Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 September 2014

Obat yang Baik

Iya, gue tau ini memang alay kok :p

Semoga doa Ayah-Ibu dalam nama lu bisa terwujud secara sempurna :)

Selamat ulang tahun hei tetangga kamar,
Syifa Khairin
:)

Sabtu, 16 Agustus 2014

Bego Time

I have something named 'Bego Time'. Ini adalah istilah yang digunakan ketika gue sedang nge-bego, bersama..
Tetangga kamar gue di rumah

Gue dan adik gue *iya, gue tau kok, gue memang lebih item*

Dulu pas masih kecil, gue dan dia kerjanya berantem melulu karena dia menyebalkan. Setelah dia SMA, setelah dia mulai mengerti pahit-manis kehidupan, dia menjadi lebih menyenangkan dan intensitas kami berantem sudah tidak sesering dahulu.

Gue dan adik gue ini sefrekuensi. Kami bisa ketawa bego untuk suatu hal dengan kadar kelucuan yang sama rendahnya, semisal mainin kucing. *Apa lucunya dari mainin kucing? Nah itu dia, kami bisa menertawakan hal yang ga lucu itu bareng-bareng*

Ada pintu penghubung antara kamar gue dan kamar dia. Aktivitas nge-bego paling #gagalpaham yang dilakukan oleh kami berdua akhir-akhir ini adalah sok-sok berasa di film 'Frozen', berdiri madesu di depan pintu itu sambil bernyanyi,
"Do you want to build a snowmaaan~?"

Ini ada sedikit kisah gue dan dia di Line..
Gue dikatain gobolok masa --" dasar kamu adik macam apa --"

Ada satu hal yang menyenangkan banget punya adik perempuan dengan beda 2 tahun 2,5 bulan. Ukuran badan yang ga beda jauh dan ukuran kaki yang cuma beda senomor, gue jadi berasa punya satu lemari baju tambahan dan selusin tambahan alas kaki.

Kejebak macet ke arah Bogor Kota *iya, rumah gue memang mepet kabupaten* di H1 Idul Fitri?
Ini kelakuan kami berdua..

Ibu : "Kenapa bibirnya harus banget miring (-___-")?"

Efek Kamera 360, hasil gambarnya jadi pencerminan

Sepupu : "Kak, harus banget pose ngupil (-___-")?"

Kacamata antibadai

Entah ini skenarionya sedang ngapain, sok-sok pundung sepertinya

Mangap; pose paling bullyable karena bentuk gue dan dia jadi beler banget

Jumat, 04 Juli 2014

I'm a Five Days Worker [Keluarga Bungsu]

Selama PL ini gue tinggal di rumah tante gue. Tante gue ini merupakan adik bungsu dari Ibu yang 6 bersaudara. Suami dari tante gue juga merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara. Tante gue memiliki 2 orang anak, anak pertamanya laki-laki (naik) kelas 3 SMA dan anak terakhirnya perempuan (naik) kelas 3 SMP. Jadi sesungguhnya di rumah tante gue itu terdapat 3 orang anak bungsu, haha. Anak sulungnya cuma sepupu gue yang laki-laki doang.

Sepupu gue itu biasa dipanggil 'Kakak' dan 'Adek'. Dengan adanya gue, panggilan 'Kakak' jadi bertambah. Akan tetapi panggilan untuk gue akan ada embel-embelnya menjadi 'Kakak Dila'.

Karena masih liburan, selama gue PL dalam 2 minggu ini nyaris selalu diantar-jemput oleh Kakak. Kalau Kakak berhalangan mengantar-jemput, tenaaang, banyak supir yang akan mengantar gue ke factory. Supir angkot maksudnya. Setelah masuk sekolah minggu depan, rencananya gue akan berangkat bareng Adek ke sekolahnya dengan supir (yang kali ini bukan supir angkot) karena selama Adek libur sekolah supirnya juga libur nyupir, hehe.

