya dia (dikenali), berarti dia ga cantik.

Am I right?

Gue pribadi kadang suka ga abis pikir dengan salon/MUA yang mendadani manten sehingga menjadi oh-men-buset-itu-jauh-amat-sama-orang-aslinya. Orang-orang rasanya punya standar cantik yang sama untuk pengantin wanita:
  • Putih (masa bodoh dengan muka yang putih tapi warnanya belang dengan leher),
  • Alis dengan sudut dan ketebalan tertentu (yang alisnya terlalu tebal jadi banyak yang dicukur, padahal bukannya ga boleh oleh agama?),
  • Pipi dengan ketirusan tertentu,
  • Warna iris yang bukan hitam (meeeen, kita orang Asia Tenggara, warna kulit sawo matang tapi warna mata abu-abu cerah kan agak maksa ya?).

Padahal kan kalau kata Cherrybelle mah,

"..You are beautiful,
Beautiful,
Beautiful,
Kamu cantik, cantik, apa adanya.."

Pertanyaannya, siapa sih perempuan yang ga mau dibilang cantik?
Semua pasti mau kan?

Pertanyaan berikutnya,
Mau ga sih kalau dibilang cantik tapi karena ga mirip kita?
Kalau gue kok lebih bahagia dibilang cantik aja, tanpa mirip siapa-siapa.

Terkait dandan-dandanan nikah, gue juga akhirnya jadi punya kriteria mau yang seperti apa. Hal terbesarnya adalah gue mau kok jadi cantik, asalkan cantik itu tetap terlihat seperti gue.

Pada akhirnya, setelah iseng-iseng buka akun IG banyak MUA dan banyak banget yang hasinya lebay, gue jadi menentukan sendiri beberapa kriteria mengenai "How I Want To Be on My Wedding Day", di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Jilbab menutupi dada
Tanpa tapi.

2. Warna bedak yang tidak terlalu putih
Gue sadar dengan sepenuh hati bawa warna kulit gue adalah sawo yang kelewat matang. Lagipula, koplak ga sih ketika tangan gue warnanya macam tangan-driver-ojol-yang-sering-bawa-motor-di-jalan-dan-lupa-pakai-sarung-tangan, tapi mukanya putih?

3. Bentuk alis yang natural
Ga kayak ulat bulu yang terlalu tebal di depan (karena bagi gue alis model gitu 'palsu' banget dan jadi aneh). Ga dicukur-cukur juga, alis gue udah ngepas jadi ga usah lah dicukur lagi. Alis gue memang agak terlalu tipis di bagian pinggir, but what's wrong with that?

4. Lipstick yang ga kayak orang abis makan gorengan
Dilap dulu ya, ceu, kalau abis makan gorengan.
Apa purpose-nya coba ya pakai lipstick macem orang yang abis makan gorengan gini?

5. Tidak menggunakan heels yang terlalu tinggi
Gue bahkan punya preferensi sendiri yaitu wedges dengan tinggi maksimal 5 cm. Makin teplek, makin baik.
Why?
Karena tinggi gue sudah 165 cm.

Apakah ga aneh kalau ada mempelai perempuan pakai sepatu teplek di hari pernikahannya?
Let's be realistic.
What's the purpose of wearing heels? Untuk terlihat tinggi kan?
Gue sudah cukup tinggi. So, what else?

Besides, I just want to be comfort in my big day.
Gue ga nyaman pakai heels yang terlalu tinggi. Gue hanya ingin menikmati hari pernikahan gue tanpa perlu terlalu banyak memusingkan kaki yang pegal karena sepatu yang tidak nyaman.

Dan hal paling pentingnya adalah..
6. Gue mau pakai kacamata
Jangankan disuruh pakai contact lens, pakai obat tetes mata aja gue hampir selalu berkedip sepersekian detik sebelum cairannya masuk mata. Lagipula, mata gue ada minus dan silindrisnya. Minusnya besar pula. Setahu gue, kedua hal itu bukanlah kombinasi yang baik untuk harga sepasang softlens. Daripada ga bisa melihat dengan nyaman di hari bahagia, lebih baik gue pakai kacamata aja kayaknya.

"Softlens-nya bukan buat minus keleees, tapi buat warna mata yang beda."
Yakali. Terus gue melihat sepanjang hari dengan pandangan kabur-membayang?
Gue sih ogah.
Terima kasih.
Selaput pelangi mata saya warnanya sudah coklat kok dari dulu.
At the end, I just wanna be myself, dan gue rasa kacamata adalah salah satu ciri yang gue banget.

Simpulan barokah:
Ayo cari MUA/salon mana yang mau memfasilitasi customer banyak mau macem gue.
:)

Minggu, 31 Desember 2017

Sesuatu Mengenai Pekerjaan dan Tempat Di Mana Kamu Bekerja

"Jangan meludah di sumur yang airnya kamu minum."
Kusumah ASW, 2017.

Kisah 1
Pekan terakhir di 2017 ini gue habiskan dengan agenda audit eksternal kantor pada tanggal 26-28 Desember. Sejak akhir November gue sering banget lembur demi mengurus kelengkapan berkas audit. Audit ini diminta oleh salah satu customer sebagai pertimbangan untuk kelangsungan order tahun depan. Jika hasil auditnya bagus, maka besar kemungkinan order akan bertambah. And maybe, vice versa.

Sedihnnya, ternyata hasil audit kemarin tidak sesuai ekspektasi. Ada banyak temuan selama audit, sampai-sampai gue aja bingung tamu yang datang itu sebenarnya auditor atau penemu *ga lucu, Dil, sumpeh*. Secara kelengkapan berkas sih overall baik-baik aja, tetapi auditornya melakukan random sampling dan memanggil beberapa puluh karyawan untuk diwawancara . And here the story goes..

Perusahaan tempat gue bekerja itu duluuuuuu banget peraturannya shantay kayak di pantay. Karyawan bisa lembur kapan aja, which bekerja pada jam lembur itu dibayar lebih banyak daripada bekerja pada jam kerja biasa. Setelah berganti GM jadi yang sebelum sekarang, mulailah hal-hal macam itu diperbaiki. Perusahaan jadi lebih sehat secara bisnis, tapi ga sehat bagi pendapatan sebagian karyawan yang sebelumnya sangat mengandalkan kondisi bisa lembur kapan aja.

Singkat cerita, dari beberapa puluh karyawan yang kena random sampling oleh auditor itu (entah berapa banyak) ada yang malah jadi curhat kebablasan-tapi-salah-tempat-dan-malah-ngomong-ke-sana-ke-mari tentang betapa perusahaan sekarang begini dan begitu. Mereka membandingkan dengan kondisi di masa-masa lampau di mana mereka bisa dapat hak-hak dengan terlalu bebas dan kesimpulan besar auditor adalah peraturan perusahaan jaman now itu mempersulit karyawan untuk mendapatkan haknya. Sesungguhnya pada kondisi sekarangpun hak-hak yang katanya sulit didapat itu sebenarnya bisa didapat, cuma tentu saja dengan menyertakan beberapa kewajiban berupa syarat-syarat berkas yang harus dipenuhi, agar bisa diverifikasi dan divalidasi. Walhasil ya gitu deh. Bahkan sempat terlontar kata-kata yang setara dengan "dzalim" selama closing meeting audit.

Selama closing meeting audit kemarin, gue yang udah hampir setahun kerja, baru pertama kali melihat Ibu GM gue kayak gitu. Paduan antara kesel, sedih, bete, dan mau marah. Fyi, gue sangat respek dengan Ibu GM gue. Gue menganggap beliau sebagai paduan antara nyokap dan kakak perempuan. Paragraf ini hanya untuk menggambarkan bawa betapa hasil audit kemarin itu super huft banget lah.

