Tampilkan postingan dengan label Agroindustri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agroindustri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 November 2020

Materi Kuliah Anak Shalihah

Kalau saya bikin IG story tentang materi 'kuliah' anak shalihah, suka ada aja yang nanya "Beneran lu ceritain hal-hal ilmiah itu ke anak lu?"

Jawabannya :

Ya beneran lah, wkwkwkwk

Ngapain juga bohong yekan


Biar anak shalihah pinter?

Bukan

Tapi biar anak shalihah senang belajar. Bahwa belajar itu bisa di mana saja, kapan saja, dengan hal-hal dan fenomena yang bahkan sangat sederhana.


Pinter itu hasil.

Senang belajar itu value.

Transkrip itu fana, wkwkwk.


Siapa yang udah pada lupa materi pelajaran SMP dan SMA? Atau bahkan materi kuliah?

Sama.

Saya juga udah lupa ke mana tau materi pelajaran SMP dan SMA di sekolah dulu. Tapi pelajaran yg saya eksplor sendiri di luar gedung sekolah, saya masih inget.


Sekolah di SMP dan SMA favorit di Bogor, kadang saya suka ga ngerti lagi kenapa temen-temen saya pada pinter. Alhasil banyak guru (tidak semuanya, ofkors) yang yaaaa masuk kelas cuma masuk doang, nyuruh menghapal, lalu nyuruh ujian. Banyak yang tidak benar-benar mengajar.

Bahkan guru biologi saya kelas XI pernah bilang di depan kelas yang intinya saya payah banget dalam menghapal. Masih kesumat kalo inget sekarang.

Tapi lain dengan materi di kuliah. Masih banyak materi kuliah yang saya bisa ingat dengan sangat baik up to this time. Dosen-dosen saya (semoga beliau semua selalu dirahmati Allah, aamin) mengajar dengan cara yang beda jauh dengan guru-guru ketika sekolah.

Beliau-beliau ini mengajar dengan contoh sederhana yang bisa ditemukan sehari-hari. Beliau menjelaskan tentang 'why' dan 'how' things work. Saya jadi merasa tertantang untuk eksplor lebih jauh. Mencari hal-hal sederhana dan mencari tau how they work.

Sederhananya, ketika SMA saya disuruh menghapal (di mata pelajaran biologi yang gurunya amsiyong tadi itu) bahwa laktosa terdiri dari glukosa dan galaktosa.

Apa saya ingat materi itu ketika SMA? Tentu tidak. Saya langganan remedial biologi. Makanya sampai dikatain oleh guru itu di depan kelas.

Tapi ketika kuliah, materi yang sama, dijelaskan bahwa ada anak-anak yang lactose intolerrant (bisa diare hebat kalau mengonsumsi laktosa) bisa dapat asupan kalsium salah satunya dari yogurt. Kenapa? Karena bakteri di yogurt sudah memecah laktosa pada susu menjadi glukosa dan galaktosa.

Apa saya ingat materi itu ketika kuliah? Alhamdulillah ingat dan masih ingat sampai sekarang. Buktinya masih bisa ngetik ini.

(Yaaaa mohon maap kalau salah-salah redaksi dan reaksi, intinya tapi begitu kan)

See?

Sama lho poinnya.

Tapi penyampaiannya beda.

Hasilnya beda.


Di samping itu, kalau belajar tentang ilmuwan-ilmuwan muslim, beliau semua itu paham multisubject. Memang Ibnu Sinna adalah bapak kedokteran, memang Al-Khawarizmi menemukan angka 0, dan memang-memang lainnya, tapi ilmu lain yang dikuasai juga super banyak serta mendalam.

Mimpi saya adalah menjadikan anak shalihah serta adik-adiknya paham multisubject dengan baik. Bisa menemukan how dan why dari hal-hal sederhana (dan kompleks) di kesehariannya. Ga membagi-bagi ilmu menjadi "itu matematika", "ini fisika", "itu biologi", dst.