Supir pribadi yang ganteng bersama teman sekamar selama 8 minggu
Karena sebagian besar personil keluarga tante gue ini adalah anak bungsu, selama ini Kakak selalu jadi minoritas. Setelah ada gue, dia jadi punya temen senasib yang sesama bukan anak bungsu.

Sedikit-banyak, cara berpikir anak bungsu dan anak sulung itu berbeda. Simpelnya, anak bungsu itu memiliki jejak yang dapat dicontoh, kakak-kakaknya. Sedangkan sebagai anak sulung, ya dialah yang harus membuat jejak itu. Sebagai anak bungsu, jika semisalnya mendapati kakaknya tidak sukses, yang dapat dia lakukan adalah cukup dengan tidak mengikuti jalan yang diambil kakaknya tersebut. Tapi kalau anak sulung, dia ga punya acuan untuk melakukan sesuatu dan dia harus memikirkan sendiri mau melakukan apa dan bagaimana cara untuk mendapatkannya. Anak bungsu juga sadar bahwa dia punya kakak yang bisa diandalkan (meskpiun mungkin pas masih kecil kerjanya berantem melulu). Sedangkan anak sulung sadar, dia punya adik yang kalau kenapa-napa bakal minta tolong apa-apa ke dia. Mungkin itu sebabnya mengapa sebagian (besar) anak sulung itu perfeksionis, bossy, ambisius, dan terlalu banyak memikirkan SWOT kalau mau melakukan sesuatu.

Kalau kata Ibu mah, anak bungsu itu, mau udah segede apa juga, mau udah punya anak 2 sekalipun, tetep aja judulnya anak bungsu. Haha. Hal ini didasari ketika gue diantar Ibu ke tempat tante gue untuk menyerahkan proposal PL ke kantor pusatnya di Jakarta, tante gue telah menunggu di lobby kantornya ketika mobil Ibu tiba, lalu tante gue lari-lari kecil ke arah mobil sambil memanggil-manggil manja,
"Ni Yayaaang.. Ni Yayaaang" *lengkap dengan muka unyu*
'Ni' itu maksudnya Uni (kakak perempuan dalam bahasa Minang) dan 'Yayang' itu panggilan sayang Ibu.
Ibu hanya bergeleng-geleng tak paham.

Begitulah. Kalau sedang pada ngebocah, sepupu gue yang perempuan, tante gue, dan om gue bisa ngebocah bertiga. Gue dan sepupu gue yang laki-laki cuma bisa menatap penuh tanya.

Berbeda dengan Kakak. Kalau di rumah gue, biasanya adek gue yang jadi minoritas karena dia anak bungsu sendiri. Gue anak sulung, Ayah anak kedua (tapi anak laki-laki pertama), dan Ibu anak ke-4 (tapi dari kecil dapet tanggung jawab khusus untuk mengasuh 2 adiknya). Adek gue selalu senang tiap main ke rumah tante gue ini, mungkin karena sebagian besar frekuensinya sama, sama-sama anak bungsu.

Gue jadi inget dengan salah satu kejadian ketika gue masih SMP. Suatu hari gue menginap di rumah tante gue ini. Hari sudah malam dan semua akan beranjak tidur, lalu tante gue berkata,
"Kak, cek semua gorden, jendela, sama pintu dulu ya sebelum tidur"
Sepupu gue yang ketika itu masih kecil, masih SD, bertanya balik,
"Kok aku siiih? Kenapa bukan Ayah?"
Dan tante gue dengan jahilnya menjawab,
"Kan Kakak anak pertama. Nih ya, Ibu, Ayah, sama Adek kan anak terakhir. Kak Dila juga anak pertama, tapi kan Kak Dila perempuan."
Akhirnya sepupu gue itu mengecek semua gorden, pintu, dan jendela meskipun meminta gue untuk menemani. Gue ngakak lah itu..

Om-tante gue (khususnya dua orang adik-nya Ibu beserta pacarnya yang kini jadi suami/istrinya) adalah termasuk yang mengurus gue bangetbanget ketika gue masih bayi, secara gue cucu kedua dari pihak keluarga Ibu yang cuma 3 bulan lebih muda dari sepupu gue yang cucu pertama. Jadi gue adalah the one and only yang bisa dimain-mainin ketika masih bayi dulu.