Pada daily standing meeting keesokan harinya, Bu GM memaparkan secara singkat hasil audit sambil cerita juga bahwa beliau kesel, sedih, dan mau marah tapi ga bisa. Sampai-sampai beliau melontarkan kalimat kurang-lebih seperti ini,
"Kalau kalian udah di-training oleh perusahaan, terus merasa jago, merasa bisa, boleh kok kalau mau pindah ke I**o***e*, saya ga larang."

Men..
Denger GM sendiri yang ngomong kayak gitu tuh sedih rasanya. Mekipun gue tau bahwa kalimat itu bukan buat gue, tapi tetep sedih aja dengernya.

Karena gue anaknya gampang tersentuh hatinya (tapi default mukanya jutek, jadi kadang suka ga match gitu), seusai standing meeting itu gue menceritakan kisah selama standing meeting tersebut kepada bapak-(atau lebih tepatnya mas)-sedivisi-yang-duduk-persis-di-samping-gue. Lalu, beliau mengeluarkan suatu kalimat super keren untuk kasus kemarin ini. Kalimatnya sudah gue kutip di bagian teratas tulisan ini.


Kisah 2
Tidak berbeda jauh dengan Kisah 1. Kali ini yang banyak menjadi pelakunya adalah generasi millenials yang paling-paling hanya terpaut 5 angkatan (ke atas dan ke bawah) dari gue.

Sudah bukan sekali-dua-kali gue scrolling timeline dan menemukan keluhan-keluhan mengenai kantor tempat seseorang bekerja. Ya gajinya lah, ya jam kerjanya lah, ya bosnya semena-mena lah, ya teman kantornya cari muka atau nyinyir lah, dan berbagai kondisi lain.

Ada pula momen tidak mengeluh, tapi mengasosiasikan dirinya sendiri menjadi sesuatu yang "Kok itu terdengar seperti ga bersyukur amat sih, Ya Allah". Ya budak korporat lah, ya TKI/TKW dalam negeri lah, dan frase-frase sejenis yang mengindikasikan bahwa yang bersangkutan kok sebegitu ga sukanya dengan pekerjaannya sekarang.


Pembahasan
Maaf kalau gue kurang mumpuni untuk menasihati, tapi salah satu tugas manusia adalah untuk "Saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran" kan? Untuk manusia-manusia macam itu, nasihat gue biasanya cuma dua:
1. Kalau udah ga tahan, sono keluar dan cari company lain.
2. Tapi kalau karena satu dan lain hal ga mau keluar, ya belajar lah untuk sabar dan bersyukur dengan kerjaan yang ada sekarang.

It sounds basi sih, tapi (hampir) pasti akan ada orang yang mau dengan senang hati menempati posisi kerja lu sekarang dengan gaji yang segitu, dengan jam kerja yang begitu, dengan bos kayak gitu. Ga percaya? Coba aja tanyain kepada para job hunter yang aktivitas sehari-harinya keluar-masuk jobfair.

Ada kita yang capek, kesel, dan sebel dengan kerjaan kita sekarang. Tapi percayalah bahwa ada orang yang capek, kesel, dan sebel karena udah ngelamar kerja ke sana ke mari tapi belum tembus-tembus juga.

Jangan meludah di sumur yang airnya kamu minum.
Jangan menjelek-jelekkan perusahaan yang jadi sumber nafkah kita. Apalagi kalau menjelek-jelekannya ke orang lain di luar perusahaan, atau di sosmed, atau malah ke auditor.

Dengan menulis ini bukan berarti gue ga pernah mengeluhkan sesuatu tentang kantor tempat gue bekerja. Gue mengeluh, tapi gue pilih-pilih orang buat cerita. Gue ga cerita ke semua orang. Gue juga ga cerita di sosmed (sori nih, gue selalu menganggap blog bukan sebagai sosmed, hehe).

Lalu kalau sudah begitu ya seperti ketika gue menasihati orang lain, gue juga menasihati diri sendiri. "Sono gih buka-buka web lowongan kerja kalau udah ga betah sama kerjaan sekarang. Kalau belum nemu kerjaan yang pas, yaudah diem, kerja aja yang bener, jangan ngeluh melulu."

Sebagai muslim, kadang kita (gue) suka lupa bahwa ada sesuatu yang (insya Allah) bernilai abadi di dunia ini. Ikhlasnya kita, ikhtiarnya kita, tawakkalnya kita, syukurnya kita, sabarnya kita, itu nilainya (insya Allah) abadi dan akan dibalas dengan hal baik pula. Sebaliknya juga gitu, kufurnya kita, mengeluhnya kita, males-malesannya kita sehingga makan gaji buta, itu juga nanti akan dimintai pertanggungjawaban, naudzubillah.
Iya kan ya?


Simpulan
(Nah, ini nih bagian tersulit bagi gue tiap nulis blog)

Biasanya simpulan tulisan gue sudah bisa didapatkan dari judul atau kalimat-kalimat di awal tulisan. Simpulan tulisan kali ini adalah kutipan dari teman kantor gue di atas. Sila scroll lagi ke atas untuk menemukannya.


Epilog
Anyway, tulisan terakhir gue di tahun 2017 ini ada kemajuan ya. Topiknya (alhamdulillah) 'bener'.
Hehehe.

Cheers!!
:)

Sabtu, 18 November 2017

Lebih Baik Sakit Hati

Mungkin Meggy Z ketika dahulu menggubah lagu "Lebih Baik Sakit Gigi" belum pernah merasakan tumbuh gigi bungsu sebelah kiri, atas dan bawah sekaligus. Lalu pipi bagian dalam beberapa kali tergigit tak sengaja selama proses tumbuhnya kedua gigi itu dan sekarang malah sariawan dua buah.

Kalau bagi gue,
"...
Daripada sakit gigi,
Lebih baik sakit hati ini,
Biar tak mengapa
..."

Setelah gue analisa, ada hal menarik di balik mengapa gue memilih untuk lebih baik sakit hati.

(Anyway, sebagaimana pernah gue paparkan sebelumnya, semenjak tinggal di Jepang gue jadi memiliki hobi untuk memikirkan hal-hal yang "Plis deh, Dil, lu mikirin hal begituan?". Beberapa hal ini biasanya remeh dan berujung pada hal bermutu. Akan tetapi, sangat banyak sisanya merupakan hal remeh yang menjadi tetap remeh, hahaha. Luckily, topik ini agak berbobot lah buat dibahas. Ga remeh-remeh amat.)

Jadi gini, satu hal besar yang gue pelajari selama setahun tinggal di perantauan adalah bahagia itu datangnya dari hati dan pikiran, vice versa. Dua hal paling memungkinkan yang bisa dikontrol oleh manusia adalah hati dan pikirannya. Seriusan deh. Sehingga, apa-apa yang ada di hati dan pikiran itu supposed to be bisa dikondisikan.

Contoh mudahnya, kita bisa memilih untuk #bahagiaitusederhana dengan siapa, kita bisa memilih untuk melapangkan hati kepada siapa, kita bisa memilih untuk memaafkan siapa, kita bisa memilih untuk tetap optimis atau enggak, and so on. Berlaku sebaliknya, kita bisa juga kesal kabina-bina dengan seseorang padahal kesalahannya sepele banget.

Akar masalah dari sakit hati itu biasanya ga banyak. Salah satu alasan besarnya adalah kecewa. Nah kenapa seseorang bisa kecewa? Secara sotoy, gue mendefiniskan kecewa sebagai gap antara ekspektasi dengan realita. Biasanya ekspektasinya lebih tinggi daripada realita, makanya kecewa.

Kalau kita sakit hati karena ada orang ngomongnya nyelekit, berarti awalnya kita berekspektasi bahwa si orang itu ngomongnya ga nyelekit. Kalau kita sakit hati karena diomongin di belakang, berarti awalnya kita berekspektasi bahwa kita ga diomongin di belakang. Kalau kita sakit hati karena dibaikin eh taunya dia ga naksir kita, berarti awalnya kita berekspektasi bahwa dia baik karena dia naksir sama kita.