Dan kalau kata dosen Agama Islam saya ketika TPB,

"Ayat Allah itu luas, bukan cuma Al-Quran, melainkan seluruh alam semesta ini juga ayat Allah."


Mudah-mudahan pahamnya anak shalihah (serta adik-adiknya) dengan banyak subject, serta kemampuannya belajar sendiri dan menarik korelasi dari banyak aspek, senantiasa membuat mereka ingat bahwa kompleksitas sesuatu itu sudah tentu diciptakan oleh Yang Maha Teliti.

Lagipula, ilmu yang berkah bukan yang ada di transkrip kan? Buktinya, penjahat kelas kakap banyak lho yang gelar akademisnya panjang.

Sependek pengetahuan saya, ilmu yang berkah adalah yang diingat, diamalkan, memberi manfaat, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Wallahu'alam bisshawab.

Selasa, 21 Juni 2016

Pemahaman Hidup dari Teknik Optimasi

Beberapa hari lalu ada salah seorang praktikan gue mengepost di linimasa sebuah chat messenger miliknya,
10x10
Gue cukup yakin 10x10 itu adalah ukuran matriks yang harus dibuat untuk menyelesaikan soal UAS mata kuliah Teknik Optimasi karena dua tahun lalu gue menghadapi matriks 10x10 juga.

Cemangat eeaa qaqa!!

[Sumber gambar]

Berbicara mengenai Teknik Optimasi, ada sebuah pemahaman yang gue pelajari dari mata kuliah ini. Pemahaman ini juga sesuai untuk digunakan di dalam kehidupan nyata.

Secara umum, mata kuliah Teknik Optimasi ini -sesuai dengan judulnya- membicarakan mengenai bagaimana caranya kita mengoptimasi suatu proses produksi dengan segala constrain (hambatan) yang ada. Misal, bagaimana caranya memperoleh keuntungan sebanyak mungkin dari ketersediaan sumber daya (modal) yang terbatas, atau bagaimana caranya memperoleh suatu target keuntungan tertentu dari sumber daya yang seminimal mungkin. Selalu ada target dan hambatan ketika melakukan sesuatu. Hidup memang seperti itu, kan?

Mungkin selama ini, kita pernah beberapa kali mendengar teori mengenai mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal (sumber daya) sesedikit-sedikitnya. Sayangnya, menurut gue, teori itu nyaris tidak mungkin.

Di dalam Teknik Optimasi, gue belajar bahwa fungsi tujuan optimasi itu di mana-mana cuma ada satu, di dalam kehidupan nyata sekalipun seperti itu. Mungkin masih ada yang ga paham. Di sini akan sedikit gue uraikan beberapa contoh yang sempat gue tulis tadi.

Kasus 1
Memperoleh keuntungan sebanyak mungkin dari ketersediaan sumber daya yang terbatas
Di dalam kasus ini, kita memiliki constrain berupa sumber daya (modal) yang terbatas dan kita ingin mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin. Katakanlah kita punya industri kue yang memproduksi kue A dan kue B. Kue A harga jualnya lebih mahal daripada kue B. Kue A pakai telur 3 kali lebih banyak daripada kue B. Kue A pakai tepung 2 kali lebih banyak daripada kue B. Jika harga telur adalah sekian dan tepung adalah sekian, silakan tentukan jumlah produksi kue A dan kue B untuk mencapai keuntungan optimum.

Perhatian, soal di atas itu dibikin secara ngasal, ga usah coba-coba dikerjain.

Di sinilah peran dari ilmu optimasi dibutuhkan. Bagaimana caranya kita mengatur jumlah produksi kue A dan kue B, biar sumber daya (modal) ga kurang, tapi untungnya bisa sebanyak mungkin.

Kasus 2
Memperoleh suatu keuntungan tertentu dari sumber daya seminimal mungkin
Di dalam kasus ini, kita ingin memiliki tujuan berupa target keuntungan tertentu dan kita berupaya meminimumkan constrain sumber daya (modal) hingga seminimal mungkin agar target kita tercapai. Misal kasusnya masih industri kue A dan B. Untuk kasus ini agak sedikit berkebalikan. Kali ini kita sudah menentukan mau punya untung sekian untuk tiap kali produksi, tugas kita adalah menentukan jumlah produksi minimum (yang berimplikasi pada modal minimum) untuk mencapai keuntungan tersebut.