Kalau gue denger cerita-ceritanya, first salary om-tante gue yang dua orang adiknya Ibu itu diserahkan ke kakek-nenek gue, lalu second and the next-nya dipakai untuk membeli peralatan bayi. Untuk gue. Unyunyunyunyuuuuu :3

Karena anak bungsu, tante gue itu memang unyu sekali. Dengan sok-sok cadel, kadang memanggil gue 'Kakak Tila'. Dan beberapa hari lalu gue dibully dengan rusuh di grup wassap keluarga.
Terbully (part 1)

Terbully (part 2 dan sebenarnya masih berlanjut)

Kutapi syalala dan onde-onde itu apa?
Yaaya dan nenek awa itu apa?
Itu adalah sebagian kelucuan kelakukan gue ketika kecil dahulu.

Aib Masa lalu gue ketika bayi memang sudah menjadi konsumsi keluarga besar secara luas.
-_____-"
Ibu bahkan pernah berkata bahwa dengan senang hati beliau akan menceritakan segala kelakuan gue ketika masih kecil ke suami gue kelak.
 
Ya begitulah, 8 minggu ini akan menjadi 8 minggu tersendiri yang menyenangkan untuk gue. Terlebih karena Ibu akan menjadi luar biasa unyu dan kangen-kangen gitu padahal baru 3 atau 4 hari ga ketemu. Juga karena tante gue akan menge-share di grup wassap keluarga kalau gue sedang melakukan hal-hal aneh seperti mainin kucing atau nonton film kartun Disney (padahal film kartun Disney mah memang terlalu sayang untuk dilewatkan) sehingga intensitas berkomunikasi dengan keluarga besar menjadi luar biasa sering.

Hal yang paling menyenangkannya adalah di rumah tante gue ini ada buku seabrek-abrek yang menunggu untuk dihabiskan dalam 8 minggu ini. Kalau kata dua orang berbeda di dua kali ulang tahun yang berbeda mah, intinya, jangan lupa baca buku.
:)

Jumat, 20 Desember 2013

Tak Mau Berkata Tidak (Part 1: Pulang-Pergi)

Ketika gue mulai kuliah, gue baru sebenar-benarnya sadar bahwa Ayah dan Ibu gue sudah tidak muda lagi. Mengingat salah satu teman gue pernah memasang status di fb yang berbunyi,
Kita boleh menikmati hidup di masa muda, tapi perlu kita ingat bahwa orang tua kita semakin menua.
mungkin redaksinya udah ga pas, tapi intinya begitu lah. Hal itu mengakibatkan gue bertekad untuk tidak berkata 'tidak' terhadap apapun yang dikatakan orang tua gue. Toh selama ini belum pernah terbukti ada orang tua yang mau menjerumuskan anak sendiri kan?

Gue memiliki seorang adik yang hanya berselisih umur 2 tahun 3 bulan. Adik gue ini sekarang kuliah di UNJ jurusan Ilmu Komunikasi Keluarga, dan yang membuat gue cukup ga percaya pada awalnya adalah ternyata jurusan dia itu masuk ke dalam Fakultas Teknik. Adik gue yang mengekos di sektar kampusnya (ajigile kalo dia sampe pulang pergi --") membuat gue seringkali merasa menjadi anak tunggal di rumah.

Semenjak adik gue SMA, Ayah dan Ibu menjadi semakin sering mengambil tugas dinas. Jika pada awalnya itu ada sejenis perjanjian bahwa Ayah ga akan dinas kalau Ibu dinas dan sebaliknya, semenjak adik gue SMA itu ga ada lagi. Mungkin salah satu alasannya adalah gue dan adik gue semakin jarang ada di rumah, jadinya meskipun Ayah-Ibu di rumahpun akan tetap jarang bertemu gue dan adik gue.