Jadi sebenarnya, salah satu obat untuk sakit hati yaitu jangan ngarep.
Atau lebih spesifiknya, jangan ngarep sama makhluk. Kalau mau ngarep, sekalian aja lah kepada Sang Tempat Berharap.

Sehingga pada akhirnya, sakit hati itu bisa perlahan menghilang kalau kita belajar untuk tidak ngarep, belajar untuk mencoba menerima keadaan, belajar mencoba melapangkan hati, dan belajar mencoba bersyukur. Semua hal-hal itu bisa kita kondisikan. Semua hal-hal itu bisa selesai hanya dengan 'bermodalkan diri sendiri'.

For short, luka nonfisik semacam sakit hati ini adalah luka yang tak perlu ada. Luka nonfisik adalah luka yang bisa kita kondisikan. Luka nonfisik ini adalah luka yang tak perlu ada jika hati dan pikiran kita dapat terkondisikan dengan baik.

Nah, bagaimanakah kasus untuk luka fisik (dalam kasus gue adalah sakit gigi dan sariawan selama hampir seminggu)?
Biar mudahnya, bagi gue, luka fisik ini adalah luka yang memang perlu ada. Luka fisik ini adalah luka yang ga bisa kita kondisikan apakah mau sakit atau enggak, apakah mau berdarah atau enggak, apakah mau cepat sembuhnya atau enggak.

Karena luka fisik ini punya banyak variabel, maka akan ada variabel yang bisa kita kontrol dan ada yang enggak. Contoh gampangnya gini, adakah hubungan antara pemberian obat merah dengan kecepatan sembuh luka? Apakah semakin banyak kita memberikan obat merah maka luka juga semakin cepat sembuh? Kan enggak juga. Yaaaa, mungkin ada sih, tapi sepertinya ga berlaku secara matematis. Misal kita teteskan obat merah 4 tetes tiap hari, maka luka sembuh dalam 4 hari. Nah, jika kita teteskan 8 tetes per hari, apakah akan sembuh dalam 2 hari? Atau ketika kita siramkan sebotol maka langsung sembuh? Kan belum tentu. Maka dari itu gue bilang bahwa luka fisik ini adalah luka yang memang perlu ada dan hal menyebalkannya adalah kita ga bisa kontrol. Luka fisik ini adalah luka yang kita tidak punya power atas hal itu. (Atau sebenarnya kita punya power, yaitu sebatas memperkecil kemungkinan terjadinya luka itu).

Pada dasarnya, manusia itu senang ketika punya power. Bahkan, dari sebuah buku yang pernah gue baca, tombol untuk menutup pintu di lift itu sebenarnya ga ada gunanya. Tombol untuk membuka pintu lift lebih lama itu ada gunanya, of course. Manusia senang ketika menekan tombol itu dan merasa punya power untuk menahan agar pintu lift terbuka lebih lama. Tapi tombol untuk menutup pintu lift itu semata-mata didesain untuk kesenangan manusia. Manusia merasa senang ketika merasa punya power dan berhasil membuat pintu lift menutup saat menekan tombol itu, padahal si pintu lift itu hanya mengerjakan tugas alaminya untuk menutup, dengan atau tanpa tombol itu ditekan.
Yeah, you've being fooled, human. Lol.

Sehingga,
Gue sadar bahwa gue ga punya power untuk mengendalikan syaraf reseptor rasa sakit di gusi gue untuk ga bekerja dulu selama beberapa saat agar gue tidak sakit.
Tapi gue merasa punya power atas hati dan pikiran gue, maka dari itu gue memilih untuk lebih baik sakit hati.
:)

Jumat, 30 Juni 2017

Tidurnya Orang Berpuasa

Mungkin kita sudah tidak asing dengan penggalan hadist yang berbunyi,
"Tidurnya orang puasa adalah ibadah.."
Terlepas dari sanad-nya yang ternyata lemah, sejujurnya saya sering geregetan dengan hadist itu. Atau lebih tepatnya dengan orang-orang yang menerjemahkan hadist itu sesuka hatinya.

Ga dipungkiri, banyak orang Indonesia (karena muslim di Jepang yang gue amati tahun lalu rasanya ga se-malas-malas muslim di Indonesia deh) yang selama Ramadhan memilih untuk malas-malasan dan tidur seharian, dengan dalih bahwa tidurnya orang berpuasa itu berpahala.

But for me, could you please find another point of view?
Kalau kegiatan yang 'sesepele' tidur aja berpahala, apalagi kegiatan yang lebih-tidak-sepele? Misal menuntut ilmu, mencari nafkah, berlelah-lelah menyiapkan materi sanlat untuk masjid kompleks, bebersih rumah karena Si Mbak mudik, and so on. Wallahu'alam, mungkin pahalanya lebih besar karena effort yang dikeluarkannya lebih besar.

Ramadhan 2 Hijriyah, kaum muslimin Perang Badar, men.
Pantes aja zaman Rasul dulu itu jadi generasi terbaik kaum muslimin.

Saya sih Insya Allah ga tidur seharian gitu selama Ramadhan, tapi ya kadang ga seproduktif yang diharapkan. Semata-mata nulis ini untuk me-release keresahan aja, sekaligus mengingatkan diri sendiri. Yuk ah, nabung bekal semangat buat Ramadhan tahun depan, berusaha jadi generasi terbaik juga.

Jumat, 13 Januari 2017

Aksi Mahasiswa

Preface
Gue terlalu geregetan untuk ga nulis apapun terkait aksi mahasiswa 12 Januari 2016 kemarin. Sesungguhnya ide menulis ini sudah ada sejak pertama kali dengar mau ada aksi, tapi apa daya baru berhasil diselesaikan sekarang.

Let's begin.
Kalau kata Bung Karno mah,
Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia
Ini artinya apa? Artinya adalah pemuda itu aset. Masa muda itu merupakan aset. Maka jangan heran kalau dunia mengharapkan para pemuda banyak melakukan hal besar.

Pertama-tama, bagi gue aksi itu sesuai dengan arti harfiahnya; bergerak, melakukan sesuatu, tidak berpangku tangan. Kemudian sebagai mahasiswa, gue menghormati dua tipe mahasiswa berdasarkan jenis aksi yang biasa mereka kerjakan.

Tipe 1
Mahasiswa tipe 1 ini adalah teman-teman yang demen bergerak di bidang akademik. Teman-teman kita ini percaya bahwa amanah utama mereka dikirim orang tuanya ke perantauan adalah untuk belajar. Ini yang bener. Bener banget malah. Alhasil mereka belajar dengan rajin, pada jago bahasa Inggris, rajin bikin paper, ikut conference atau lomba yang bukan tidak mungkin skalanya mencapai skala internasional *intergalaksi juga dijabanin mungkin kalau ada*. Teman-teman ini berharap bahwa ilmu yang mereka peroleh sampai intergalaksi itu di masa depan dapat bermanfaat untuk membangun Indonesia ke arah yang lebih baik.
Ayo bilang aamiin rame-rame.

Tipe 2
Mahasiswa tipe 2 ini biasanya adalah teman-teman yang ikutan organisasi. Biasanya gerakannya spesifik ke arah kemasyarakatan/kemanusiaan, sosial, dan politik. Tidak sedikit aksi nyata teman-teman tipe 2 ini yang hasilnya dapat terlihat dalam waktu relatif singkat misal kegiatan turun ke desa, pengabdian masyarakat, pendampingan UMKM, sampai aksi mahasiswa mengajar ke daerah-daerah sekitar kampusnya. Banyak dari teman-teman kita ini (khususnya yang kuliah di PTN) berpendapat bahwa mereka bisa berkuliah karena salah-satunya ada peran pajak untuk menyubsidi biaya sehingga dapat dijangkau. Which is pajak itu dibayarkan oleh seluruh rakyat Indonesia, termasuk warga yang berada dalam katagori kurang mampu. Maka ketika ada rakyat yang merasa tertindas (misal karena harga bahan-bahan pada naik [ya kurang-lebih penyebab aksi kali ini lah]) mereka merasa harus melakukan sesuatu.