Di sini peran dari ilmu optimasi juga dipakai. Bagaimana caranya kita mengatur jumlah produksi kue A dan kue B, biar bisa mendapatkan keuntungan sejumlah sekian, tapi ongkos produksinya bisa sesedikit mungkin.

Kasus imajiner
Mencari keuntungan sebanyak mungkin dengan modal (sumber daya) sesedikit mungkin
Mengapa gue berkata bahwa kasus tersebut adalah imajiner? Karena di kasus itu fungsi tujuannya ada dua (untung banyak dan modal sedikit), pelakunya ga berkorban apa-apa, dan juga ga ada constrain apa-apa. Pada kenyataannya, hidup ga semudah gitu.

----------

Teknik Optimasi mengajarkan gue untuk mencapai sebuah fungsi tujuan dengan adanya constrain tertentu yang harus dihadapi. Adanya 'masalah' memang merupakan suatu indikator kehidupan, kalau ga mau punya masalah mah ya ga usah hidup.

Sesungguhnya, inti besar dari mata kuliah Teknik Optimasi ini adalah kita harus punya fungsi tujuan dalam hidup. Apa sih tujuan kita? Lalu yang selanjutnya harus kita lakukan adalah mengerahkan segala daya dan upaya secara optimal serta efisien, berkorban sana-sini secara optimal serta efisien, mengupayakan segala constrain, dan lain sebagainya secara optimal serta efisien agar fungsi tujuan itu tercapai.

Mengapa harus secara optimal serta efisien? Karena itu adalah tujuan dari Teknik Optimasi. Kalau ga mau optimal dan efisien mah kerjain aja segala sesuatunya tanpa perlu ada strategi dan perhitungan.

Bagaimana kalau kita punya beberapa keinginan dalam satu waktu. Percayalah, itu akan nyaris mustahil dilakukan semuanya. Ingat, fungsi tujuan hanya boleh ada satu.

Hidup sehari-hari di Jepang selama beberapa bulan ini membuat gue belajar Teknik Optimasi dalam bentuk yang lebih nyata dan aplikatif. Teknik Optimasi ini hampir selalu gue dapatkan ketika berniat pergi ke suatu tempat lalu browsing rute menggunakan gmaps *maaf bukan promosi*. Untuk negara yang perihal transportasi massal-nya sudah terkelola dengan baik, gmaps dapat memprediksi dengan luar biasa tepat mengenai waktu tempuh dan ongkos untuk pergi ke suatu lokasi, lengkap dengan berapa kali jumlah pindah kendaraan.

Tiap kali gue mau pergi, gue tinggal menentukan aspek apa yang ingin dioptimasi pada perjalanan kali ini?
Misal hari ini dompet sedang tipis karena uang beasiswa belum turun, ya carilah rute dengan ongkos termurah tapi jangan heran kalau harus pindah kereta/bis beberapa kali, sesekali harus berjalan kaki, serta waktu tempuh yang lebih lama (karena jalan atau pindah-pindah kereta/bis tersebut). Atau misal hari ini berangkat janjian hampir telat, ya carilah rute tercepat tapi jangan heran kalau harganya lebih mahal.

Mau mencari rute tercepat dan termurah?
Bikin aja perusahaan transportasi sendiri~
Itu juga kalau bisa lebih cepat dan murah, haha *ketawa jahat*.