Kini ada tiga kondisi umum yang ada di rumah yaitu Ibu sendirian di rumah, atau Ayah sendiri di rumah, atau rumah kosong sama sekali. Hal itu mengakibatkan gue mau ga mau akan pulang.

Satu hal yang gue rasakan adalah Ibu semakin hari semakin tinggi kadar unyunya. Pernah suatu ketika gue sedang praktium dan berniat untuk nginep di kosan pada malam harinya, tetiba Ibu meng-sms,
Kak, pesawat Ayah delay. Baru sampai rumah nanti jam 2 pagi. Kakak malem ini pulang ya, temenin Ibu :)
Lengkap dengan emoticon senyum.
Unyu banget. Seberapa banyak sih anak perempuan umur 20 tahun yang di-sms kayak gitu sama ibunya :3

Ampun lah, gue ga mungkin bilang 'enggak' kalo gini caranya. Seketika gue langsung izin ke asprak, bilangnya sih mau shalat. At the end, gue memang shalat, tapi di kosan (hehe, ga salah kan gue? :p) untuk sekalian ngambil jaket dan bisa langsung pulang setelah praktikum.

Selama semester 5 ini gue sangat sering pulang ke rumah, bahkan udah 3 minggu terakhir gue menyentuh kosan baru satu kali untuk ngambil almamater karena akan digunakan di Sidang Umum BEM. Karena apa? Ya karena alasan-alasan seperti itu tadi.

Gue kira pada awalnya gue bisa ga perlu pulang jika Ayah dan Ibu ada di rumah. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Suatu hari gue pernah menerima sms yang berbunyi,
Kak, Ibu dan Ayah mumpung di rumah nih. Kakak pulang ya sore ini, biar malemnya kita bisa jalan-jalan bertiga.
Ga mungkin juga lah gue bilang 'enggak' kalo kayak gitu caranya.

Tanpa gue sadari gue jadi hobi banget pulang-pergi selama semester ini. Gue sangat senang dengan kegiatan pulang-pergi gue yang ini dalam arti yang sebenarnya. Dan ketika ada yang bertanya apakah gue capek, sesungguhnya gue ga merasa capek sama sekali, karena pada nyatanya bertemu rumah dan keluarga memang ga akan pernah bikin capek. Iya kan?

Rabu, 16 Oktober 2013

Celetukan Sepupu yang Mendadak Galau Ketika Sedang Memotong Daging Kurban

"Pasangan itu terdiri dari kata 'pas' dan 'angan'.."
.Puti Fauzia Faiza, J3B111011.

Kamis, 29 Agustus 2013

Menghargai Diri

"Sometimes, you have to make sure. Apakah Kakak sebenernya diperlukan atau enggak di organisasi dan kepanitiaan yang Kakak ikutin? Ada-tidaknya Kakak itu berpengaruh apa enggak di organisasi dan kepanitiaan yang Kakak ikutin? Salah satu caranya ya kayak gini, menghilang sebentar, 1-2 hari juga cukup, yaaa maksimal 3 hari lah. Kalau Kakak emang dibutuhin, orang-orang akan ngerasa kehilangan pas Kakak enggak ada, jadi mereka bisa lebih ngehargain keberadaan Kakak. Kalau ternyata emang enggak ada yang merasa kehilangan, saatnya Kakak yang menghargai diri Kakak sendiri. Resign. Masih teramat banyak hal yang sebenernya bisa dilakukan kan?"
.Dosen Pertama dalam Hidup Gue.

Seperti sebelumnya, gue sangat jarang untuk ga sepaham dengan opini orang tua gue karena opini mereka selama ini sebenernya sangat logis, begitu pula untuk yang kali ini.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Sekeping Kisah pada Hari Kedua Idul Fitri

Pengantar kisah ini sebenarnya bisa begitu panjang. Untuk memudahkan, cukup rasanya diceritakan bahwa selama konvoi 5 mobil keliling Jabodetabek dalam rangka silaturahmi (ke adik-kakaknya almarhum kakek dari pihak Ibu) pada H2 Idul Fitri ini gue terusir oleh adek gue dari mobil Ayah-Ibu sehingga gue berada di mobil saudara gue yang ada tivinya.