Dua tipe mahasiswa di atas adalah dua tipe yang gue hormati.
They know what to do. They have their own way/vision to create a better Indonesia.

Gue sangat mengapresiasi jika kedua tipe ini ga saling menjatuhkan satu sama lain, toh niatnya sama-sama untuk Indonesia kan?

Tipe 3
Nah, ini adalah tipe yang gue kadang suka ga abis pikir. Ini adalah tipe yang kerjanya nyinyir dengan teman-temannya yang termasuk tipe 2, bilang aksi ngerusuh lah, ga ada gunanya lah, ga jelas asal-mula kajiannya kayak apa lah, kuliah aja masih minta uang ortu trus sok-sokan mau aksi lah, aksinya ga ngasih solusi lah, sebagai mahasiswa harusnya lebih cerdas lah, apa lah segala rupa dikata-katain.

Padahal orang tipe 3 ini kalau diajak hadir kajian pendalaman materi aksi, beeeeeuh, pasti adaaaaaa aja alasannya untuk nolak.

Tipe ini juga adalah tipe yang sering mencari sejuta alasan ketika 'ditodong' untuk menjadi mahasiswa tipe 1. Ya ngeles ga jago bahasa Inggris lah, ga jago nulis lah, IPK ngepas lah, apa lah ada aja alesannya.

Hellooooow
Kalau kebanyakan nyinyir, entar keburu tua, entar keburu 'ga berpotensi' apa-apa. Alasan untuk ga ngapa-ngapain mah memang pasti ketemu kalau dicari. Mending coba mulai melakukan sesuatu dari sekarang.

----------

Gue alhamdulillah selama jadi mahasiswa pernah berusaha untuk menjadi tipe 1 dan tipe 2. Gue pernah coba-coba ikut lomba tentang pertanian, meskipun nyaris ga juara. Gue juga pernah ikutan jadi tim koordinator aksi, meskipun cuma ngurusin carter angkot dan P3K. Overall, gue juga ada bayangan kok ke depannya mau melakukan apa untuk Indonesia. At least, gue mencoba melakukan sesuatu.

Akhir kata, kalau mengutip kata-kata Bang Faldo Maldini mah,
"Ya gapapa mahasiswa cuma bisa nuntut. Kalau mahasiswa bisa ngasih solusi mah dipertanyakan itu gunanya para staff ahli di kepresidenan."
NAH INI!!

Untuk teman-teman yang aksi (terlepas dari apapun jenis pergerakan yang dilakukan),
Selamat luruskan niat, komentator mah ya udah lah ya biarin jadi komentator aja. Kalau ada pertandingan bola juga kan pada akhirnya yang dilihat adalah pemainnya, bukan komentatornya. Kalau gagal, coba lagi. Kalau salah, perbaiki, mumpung masih jadi mahasiswa, mumpung masih 'boleh' salah.

Cheers!!

Selasa, 20 Desember 2016

Eksklusifisme Anak Soleh

Alkisah ada seorang mantan komti gue pas TPB, sebut saja namanya X, dan gue berteman dengan si X ini di chat application Line (karena punya nomornya). Sudah setahun-dua-tahun belakangan ini, status di timeline si X dipenuhi banyak hal tentang kesibukan usahanya mencari rezeki halal dan aktivitas memanah. Wuidiiih, keren lah ya memanah, salah satu dari tiga jenis olah raga yang disunnahkan oleh Rasul, tuh. Olah raga lainnya yang disunnahkan adalah berenang dan berkuda.

Si X ini aktif di dalam lembaga dakwah Islam di kampus gue, for short banyak teman yang menyebut lembaga ini dengan menyingkat nama beken masjid kampus gue, Alh*rr. Awalnya gue ga pernah notice tentang status-status si X. Hingga beberapa waktu lalu sempat agak iseng membaca statusnya dan tetiba ngeuh bahwa si X ini sedang repot-repot mengembangkan klub memanah Alh*rr. Kalau kata di statusnya sih sepertinya namanya Alh*rr Archery Community. Di statusnya itu si X sempat cerita tentang mahalnya harga busur dan anak panah, jumlah peralatan yang terbatas (karena mahal) sehingga harus gantian, dan lain sebagainya. Pokoknya kalau baca statusnya, dia keliatan banget lah sedang berjuang mengembangkan komunitas memanah itu.

Setelah mikir beberapa detik, rasanya gue pengen teriak di depan mukanya (fyi, berhubung gue anak baris berbaris, jadi kalau gue bilang pengen teriak di depan mukanya that means GUE EMANG PENGEN TERIAK BENERAN DI DEPAN MUKANYA),
WOY, LU GA USAH SOK-SOK SUSAH BERJUANG BIKIN KOMUNITAS. ITU UKM MEMANAH DI IPB UDAH ADA DARI DULU!!

Terkait tentang judul post ini, that's what I want to talk about.

Dari foto-foto di status si X, keliatan banget kok bahwa member perempuan di komunitas itu adalah perempuan yang jilbab panjang dan pakai rok. Kalau menganalisa dari nama komunitasnya sih sepertinya member laki-lakinya bercelana di atas mata kaki dan jenggotan. Mereka adalah orang-orang berlabel soleh-solehah di lingkungannya.

Padahal gue tau, di kalangan soleh-solehah, salah satu pertanyaan yang masih sulit ditemukan jawabannya adalah bagaimana cara memberi warna nilai-nilai keislaman di sebanyak mungkin lini kehidupan. Gue tau juga bahwa di dalam kurikulum pengajian anak soleh-solehah itu ada instruksi untuk bergaul secara luas. 

Tapi kalau orang-orang soleh-solehahnya malah bikin komunitas eksklusif sendiri, ya dipikir aja gimana pertanyaan itu bisa terjawab.

Wallahu'alam bisshawab
Mungkin para soleh-solehah dan bikin komunitas panahan itu terlalu mengedepankan ghadul bashar (menjaga pandangan), dengan asumsi teman-teman di UKM Panahan kampus itu tidak seluruhnya berkerudung, sehingga akhirnya lebih memilih membuat klub memanah eksklusif yang isinya cuma kalangan tertentu.

Mungkin para soleh-solehah dan bikin komunitas panahan itu lupa bahwa pahala mendakwahi saudara-saudara muslim yang berada di zona 'kurang' hingga dapat berhijrah ke zona keimanan yang lebih baik itu pahalanya luar biasa.

Mungkin para soleh-solehah dan bikin komunitas panahan itu lupa bahwa berdakwah itu harusnya ke seluruh penjuru bumi, bukan di halaman masjid aja. Kalau para sahabat ga berhijrah untuk berdakwah, mungkin Islam belum akan sampai ke nusantara.

Mungkin para soleh-solehah itu terlalu menelan bulat-bulat pepatah "Berkawan dengan pandai besi akan mendapat panas, berkawan dengan tukang minyak wangi akan terkena wangi". Mungkin probabilitas "Berkawan dengan pandai besi bisa jadi nanti dikasih hadiah pedang yang bagus" ga dimasukkan dalam perhitungan. Padahal setiap orang pasti punya hal baik, kan?

Mungkin gue yang iri karena ga diajak bergabung di komunitas memanah anak soleh-solehah? Haha, insya Allah ga iri. Teman gue banyak kok. Lagipula, sepertinya gue punya prinsip berbeda mengenai definisi 'azas kebermanfaatan' sebagai muslimah yang punya kewajiban untuk berdakwah.

Mungkin gue kurang solehah?
Nah, ini yang paling mungkin. Gue kurang solehah sehingga ga paham kenapa mereka harus bikin komunitas eksklusif untuk berlatih panahan padahal UKM Panahan di kampus udah ada dari dulu. Lagipula, ah, apa atuh gue mah, pake rok aja baru semester 7.