Contoh kasus lain, teman sejurusan gue ada yang punya bisnis konveksi. Bisnisnya berkembang pesat 2-3 tahun terakhir. Suatu hari pas sedang mengerjakan mata kuliah Perancangan Pabrik, gue sempat bertanya secara personal tentang kabar bisnis dan akademis dia. Jawaban dia saat itulah yang seketika membuat gue sadar bahwa Teknik Optimasi ini dapat menyelesaikan lebih banyak pertanyaan dalam hidup, bukan terbatas pertanyaan ujian di atas kertas saja.
"Kan fungsi tujuan optimasi cuma ada satu ya, Dil? Nah, gue pilih kembangin konveksi gue. Nilai gue pada akhirnya ada yang berantakan, sempet juga ga bisa ngambil SKS full di suatu semester karena IP gue kurang. Tapi gue puas, soalnya fungsi optimasi gue terpenuhi. Nanti akademis yang kurang-kurangbisa gue cicil pelan-pelan. Toh batas lulus maksimal 12 semester kan?"
Di situ gue terdiam sambil bengong.
Takjub.

Bagi sebagian orang, mungkin lulus 12 semester bukan pilihan hidup yang ingin diambil. Tapi bagi teman gue ini, lulus 12 semester adalah constrain yang harus dihadapi demi pemenuhan fungsi optimasi agar usaha konveksinya berkembang dengan luar biasa.

Pilihan dalam hidup kadang bisa dihadapi dengan sesimpel itu. Sesimpel mata kuliah Teknik Optimasi. Ga usah berharap biar ga ada hambatan ketika kita melakukan sesuatu karena itu ga mungkin.
Cukup tentukan fungsi tujuannya,
dan upayakan seluruh hambatannya.
:)

Selasa, 21 Juli 2015

Ketupat Milenium

Ada yang tahu ketupat?
Atuhlah ya sedih banget kalo ga tau

Ada yang tahu ketupat milenium? Gue baru liat ketupat ini di abad ini. Sesungguhnya ketupat milenium adalah nama yang semena-mena gue ciptakan sendiri.

Ketupat Milenium

Ketupat milenium ini merupakan beras yang dimasukkan ke dalam plastik HDPE. Plastik HDPE ini lalu di-seal dan diberi bolongan-bolongan kecil di seluruh permukaannya. Yoih, ketupat milenium ini pake plastik coy, udah bukan daun kelapa lagi.

Proses menanaknya juga sangat simpel yakni ketupat hanya direbus di dalam air selama beberapa menit. Ya ini sebenarnya sama seperti merebus ketupat konvensional sih. Haha.

Sebenarnya hanya ada satu hal yang gue kritisi dalam ketupat milenium ini yaitu penggunaan HDPE sebagai kemasan. Plastik, apapun plastiknya, jenis HDPE sekalipun (yang memang biasanya diperuntukan untuk membungkus makanan panas seperti kuah bakso), sebenarnya tidak direkomendasikan terkena suhu panas dalam waktu yang lama karena dapat menyebabkan monomer plastik terlepas dan bermigrasi ke makanan. Perihal migrasi monomer ini menjadi agak sedikit menyeramkan karena monomer tersebut bersifat karsinogenik.

Sedikit banyak, gue agak setuju dengan bio twitter salah seorang teman gue,
"Packaging is partly art and partly science"
Sebenarnya gue akan lebih setuju ketika "Packaging is partly art and partly engineering", hehe. Itu lah ya intinya *naon dil*.

Abaikan paragraf di atas.
Kita ulangi,

Sedikit banyak, gue setuju dengan bio twitter salah seorang teman gue,
"Packaging is partly art and partly science"
Membahas dunia packaging itu seru. Seru banget. Betapa sekarang ini kenampakan packaging juga menjadi salah satu faktor customer dalam memilih produk. Packaging juga harus dapat merepresentasikan produk dengan baik dan memberikan informasi-informasi yang sekiranya dibutuhkan oleh calon customer. Maka dari itu, bargaining position packaging kini sudah bukan semata-mata untuk membungkus benda. Posisi packaging sudah jauh melampaui hal itu.

Termasuk ketupat milenium HDPE ini. Dilihat dari sisi sebelah manapun juga, ketupat milenium ini lebih cantik daripada ketupat daun kelapa. Kadar 'kehigienisan' plastik juga dirasa lebih meyakinkan ketimbang daun kelapa. Ukurannya yang seragam juga merupakan ciri khas dari industri. Di samping itu, di dalam dunia packaging terdapat teori tak tertulis bahwa kemasan bening/transparan itu memberikan kesan mewah terhadap produk yang dikemasnya. Nah!!