Alkisah, sepanjang perjalanan yang rasanya panjang banget itu kami (gue dan 4 sepupu gue yang kakak beradik) nonton tivi. Hingga pada salah satu channel tivi yang menampilkan iklan Master Chef,
Tante gue : Inget ya, Nak, jangan nonton Master Chef.
4 Sepupu gue : Iya, Bu..

Karena merasa bingung, gue memberanikan diri bertanya mengapa para sepupu gue itu ga boleh nonton Master Chef. Ternyata jawabannya adalah,
Om gue : Soalnya mereka mencela makanan, Kak. Apa lagi jurinya si Chef *tuuuut* *pasti taulah siapa*. Kan kata Rasul, kita ga boleh mencela makanan..
Dan tetiba gue merasa bahwa kini membesarkan anak dengan baik kian sulit.

Minggu, 14 April 2013

Seni Menahan

Setelah gue belajar mata kuliah Pengembangan Sumberdaya Manusia di semester 4 ini, ada materi kuliah mengenai serangkaian tahap aktivitas sumber daya manusia yang di antaranya adalah menahan pegawai. Memiliki seorang ibu yang berprofesi sebagai dosen yang juga bekerja pada bidang Badan Pengembangan SDM Kelautan-Perikanan dan ayah yang pernah menjadi penyuluh membuat gue baru menyadari bahwa sejatinya materi mengenai menahan ini sudah diterapkan di rumah gue sejak jauh-jauh hari.

Gue yang --pernah dijebak sehingga-- hobi membaca difasilitasi sedemikian rupa dengan adanya langganan majalah mingguan sehingga betah di rumah. Setelah majalah mingguan dirasa terlalu tipis (sehingga tamat dalam sehari) maka keluarga gue mulai berlangganan koran demi memuaskan gue yang sangat cepat kehabisan bahan bacaan *padahal katanya dulu orang tua gue baca koran di tempat kerja masing-masing*. Sedangkan adik gue yang hobinya nonton sangat difasilitasi dengan orang tua gue yang ga mikir terlalu banyak untuk membelikan film-film dengan alur dan moral value yang bermutu. Kedua hal itu membuat gue dan adik gue menjadi anak rumahan, rumahan banget malah.

Ketika masa SMP, di mana sedang mewabahnya warnet, maka orang tua gue memasang internet di rumah dengan tujuan agar anak-anaknya ga perlu ke warnat untuk ngenet, cukup di rumah. Selain gue dan adik gue yang seneng karena ga perlu keluar uang untuk ke warnet, orang tua gue juga tenang karena bisa memantau apa-apa saja yang dilakukan oleh gue dan adik gue di internet.

Masa SMA, seiring dengan bertumpuknya tugas, korespondensi acara Smansa Day *iya, gue juga bingung kenapa sering jadi sekretaris*, regen, oprec, dan lain sebagainya, printer di rumah yang sudah tua akhirnya diperbaharui sehingga gue ga perlu jauh-jauh jika ingin mengeprint, cukup di rumah.

Seni menahan yang dilakukan di keluarga gue terus dikembangkan menjadi semakin mutakhir. Pada tahun lalu, ketika awal semster 2 didapatilah bahwa gue jadi jarang pulang karena terlalu asik dengan BEM TPB. Intensitas pulang gue ketika semester 1 bisa sampai 4-5 malam di rumah dalam seminggu (karena gabut banget ga ada kuliah Fisika dan Bahasa Inggris), sedangkan semester 2 paling sekitar 2-3 malam dalam seminggu, ditambah malam Minggu sering tidak di rumah karena acara BEM biasanya hari Minggu (jadinya harus stand by sejak pagi sehingga malesin dan ngeribetin Ayah kalo harus berangkat dari rumah). Seni menahan yang dilakukan orang tua gue untuk kasus kali ini terbilang cukup ekstrem, yaitu membelikan gue motor. Alhasil, jadilah gue hobi banget pulang-pergi karena punya motor.