Mungkin gue terlalu suudzon?
Nah, bisa jadi. Manusia memang banyak kurangnya. Mohon maaf jika ada yang tersinggung, semata-mata gue menulis ini setelah berpikir dan menganalisa kok, bukan asal nulis.
Wallahu'alam bisshawab.

Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat bagi diri gue sendiri, syukur-syukur jika bermanfaat bagi orang lain. Semoga jika di masa yang akan dateng gue punya kesempatan untuk berkelompok eksklusif bersama orang-orang soleh, gue akan lebih selektif mengenai komunitas eksklufis mana yang akan gue ikuti.

Dear, para soleh-solehah, mau gue bocorkan satu hal?
Teman-teman kampus yang jadi objek dakwah  kalian itu terlalu enggan bergabung dengan kalian karena merasa kalian itu eksklusif.

Sekian.

Selasa, 21 Juni 2016

Pemahaman Hidup dari Teknik Optimasi

Beberapa hari lalu ada salah seorang praktikan gue mengepost di linimasa sebuah chat messenger miliknya,
10x10
Gue cukup yakin 10x10 itu adalah ukuran matriks yang harus dibuat untuk menyelesaikan soal UAS mata kuliah Teknik Optimasi karena dua tahun lalu gue menghadapi matriks 10x10 juga.

Cemangat eeaa qaqa!!

[Sumber gambar]

Berbicara mengenai Teknik Optimasi, ada sebuah pemahaman yang gue pelajari dari mata kuliah ini. Pemahaman ini juga sesuai untuk digunakan di dalam kehidupan nyata.

Secara umum, mata kuliah Teknik Optimasi ini -sesuai dengan judulnya- membicarakan mengenai bagaimana caranya kita mengoptimasi suatu proses produksi dengan segala constrain (hambatan) yang ada. Misal, bagaimana caranya memperoleh keuntungan sebanyak mungkin dari ketersediaan sumber daya (modal) yang terbatas, atau bagaimana caranya memperoleh suatu target keuntungan tertentu dari sumber daya yang seminimal mungkin. Selalu ada target dan hambatan ketika melakukan sesuatu. Hidup memang seperti itu, kan?

Mungkin selama ini, kita pernah beberapa kali mendengar teori mengenai mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal (sumber daya) sesedikit-sedikitnya. Sayangnya, menurut gue, teori itu nyaris tidak mungkin.

Di dalam Teknik Optimasi, gue belajar bahwa fungsi tujuan optimasi itu di mana-mana cuma ada satu, di dalam kehidupan nyata sekalipun seperti itu. Mungkin masih ada yang ga paham. Di sini akan sedikit gue uraikan beberapa contoh yang sempat gue tulis tadi.

Kasus 1
Memperoleh keuntungan sebanyak mungkin dari ketersediaan sumber daya yang terbatas
Di dalam kasus ini, kita memiliki constrain berupa sumber daya (modal) yang terbatas dan kita ingin mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin. Katakanlah kita punya industri kue yang memproduksi kue A dan kue B. Kue A harga jualnya lebih mahal daripada kue B. Kue A pakai telur 3 kali lebih banyak daripada kue B. Kue A pakai tepung 2 kali lebih banyak daripada kue B. Jika harga telur adalah sekian dan tepung adalah sekian, silakan tentukan jumlah produksi kue A dan kue B untuk mencapai keuntungan optimum.

Perhatian, soal di atas itu dibikin secara ngasal, ga usah coba-coba dikerjain.

Di sinilah peran dari ilmu optimasi dibutuhkan. Bagaimana caranya kita mengatur jumlah produksi kue A dan kue B, biar sumber daya (modal) ga kurang, tapi untungnya bisa sebanyak mungkin.

Kasus 2
Memperoleh suatu keuntungan tertentu dari sumber daya seminimal mungkin
Di dalam kasus ini, kita ingin memiliki tujuan berupa target keuntungan tertentu dan kita berupaya meminimumkan constrain sumber daya (modal) hingga seminimal mungkin agar target kita tercapai. Misal kasusnya masih industri kue A dan B. Untuk kasus ini agak sedikit berkebalikan. Kali ini kita sudah menentukan mau punya untung sekian untuk tiap kali produksi, tugas kita adalah menentukan jumlah produksi minimum (yang berimplikasi pada modal minimum) untuk mencapai keuntungan tersebut.

Di sini peran dari ilmu optimasi juga dipakai. Bagaimana caranya kita mengatur jumlah produksi kue A dan kue B, biar bisa mendapatkan keuntungan sejumlah sekian, tapi ongkos produksinya bisa sesedikit mungkin.

Kasus imajiner
Mencari keuntungan sebanyak mungkin dengan modal (sumber daya) sesedikit mungkin
Mengapa gue berkata bahwa kasus tersebut adalah imajiner? Karena di kasus itu fungsi tujuannya ada dua (untung banyak dan modal sedikit), pelakunya ga berkorban apa-apa, dan juga ga ada constrain apa-apa. Pada kenyataannya, hidup ga semudah gitu.

----------

Teknik Optimasi mengajarkan gue untuk mencapai sebuah fungsi tujuan dengan adanya constrain tertentu yang harus dihadapi. Adanya 'masalah' memang merupakan suatu indikator kehidupan, kalau ga mau punya masalah mah ya ga usah hidup.

Sesungguhnya, inti besar dari mata kuliah Teknik Optimasi ini adalah kita harus punya fungsi tujuan dalam hidup. Apa sih tujuan kita? Lalu yang selanjutnya harus kita lakukan adalah mengerahkan segala daya dan upaya secara optimal serta efisien, berkorban sana-sini secara optimal serta efisien, mengupayakan segala constrain, dan lain sebagainya secara optimal serta efisien agar fungsi tujuan itu tercapai.

Mengapa harus secara optimal serta efisien? Karena itu adalah tujuan dari Teknik Optimasi. Kalau ga mau optimal dan efisien mah kerjain aja segala sesuatunya tanpa perlu ada strategi dan perhitungan.

Bagaimana kalau kita punya beberapa keinginan dalam satu waktu. Percayalah, itu akan nyaris mustahil dilakukan semuanya. Ingat, fungsi tujuan hanya boleh ada satu.

Hidup sehari-hari di Jepang selama beberapa bulan ini membuat gue belajar Teknik Optimasi dalam bentuk yang lebih nyata dan aplikatif. Teknik Optimasi ini hampir selalu gue dapatkan ketika berniat pergi ke suatu tempat lalu browsing rute menggunakan gmaps *maaf bukan promosi*. Untuk negara yang perihal transportasi massal-nya sudah terkelola dengan baik, gmaps dapat memprediksi dengan luar biasa tepat mengenai waktu tempuh dan ongkos untuk pergi ke suatu lokasi, lengkap dengan berapa kali jumlah pindah kendaraan.

Tiap kali gue mau pergi, gue tinggal menentukan aspek apa yang ingin dioptimasi pada perjalanan kali ini?
Misal hari ini dompet sedang tipis karena uang beasiswa belum turun, ya carilah rute dengan ongkos termurah tapi jangan heran kalau harus pindah kereta/bis beberapa kali, sesekali harus berjalan kaki, serta waktu tempuh yang lebih lama (karena jalan atau pindah-pindah kereta/bis tersebut). Atau misal hari ini berangkat janjian hampir telat, ya carilah rute tercepat tapi jangan heran kalau harganya lebih mahal.

Mau mencari rute tercepat dan termurah?
Bikin aja perusahaan transportasi sendiri~
Itu juga kalau bisa lebih cepat dan murah, haha *ketawa jahat*.