Sedih adalah,
Ketika lu pernah PL selama 2 bulan di bagian RnD Packaging,
Lalu lu menjadi jatuh cinta dengan dunia pengemasan,
Lalu lu menjadi asisten mata kuliah pengemasan,
Lalu lu merasa salah stream,
Lalu lu sering berbusa-berbusa cerita mengenai pengemasan di rumah,
Lalu bahkan lu sudah punya ide tugas akhir mengenai pengemasan (tapi ga jadi digunakan),
Dan ternyata keluarga lu membeli ketupat milenium itu untuk lebaran.
*foto di atas itu diambil di meja makan rumah gue*

Di situ gue merasa sedih.
Sedih banget bahkan.

Sedihnya jadi berkali-kali lipat karena ketupatnya enak dan itu bikinan Malaysia.
Gils, itu ketupatnya enak banget coy.

Ketupatnya bikinan Malaysia. Sebenarnya gue ga ada masalah dengan produk bikinan Malaysia atau negara manapun lah. Masalahnya adalah idenya sebenarnya sangat sederhana dan itu produksi luar negeri. Masalahnya pangan adalah perihal hidup dan mati suatu bangsa.

Proses developing ketupat milenium itu pasti sudah melewati perhitungan matematis sederhana dan terstruktur dengan dilandasi fakta-fakta umum yang ada. Kalau kata dosen joss di TIN yang jadi reviewer proyek mata kuliah Perancangan Pabrik gue mah, "..ada evidence base-nya..".

Dimulai dari pemilihan plastiknya, mengapa HDPE pasti sudah ada alasannya. Pasti sudah ditentukan apa jenis dan varietas berasnya. Berapa kandungan amilosa dan amilopektin dari beras sehingga dapat ditentukan besar swelling power *) dari beras. Pasti sudah ditentukan juga berapa volume ruang maksimal dari plastik yang di-seal itu, gils itu kalau mau ribet bisa dihitung pake integral loh --". Pasti juga sudah ada takaran bobot beras per kemasannya sehingga ketika mengembang memiliki keempukan yang pas, ketupat menjadi tidak terlalu keras serta beras dapat mengembang dengan baik. Juga pasti sudah dilakukan perkiraan mengenai jumlah dan lokasi bolongan di plastik serta korelasinya dengan tingkat absorbansi air selama proses menanak beras menjadi nasi. Ini nih aspek paling asoy, ergonomi, ukuran ketupatnya juga sudah sangat pas untuk masuk mulut jika dibagi menjadi 8 atau 6 potongan per ketupatnya, sangat user friendly.

Itu semua gue pelajarin di TIN, bro.
Dan di situ gue merasa makin sedih.
Makin sedih banget.

Hingga tulisan ini diturunkan (5 Syawal 1436 Hijriyah), ketupat daun kelapa di rumah gue baru saja basi tadi pagi (di rumah gue tetap mengukus ketupat daun kelapa juga untuk keperluan hantaran silaturahim ke tetangga) tapi si ketupat milenium itu belum, padahal mereka sama-sama dikukus pada H-1 idul fitri 1436 Hijriyah. Lah kan gue bingung ya. Karena iseng, gue intip lagi kemasan sekunder sekaligus kemasan display-nya. Gue cek komposisinya, ternyata beras dan garam. Oh meeeeeeen. Garam itu pengawet alami coy. Pantes awet dan juga rasa ketupatnya lebih enak.

Di situ gue makin nyess rasanya..
Sediiiih :'(

Tapi kita tak boleh berlama-lama terpuruk dalam kesedihan ini *naon dil*
Kuliah yang bener,
Lalu aplikasikan ilmunya.
Ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amalan anak Adam yang tak terputus meski telah meninggal, kan?