Seiring waktu, kini adik gue udah memilih jurusan yang diminatinya untuk SNMPTN Undangan. Secara garis besar, jurusan yang diminati adik gue adalah jurusan IPS yang berkisar mulai dari Psikologi, Ekonomi, Manajemen, hingga Hubungan Internasional. Dengan kesadaran diri pula, adik gue tidak memilih UI untuk dijadikan tujuan, "Susah, Kak. Aku ga yakin bisa masuk kalo UI lewat Undangan mah. Lewat ujian tulis juga ga yakin-yakin amat..". Alhasil dua kampus pilihan adik gue adalah Unpad dan UGM.

Ayah dan Ibu gue bukan orang yang akan menyarankan ini-itu terkait pemilihan universitas karena takut anaknya memilih hanya karena tidak enak menolak saran orang tua. Tapi dari lubuk hati terdalam, sebenarnya gue tau bahwa Ibu sangat ingin adik gue masuk IPB karena satu dan lain hal.

Yap, seni menahan itu kini dilakukan lagi. Kemarin sore gue dan adik gue menerima sms yang berbunyi..
"Dil, Fa, di mana? Dila nginep di perumdos lagi ga malam ini? Sekarang di rumah sudah dipasang wifi lho. Seisi rumah dapat sinyalnya, tapi di kamar Dila rada lemah."

Tahukah apa pertanyaan adik gue ke gue kemarin malam?
"Kak, di IPB selain fakultasnya Kakak dan Ibu, ada fakultas apa lagi? Waktu itu Kakak pernah saranin ke aku apa aja sih? Ada FEM, SKPM, Arsitektur Lanskap? Trus apa lagi ya, Kak, yang kira-kira pas sama aku?"

Yah, Bu, seni menahan yang kali ini luar biasa sukses :)
Hehe :D

Rabu, 27 Februari 2013

(Mungkin) Cuma Ibu Gue

Ketiga percakapan di bawah ini adalah percakapan random yang berlangsung pagi ini..

Percakapan 1
Gue : Bu, aku mau bayaran kuliah
Ibu : Berapa?
Gue : *blubup blubup* *sensor jumlah nominal*
Ibu : Ooooh *muka datar* Eh, kemaren IP kakak berapa?
Gue : *blubup blubup* *sensor IP*
Ibu : Yaudah, IP Kakak kaliin sejuta. Ibu bayarin segitu aja, kalo masih kurang sisanya nambahin sendiri. Kalo lebih, lebihnya buat Kakak *pokerface*
Gue : *cuma diem*

Percakapan 2
Gue : *muka jail* Bu, hari ini ada wisuda lhoooo, Ibu kapan wisuda?
Ibu : Hmmmh, ngeledek mulu. Pokoknya Ibu wisuda sebelum Kakak. Meskipun Kakak selesai kuliahnya duluan tapi pokoknya wisudanya Ibu duluan

Percakapan 3
Tiba-tiba Ibu cerita panjang lebar saat gue nyamperin beliau yang sedang ngerjain disertasi yang tak kunjung usai karena sampel ikannya mati mulu di Purwakarta.
Ibu : Kak, dari jaman Ibu masih kuliah dulu tuh udah terkenal anak Fateta tuh kuliah mulu, pekerja keras karena untuk bertahan hidup di fakultasnya itu susah. Makanya dulu pas masih kuliah, Ibu pengennya nyari cowok anak Fateta, tapi ga dapet. Makanya pas Kakak masuk Fateta Ibu seneng banget sebenernya, tapi Ibu ga mau keliatan seneng takutnya nanti Kakak ga enak hati untuk milih ke jurusan lain. Yaaa, ga apa-apa lah ga dapet suami Fateta, kan anak pertamanya udah masuk Fateta. Trus nanti kalo misalnya Ibu punya menantu anak Fateta juga boleh kok..
Kalimat terakhir tepok jidat banget..