Contoh kasus lain, teman sejurusan gue ada yang punya bisnis konveksi. Bisnisnya berkembang pesat 2-3 tahun terakhir. Suatu hari pas sedang mengerjakan mata kuliah Perancangan Pabrik, gue sempat bertanya secara personal tentang kabar bisnis dan akademis dia. Jawaban dia saat itulah yang seketika membuat gue sadar bahwa Teknik Optimasi ini dapat menyelesaikan lebih banyak pertanyaan dalam hidup, bukan terbatas pertanyaan ujian di atas kertas saja.
"Kan fungsi tujuan optimasi cuma ada satu ya, Dil? Nah, gue pilih kembangin konveksi gue. Nilai gue pada akhirnya ada yang berantakan, sempet juga ga bisa ngambil SKS full di suatu semester karena IP gue kurang. Tapi gue puas, soalnya fungsi optimasi gue terpenuhi. Nanti akademis yang kurang-kurangbisa gue cicil pelan-pelan. Toh batas lulus maksimal 12 semester kan?"
Di situ gue terdiam sambil bengong.
Takjub.

Bagi sebagian orang, mungkin lulus 12 semester bukan pilihan hidup yang ingin diambil. Tapi bagi teman gue ini, lulus 12 semester adalah constrain yang harus dihadapi demi pemenuhan fungsi optimasi agar usaha konveksinya berkembang dengan luar biasa.

Pilihan dalam hidup kadang bisa dihadapi dengan sesimpel itu. Sesimpel mata kuliah Teknik Optimasi. Ga usah berharap biar ga ada hambatan ketika kita melakukan sesuatu karena itu ga mungkin.
Cukup tentukan fungsi tujuannya,
dan upayakan seluruh hambatannya.
:)

Senin, 13 Juni 2016

#MatahariAkar [Persiapan Besar Sebelum Merantau di Luar Negeri]

Setelah delapan setengah bulan tinggal di negara orang lain, akhirnya gue menyimpulkan bahwa ada sebuah hal besar yang perlu dipersiapkan sebelum mencoba untuk merantau ke negara lain dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal itu adalah kesiapan mental.

Setelah gue kerucutkan, salah satu mental dasar dalam urusan rantau-merantau ini adalah aplikasi dari beberapa jenis pepatah,
"Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya"
"Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung"
Intinya sama, hormati dan patuhilah adat-istiadat serta kebiasaan setempat.

Judulnya juga merantau, ga perlu ditanya lagi bahwa tanah yang menjadi tujuan kita memiliki adat-istiadat dan kebiasaan yang berbeda dengan tanah yang biasa kita pijak. Jangankan jauh-jauh ke luar negeri, beberapa kota yang tetanggaan aja adat istiadatnya bisa beda, misal di Bogor mungkin ga akan ada yang menyebut bahwa liburan ke pantai itu mudah-murah-meriah secara Bogor ga punya pantai, beda dengan Sukabumi yang punya Pelabuhan Ratu.

Sebenarnya, ada kesimpulan yang lebih inti, yaitu..
Belajar bertanggung jawab.
Jalanilah segala konsekuensi dari pilihan yang diambil, dalam kasus ini adalah pilihan untuk hidup di luar negeri. Jangan cuma mau enaknya saja punya judul gelar akademis lulusan luar negeri, mencantumkan di CV bahwa pernah kuliah/kerja di luar negeri, tapi ga mau (mencoba) patuh dengan cara hidup di negeri yang bersangkutan. Itu namanya egois.

Selama hidup sehari-hari di Jepang dalam delapan setengah bulan ini, ada beberapa kasus yang benar-benar membuat gue gerah. Kasus-kasus nyata yang gue alami sendiri di sini. Kasus-kasus yang -di mata gue- pelakunya itu egois. 

Kasus 1
Sampah
Mungkin sudah pada paham teori mengenai urusan buang sampah di Jepang ini termasuk ribet. Sampah harus dipisah-pisah menjadi sampah burnable, unburnable, dan sampah berwujud agak besar seperti misal pecahan gelas atau payung. Di samping itu ada pula ketentuan untuk membuang karton tetrapack, kaleng, beling, dan botol minum kemasan PET. Ditambah jadwal buang sampah juga ada harinya dan tiap katagori sampah ada plastik khusus untuk membuang dengan warnanya tersendiri, jadi di hari tersebut kita diminta menaruh sampah yang bersangkutan (tentunya dengan plastik yang sesuai) di depan rumah sebelum jam  8 pagi agar dapat diambil oleh mobil sampah. Plastiknya sendiri harus beli, tapi harganya manusiawi kok.

Jadwal buang sampah, lengkap dengan warna plastik sampah yang semestinya

Di international house tempat gue tinggal ini ada bak sampah tertutup cukup besar di halaman depan sehingga banyak yang membuang sampah tidak pada waktunya karena toh dapat tertampung di bak sampah dan baunya ga ke mana-mana. But that's not the right one.

Hal yang mau gue kritisi sebenarnya bukan masalah jam buang sampah, melainkan apa yang sering gue temui ketika membuka bak sampah untuk buang sampah. Sangat sering gue menemui sampah yang dibuang bukan dalam plastik yang semestinya. Banyak yang buang sampah di dalam plastik-plastik  berbelanja di supermarket. Salah satu yang berkali-kali gue pergoki adalah dua orang dari negara yang sama di benua yang berawalan huruf A (nahloh bingung kan, hampir benua berawalan huruf A).

Di bawah ini bahkan keadaan di depan pintu kamar salah satu dari mereka, gue cukup yakin plastik itu berisi sampah, tapi itu bukan plastik sampah yang seharusnya.
Sampah dengan plastik yang tidak semestinya

Kalau di mata gue, itu namanya egois.

Kasus 2
Attitude
Jadi ceritanya tahun fiskal di Jepang itu dimulai dari bulan April. Itu awal musim semi, ada sakura mekar *terooooos?*. Tahun ajaran sekolah juga dimulai sejak April. Khusus untuk universitas, untuk menyesuaikan dengan banyak kampus di luar Jepang (dengan maraknya kesempatan berkuliah di luar negeri), akhirnya ada juga tahun ajaran yang start di bulan Oktober.

Gue tinggal di asrama dekat kampus. Dekat banget. Di Jepang ini juga ada keluarga besar Indonesia yang kuliah di wilayah sekitar tempat gue tinggal (bukan hanya di kampus gue ini saja) dan kami punya grup line yang tiap tahun dibikin baru (isinya adalah orang-orang yang ada di kampus pada tahun itu, jadinya gue ga se-grup bareng Si Teteh karena kita exchange di tahun yang berbeda, jadinya pula para veteran ga terganggu dengan obrolan kekinian tentang Jepang).

Pada akhir Maret lalu, banyak apato (apartment) atau -sebut saja- kostan yang sudah habis masa berlakunya karena penghuni yang bersangkutan sudah pindah atau lulus. Ada seorang mbak yang mengiklankan kostannya di grup. Salah satu hal yang gue garis bawahi dari pesan Si Mbak di grup adalah ibu kost-nya bilang bahwa berita ini boleh disebar ke mahasiswa asing tapi tolong jangan ke orang B*******sh dan P******n (dua buah negara di Asia Selatan).

Di situ gue langsung melongo, masih dengan posisi terakhir sambil liat grup dan pegang hape.
Gileh..
Kalau kelakuan kita aneh-aneh di negara orang bukan cuma nama kita aja yang jelek, tapi nama bangsa juga bisa rusak.

Mengapa gerangan sang ibu kos sampai melarang?
Jadi ceritanya penghuni sebelumnya yang dari negara tersebut itu kalau bayar air dan listrik suka nunggak, suka berisik dan pernah sampai diprotes tetangga, juga buang sampah seenaknya (plastik ga sesuai, sampah ga dipisah, waktu buang ga sesuai). Pantas aja ibu kosnya juga emosi.

Kalau di mata gue, itu namanya egois.

Kasus 3
Living cost
Urusan living cost juga kasus yang sering membuat gue nyengir sinis (yang kenal dan pernah liat muka jutek gue pasti kebayang lah ya bentuknya senyolot apa). Ini sebenarnya kasus yang lucu, sekaligus banget-banget egois.