Berhubung belum yakin akan dikaruniakan rezeki berupa anak shalih/shalihah atau enggak, berhubung gue belum yakin dengan wakaf/sedekah jariyah seperti apa yang akan bisa gue lakukan, ya yang bisa gue lakukan sampai saat ini baru yang satu ini, ilmu yang bermanfaat.

OOT sedikit tentang wakaf.
Tahun lalu ketika umrah sekeluarga, gue melihat ada bangunan tinggi banget di dekat Masjidil Haram namanya Zamzam Tower. Zamzam Tower ini, setelah gue kepo lebih lanjut di Wikipedia, merupakan bangunan tertinggi keempat di dunia. Di sisi Zamzam Tower ini ada jam *ini agak ga penting sih*. Dengan kemampuan yang membawah ke bawah, gue berusaha membaca running text arab gundul yang ada di gedung itu. Kalau gue ga salah mengartikan, artinya kurang lebih adalah "Wakaf King Abdul Azis". Nyess. Saat itu, Ibu yang persis ada di samping gue hanya dapat berkata dengan lirih, "Kak, apa yang bisa kita banggain nanti ya tentang amal kita?". Dobel Nyess.

Jangan sampai ilmu itu hanya berakhir di transkrip, lalu dilupakan.
Ditanya oleh dosen penguji ketika sidang, belum juga lulus, eh sudah lupa.
Hayeeeeuh..
Sayang banget,
Padahal Yang Maha Menepati Janji telah berjanji mengenai iming-iming pahala yang tak terputus dari ilmu yang bermanfaat.
Yah sayang aja,
Sayang sama kamu :3 *naon dil*

Karena akan ada masa setelah masa di mana pertanyaannya yang diajukan nanti bukanlah "IP kamu berapa?", melainkan "IP kamu segitu, didapatkannya dengan cara apa? Trus ilmu kamu dengan IP segitu digunakan untuk apa?"
#tsah

Hai para mahasiswa pertanian,
PR kita masih banyak

Hai para mahasiswa dari satu-satunya mayor kuliah yang punya embel-embel "pertanian" di institusi pertanian terbesar bangsa, mayor kuliah yang bermotto "Membawa pertanian menuju kesempurnaan",
Kalau ada yang ga ngerasa 'nyess' ketika baca ini,
Insya Allah gue doakan agar hatinya dilembutkan dan pikirannya dibukakan,
Aamiin
:)

*)
Penjelasan sederhana mengenai swelling power adalah perbandingan mengenai seberapa besar kemampuan perubahan volume pati ketika sebelum dan sesudah diberi air. Contoh simpelnya adalah ketika kita menanak nasi maka kita akan menambahkan air dengan volume yang kurang-lebih sama dengan volume beras (sehingga beras akan mengembang hingga 2 kali lipat dari ukuran awal) karena swelling power beras adalah sekitar 2 sampai 3. Semakin banyak kandungan amilopektin, maka swelling power akan semakin besar. Contoh lain dari swelling power adalah adanya anjuran program penurunan berat badan dengan mensubstitusi nasi menggunakan kentang karena kentang memiliki kemampuan  swelling power yang sangat besar.
#CMIIW

Selasa, 10 Maret 2015

Ketika Agroindustrialis Masuk Dapur

Sejak kecil gue jarang masuk dapur. Bukan karena dimanja atau gue malas, tapi gue itu petakilan, bawel, dan tidak bisa diam sejak kecil maka dari itu gue jarang diminta bergabung di dapur. Kalau perfeksionisnya sedang kumat, gue bahkan bisa ngedumel semisal ada buncis yang keseragaman potongannya tidak sama.

Meribetkan kan punya anak perempuan seperti gue?
Ya maka dari itu gue jarang diminta bergabung di dapur.

Sebelum booming capcin dua tahun terakhir ini, di keluarga besar gue sudah ada minuman yang mirip capcin. Komposisinya adalah serutan cincau hitam, sirup vanila, es batu, dan santan.