Untuk kasus gue yang hidup di Tokyo, living cost di sini mahal. Banget. Tapi sebenarnya itu bukan masalah besar karena beasiswa yang gue dapatkan juga besar. Kalau kebetulan ga dapat beasiswa dan mencari kerja, Insya Allah juga mencukupi untuk hidup (asal ambil shift kerjanya yang rajin aja). Beasiswa gue sebulan di sini, gue yakini lebih besar daripada sebulan gaji freshgrad di perusahaan multinasional di Indonesia.

Lembaga pemberi beasiswa tentunya ga ngasal ketika menentukan nominal beasiswa. Jumlah beasiswa sebesar itu (berapapun itu yang didapat oleh para beaswan) pasti telah dikalkulasi dan disesuaikan dengan living cost di negara atau kota yang dituju (untuk kasus gue, Tokyo), apalagi di Jepang belum nemu tuh hal yang dikerjain secara ngasal sehingga gue percaya bahwa kalkulasi jumlah beasiswa segitu memang cukup untuk dipakai hidup di Tokyo.

Di program exchange ini, ada juga teman-teman yang berasal dari negara-negara yang living cost-nya ga sesadis Tokyo (termasuk Indonesia), dan di sini hal yang menyebalkan terjadi.

Hal yang sangat sering teman-teman gue lakukan adalah membandingkan harga antara di Tokyo dan di kampung halaman mereka. Entah pola pikir gue yang ngaco atau gimana, tapi gue nyaris tidak pernah melakukan hal itu. Alhamdulillah, uang beasiswa guepun aman-aman saja, ga pernah tuh sampai ngutang karena uang bulanan abis (palingan minjem karena lupa bawa dompet atau beli sesuatu berdua dan ditalangin dulu untuk sekalian mecahin uang), ga pernah juga tuh gue setiap hari sampai harus puasa atau makan telor doang di akhir bulan karena lupa diri dan boros di awal bulan.

Apa hasilnya ketika mereka membandingkan harga antara di Tokyo dengan harga di kampung halaman? Teman-teman gue itu banyak yang pada akhirnya udah melampaui fase hemat dan irit, itu bahkan beberapa kali sudah sampai pada fase menjadi cenderung pelit dan dzalim terhadap diri sendiri. Pada akhirnya malah mengabaikan kebutuhan-kebutuhan pokok diri sendiri karena ya itu tadi, harga di sini lebih mahal dibanding harga di kampung halaman.

Studi kasus nyata,
Selama winter kemarin, jangan tanya dinginnya kayak apa. Bagi gue yang makhluk tropis, pengalaman dingin saat itu benar-benar "..for the first time in forever.." *sambil nyanyi*. Tentunya mulai dijual juga segala perlengkapan winter mulai dari coat, sepatu/boots winter, sarung tangan tebal, dan lain sebagainya.

Sebutlah teman gue namanya Lili (bosen Mawar terus, haha) dia sudah dari jauh-jauh hari merasa kedinginan tapi tak kunjung beli sepatu winter. Mahal, katanya. Memang sih kalau diubah jadi kurs rupiah (berhubung kurs yang gue pahami cuma rupiah doang) jadi cukup mahal, sekitar 200-350 ribuan, dan sepatu itu akan cuma dipakai kurang dari 4 bulan. Alhasil doi tidak kunjung membeli sepatu winter.

Di mata gue, itu namanya egois.

Padahal sepatu winter itu (at least, bagi gue) benar-benar berguna kala winter. Dia memang didesain untuk hal itu, broh. Sol sepatu yang ga licin, cocok untuk dipakai berjalan di atas salju. Bahan di dalam sepatunya hangat, biasanya bulu-bulu atau kulit *maaf gue bukan promosi*. Gue sendiri punya boots winter dua pasang, yang satu bawa dari Indonesia karena pernah dibelikan Ibu ketika beliau berdinas ke negara yang pas-pasan sedang winter, yang satunya lagi warisan dari angkatan terdahulu. Sepatu boots winter yang dari Ibu itu bahannya kulit, sedangkan yang warisan itu di bagian dalamnya ada bulu-bulu.

Hingga pada suatu hari, beberapa hari setelah salju turun dengan sangat lebat, jalanan sempat terasa sangat licin. Pada siang hari salju meleleh karena suhu yang di atas 0 derajat Celcius, tapi pada malam harinya kembali membeku karena suhu yang di bawah 0 derajat Celcius. Begitu terus selama beberapa hari.

Di sinilah kasus Lili terjadi. Doi pakai sepatu biasa, bukan sepatu winter, ketika dunia sedang licin kayak gitu. Hingga pada akhirnya entah bagaimana caranya doi terpeleset ketika sedang berjalan kaki karena sepatunya licin. Lecet-lecet dan memar ringan, untungnya keadaan doi bisa dibilang baik-baik saja. Tapi hal yang mengenaskan adalah hapenya terlempar ketika doi kepeleset. Layar sentuhnya retak. Rusak. Ga bisa dipakai lagi.

Pesan moral yang sangat berharga bagi gue adalah,
Cerdas-cerdaslah menentukan prioritas.
Sama diri sendiri, jangan pelit-pelit amat lah~
Sok-sok ide hemat 2000-3000 yen, akhirnya malah harus keluar uang lebih dari sepuluh kali lipatnya untuk beli hape baru.

Epilog (I)
Sekian kisah gue kali ini, mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh, lokasi, atau kejadian, karena bisa jadi memang itu kisah mengenai anda. Terima kasih telah memberikan banyak pelajaran berharga untuk gue.

Epilog (II)
Sekali lagi,
Jangan cuma mau enaknya aja punya judul gelar akademis lulusan luar negeri atau mencantumkan di CV bahwa pernah kuliah/kerja di luar negeri, tapi ga mau (mencoba) patuh dengan cara hidup di negeri yang bersangkutan. Itu namanya egois.

Selamat hidup di luar negeri.
Selamat belajar bertanggung jawab.
Selamat belajar menganalisa tiap keputusan, lengkap dengan menghadapi segala konsekuensinya.
Selamat belajar untuk tidak egois.
:)

Selasa, 17 Mei 2016

#MatahariAkar [My Shalat, My Adventure]

I will use the word "saya" instead of "gue" in several posts because I want to be more serious with some other posts on my blog in future.
Enjoy it :D

Dari awal bulan Oktober 2015 hingga September 2016 nanti, saya berkesempatan untuk menjadi pelajar yang tertukar mengikuti program pertukaran pelajar di sebuah kampus di Negara yang menjadi tanah air bagi Naruto dan Doraemon. Menjadi muslim di Negara minoritas ternyata memang benar-benar membutuhkan perjuangan seperti kata Hanum Rais di dalam bukunya “99 Cahaya di Langit Eropa”. Salah satu quote yang diulang berkali-kali di dalam buku tersebut adalah mengenai “..menjadi agen muslim yang baik”.

Bagi saya sendiri, “menjadi agen muslim yang baik” memiliki dua arti. Yang pertama adalah “menjadi agen muslim – yang baik” dan yang kedua adalah “menjadi – agen muslim yang baik”. Keduanya sama-sama menjadi agen muslim dan keduanya sama-sama menjadi baik. Tetapi jika ingin digabungkan maka keduanya akan bermuara pada menjadi seorang muslim yang menjalankan agamanya dengan baik serta berkehidupan dengan baik yang sesuai dengan tata-krama setempat.

Kalau kata Sudjiwo Tedjo,
“Cinta itu ga butuh pengorbanan. Ketika kamu merasa berkorban, maka ketika itu pula cintamu dipertanyakan”.
Tsaaaaah~. 

Maka dari itu, hidup setahun menjadi minoritas muslim bagi saya bukan merupakan pengorbanan, melainkan tantangan. Tantangan mengenai mana yang lebih kamu cintai apakah Tuhanmu atau image-mu, sedangkan image sekalipun adalah titipan-Nya. Lagipula, tantangan selalu menawarkan petualangan yang menarik, bukan?

Kita semua tahu bahwa shalat adalah tiang agama. Ada 5 waktu shalat dalam sehari yang wajib kita laksanakan, belum jika ditambah dengan waktu-waktu sunnah. Tak perlu ditanya lagi jika urusan mendirikan shalat ini menuai sangat banyak cerita.

Saya bersyukur bahwa kampus tempat saya exchange ini merupakan kampus dengan peringkat ke-15 se-Jepang[1] sehingga banyak mahasiswa asing yang juga berkuliah di sini. Di samping itu, sudah sekitar 20 tahun program exchange saya ini berlangsung sehingga banyak Sensei dan pegawai di International Office sudah berpengalaman menghadapi mahasiswa asing, termasuk asing dalam berbudaya dan ‘asing’ dalam beragama.

Pihak International Office bahkan sudah banyak yang tahu bahwa muslim harus shalat sebanyak 5 kali sehari, yang mana waktu Dzuhur dan Ashar seringkali harus dihabiskan di lingkungan kampus. Oleh International Office, kami (saya dan teman-teman muslim lainnya) ditunjukkan beberapa tempat untuk shalat. Di gedung yang biasa saya gunakan untuk kuliah, terdapat dua lokasi shalat di dua lantai berbeda yang ukurannya cukup untuk berjamaah sebanyak 3 orang. Pembatas ruangan kecil inipun hanya partisi beroda setinggi sekitar dua meter yang dapat digeser-geser. Di gedung lain, ada tempat shalat yang cukup luas karena sebenarnya tempat itu adalah lantai teratas gedung dan ada sepojokan area yang tidak berfungsi. 

Sejauh ini, Alhamdulillah, untuk urusan tempat shalat, saya di kampus tidak bermasalah.

Tantangan dari shalat di kampus adalah urusan wudhu. Berhubung bukan Negara mayoritas muslim, hal ini mengakibatkan tidak adanya tempat wudhu seperti di masjid/mushala Indonesia pada umumnya. Satu-satunya lokasi paling memungkinkan untuk wudhu adalah washtafel toilet. Terkadang Saya dan teman-teman muslim berwudhu di samping gadis Jepang yang sedang berdandan cantik. Malu? Ga usah ditanya *ketawa sedih di pojokan*. Paling banter kami hanya akan nyengir-nyengir polos ketika diamati dari kepala sampai kaki oleh mereka.

Tantangan dalam wudhu ini juga banyak, salah satu yang terberat adalah urusan membasuh kaki. Di sinilah perkara untuk “menjadi agen muslim yang baik” berperan. Di Jepang, semua air keran dapat langsung diminum sehingga bukan tidak mungkin apabila di toilet menyaksikan seseorang menampung air keran dengan tangan lalu meminumnya. Sehingga jika mau dipikir secara logika serta secara urusan pantas-tak pantas, sangat tidak sopan rasanya jika kami menaikkan kaki ke washtafel untuk mencuci kaki (apalagi jika dilihat orang Jepang).

Sampai pada titik ini, satu hal lagi yang perlu dikuasai untuk menjadi agen muslim yang baik yaitu ilmu. Bukankah Allah telah berjanji bahwa orang berilmu akan ditinggikan beberapa derajat? Hal ini didukung pula dengan kata-kata bijak mengenai anjuran menuntut ilmu dari sejak buaian ibu hingga ke liang lahat. Di samping itu, tidakkah kita tergiur dengan iming-iming mengenai pahala yang tak terputus dari ilmu kita yang bermanfaat?

“Allahumma yassir, walaa tu’assir”, Ya Allah, permudahlah dan jangan Engkau persulit. Bukankah jika tidak ada air bahkan Allah telah mengizinkan untuk tayamum? Sehingga sebenarnya ada air tapi kondisinya agak ribet bukanlah suatu masalah besar. Hal yang paling mungkin dilakukan adalah membasuh kaki (di luar washtafel) sebanyak tiga kali dengan tangan yang sudah dibasahi.

Selesai? Not that easy, guys.
Efek domino berikutnya adalah lantainya becek sehingga mau-tak mau harus dilap dengan tissue. Kadang jika airnya bercipratan ke mana-mana, ya dilap lah, mau bagaimana lagi.

Mungkin salah satu solusi yang paling solutif adalah menjaga wudhu. Di Jepang, kontak fisik sangat jarang terjadi. Bahasa tubuh ketika menyapa seseorang biasanya dilakukan dengan cara membungkuk sehingga batal wudhu karena bersentuhan dengan lawan jenis dapat diminimalisir.

Selesai? Not that easy, guys.
Saya orangnya mudah kebelet *ketawa sedih di pojokan*.

Tantangan shalat yang sebenarnya adalah ketika sedang berjalan-jalan demi mencoba menjadi anak gaul Ibukota. Jika ingin menghitung jumlah masjid se-Tokyo menggunakan jari tangan ditambah jari kaki, mungkin masih akan ada beberapa jari yang menganggur. Sedangkan tiap waktu shalat ada periodenya tersendiri dan waktu dalam sepanjang siang akan dapat habis dengan mudahnya hanya untuk menemukan masjid saja.

Di sini perkara untuk “menjadi agen muslim yang baik” kembali berperan. Bagaimana caranya “menjadi – agen muslim yang baik” sekaligus “menjadi agen muslim – yang baik”. Bagaimana caranya kita shalat di tempat selain masjid (re: tempat umum) tanpa mengganggu kepentingan umum.

Di sini pula terdapat urgensi untuk menuntut ilmu. Pada awalnya sempat terlintas pertanyaan, bagaimana jika kita shalat di pinggiran taman yang (bukan tidak mungkin) pernah dilewati anjing yang dibawa pemiliknya untuk jalan-jalan sore, bukankah liurnya najis?

“Allahumma yassir, walaa tu’assir”, Ya Allah, permudahlah dan jangan Engkau persulit. Bukankah bahkan najis di liur anjing akan hilang setelah dicuci sebanyak tujuh kali dan salah satunya dengan tanah? Sehingga sebenarnya perkara mengenai misteri adanya liur anjing yang mengenai tanah untuk shalat dapat terselesaikan.

Selain pinggiran taman, lokasi lain yang pernah saya jadikan tempat shalat ada banyak. Lokasi tersebut di antaranya adalah di pinggiran landmark suatu wilayah, di pelataran mall, di pinggir laut, di tempat parkiran sepeda, di dekat tangga darurat, di pojokan museum, di peron kereta bawah tanah, di dalam fitting room di department store, sampai di bawah pohon sakura.

Taktik shalat saya dan teman-teman muslim lain di tempat umum juga ada banyak. Salah satu yang menjadi favorit adalah tidak shalat semuanya dalam satu waktu, melainkan ada yang menunggu dan berjaga, untuk antisipasi jika ditegur satpam atau pihak berwenang lainnya. Sejauh ini pernah beberapa kali ditegur orang, Alhamdulillah berhasil menejelaskan dengan singkat dan mudah dimengerti. Beberapa orang yang telah diberikan penjelasan terlihat antusias, meskipun sebenarnya saya ragu apakah mereka benar-benar antusias atau memang tata krama di sini yang selalu curious jika menemukan hal baru.

Di tanah airnya Naruto dan Doraemon ini saya merasa bahagia dengan diri saya sendiri karena dapat istiqamah untuk shalat di waktu yang tepat meskipun tempatnya terkadang ditepat-tepati agar terasa tepat. Sepulangnya ke tanah air, sepertinya saya akan memperkecil excuse untuk diri sendiri dalam urusan ketepatan waktu shalat. Kokohnya tiang bangunan Islam ini masih jauh lebih indah untuk ditawar dengan image duniawi.

This is my story. My shalat, my adventure.
How about you?