Pada suatu pagi, ketika sedang sibuk beberes untuk arisan keluarga di siang harinya, Ibu komplain mengenai ukuran bengkoang yang terlalu kecil. Serba tidak ergonomis. Ketika tidak dibelah dua menjadi terlalu besar untuk masuk mulut dan tidak cukup untuk satu gigitan, sedangkan ketika dibelah dua menjadi terlalu kecil untuk satu gigitan. Haha.

Ibu akhirnya meminta gue untuk membuat capcin-tapi-bukan-capcin itu. Sebelum meperkeruh mood Ibu, gue memutuskan untuk tak perlu menanyakan takaran bahan-bahannya. Bermodal kepercayaan diri yang mendekati sok tahu, gue akan membuat capcin-tapi-bukan-capcin itu dengan ilmu TIN yang gue miliki.

Almarhum Profesor Endang Gumbira Said pernah berkata bahwa beliau sangat suka mencuci piring. Kenapa? Karena di situ ilmu-ilmu selama di TIN akan digunakan. Reaksi penyabunan lah, sisa makanan serta bayangan mengenai cara pembuatannya lah, dan lain sebagainya. Sebenarnya bukan hanya mencuci piring sih, tapi nyaris seluruh kegiatan di dapur itu hubungannya erat dengan ilmu-ilmu yang dipelajari di TIN.

Terkait es capcin-tapi-bukan-capcin ini, apa yang gue lakukan selanjutnya?
Gue menyiapkan kertas untuk coret-coretan. Lalu gue menulis hal-hal yang gue ketahui untuk keberlangsungan proses pembuatan capcin-tapi-bukan-capcin ini.
- Sirup harus memiliki kandungan gula sekitar 65% menurut SNI
- Santan instan yang digunakan tertulis mengandung lemak nabati sebesar 25%
- Es batu memiliki massa jenis sekitar 0,9 gram/cm kubik

Suatu bahan akan dapat terasa manis ketika memiliki kandungan gula sekitar 12 bricks. Bricks ini adalah kadar kemanisan, yakni jumlah gula dalam 100% campuran bahan. Selanjutnya, karena efek PL di pabrik susu bayi, gue jadi hapal bahwa susu memiliki kandungan lemak sekitar 3-3,5% dan padatan non-lemak sebesar 8% sehingga total padatannya menjadi 11%. Kali itu gue mau membuat capcin-tapi-bukan-capcin ini menjadi seencer susu (agar aftertaste-nya tidak terlalu terasa berlemak di mulut). Di samping itu, karena tahu bahwa akan ada arisan keluarga pula, beberapa hari sebelumnya asisten Ibu di rumah telah membekukan A*ua gelas agar dapat dijadikan bahan es.

Selanjutnya adalah gue mencorat-coret kertas, ditemani dengan kalkulator scientific kesayangan yang sudah gue miliki sejak olimpiade astronomi 2010 lalu. Didapatilah bahwa gue harus mengencerkan sirup menjadi lima kali lebih encer dan santan menjadi tujuh kali lebih encer lalu dicampurkan. Di sini gue tidak menggunakan air, melainkan hanya bermodalkan es batu, dengan harapan supaya capcin-tapi-bukan-capcin ini akan tetap dingin sekaligus tidak menjadi hambar karena terlalu encer setelah es batu mencair.

Sepintas Ibu melihat lalu menegur,
Ibu : Ngapain, Kak?
Gue : Ngitung takaran bahan, Bu..
Ibu : *geleng-geleng gagal paham* Dasar anak TIN..

Sebelumnya, gue telah mencuci mangkuk besar tempat meracik capcin-tapi-bukan-capcin itu. Gue sempatkan memenuhinya dengan air lalu mengeluarkan airnya dengan cangkir. Tadaaaaa. I've got the volume.

Proses perhitungan selanjutnya adalah matematika sederhana mengenai perbandingan senilai. Lalu, dapat ditebak. Es capcin-tapi-bukan-capcin itu akhirnya selesai dengan gemilang. Selama tidak ada yang komplain, gue mengasumsikan itu enak.

Semoga untuk ke depannya jadi sering-sering praktikum ya, Dil,
Praktikum terpadu,
Di dapur :)