Rabu, 06 Februari 2013

Kemarin Pagi

Kemarin adalah hari Selasa, Ibu ngajar di kantor depan rumah. Sebelum berangkat, gue cium tangan dulu ke Ibu, dan..
Ibu : Kak, sini cium dulu..
Gue yang emang pada dasarnya seneng kalau diperlakukan kayak anak kecil sama Ibu *tapi kalau sama yang lain ga mau, cuma sama Ibu aja* ya seneng-seneng aja. Lalu ibu mencium pipi kanan dan kiri gue. Saat gue mau mandi beberapa saat setelahnya, gue bercermin dan ternyata ada bekas lipstick Ibu di pipi gue.

Jadi pas masih kecil tuh dulu gue sangat senang jika dicium Ibu dan ditinggalkan cap bibir di tempat Ibu mencium gue. Mungkin terdengar rada sedikit menggemaskan pas gue masih kecil dulu alay sekarang, tapi biarlah..

Jumat, 28 September 2012

Bintitan

Hari Minggu 16 September lalu, Tim Kreatif MPF (yang telah pernah rela mengorbankan rasa malu dan harga diri di depan seluruh Fateta angkatan 48, plus panitia Techno F) ditraktir makan di Dahlia oleh ketua angkatan Fateta 48. Berkumpul terlebih dahulu di Koridor GKA, dan sempat ngegaring serta ngegaje karena nungguin yang pada belum ngumpul.

Hingga tiba-tiba..
Dewi : Delmar, lu bintitan ya?
Entah siapa nyeletuk : Ngintip siapa lu, Mar?

Lalu saat gue ngeliat Delmar, ternyata matanya emang udah naas banget, wajar kalo Dewi menyangka bintitan. Di samping Delmar ada Dara yang kok setelah gue liat lebih lanjut juga nyaris seperti bintitan.

Dan mendadak gue tau kenapa Delmar telihat seperti bintitan.
Gue : Dew, bukan Delmar yang bintitan. Lu liat aja gue sama Dara juga nasib matanya udah kayak gitu..



Catatan kaki :
Gue adalah orang yang paling ga punya skill begadang sedunia. Tapi untuk kesekian kalinya dalam 4 minggu ini gue harus begadang dan itu menghancurkan seluruh siklus tidur gue yang mahaapik. Bahkan malam ini..

Rumah, 1:34 AM
Pulang, begadang demi mencari tugas karena satu-satunya tempat di mana gue bisa begadang, gugurusukan dan operasi dapur tengah malem, tanpa ada yang merasa terganggu sejauh ini masih cuma rumah. Tempat di mana gue cuma cukup duduk di depan laptop dengan muka naas, lalu ga lama kemudian ada susu atau cokelat panas mahaenak sedunia. Ada Ibu yang rela duduk di samping gue, walopun ujung-ujungnya tidur juga, tapi dengan niat awal untuk nemenin gue begadang.


Pesan moral :
Tugas TIN membuat gue menyadari banyak hal yang berharga di tempat sejauh 12,5 km dari lokasi gue mencari ilmu. Baiti jannati..

Selasa, 21 Agustus 2012

Tertampar Bolak-balik

Suasana Idul Fitri tahun ini membuat gue sedikit lebih beres. Setidaknya dalam beberapa hari ini gue berhasil merenungi beberapa hal secara random, termasuk untuk yang satu ini.

Tentang keluarga.

Seusai membaca buku Kicau Kacau (penulis : Indra Herlambang) yang gue pinjem dari saudara gue, lebih tepatnya di bab mengenai keluarga, gue jadi mulai berpikir lebih banyak mengenai keluarga gue selama ini.

Setelah iseng membuka-buka folder di laptop yang berjudul 'Segala Foto-Foto' ternyata sedikit sekali folder yang isinya tentang foto-foto keluarga, baik itu foto liburan atau cuma foto-foto ketemuan hampir tiap minggu doang di rumah nenek. Memang sih mungkin dalam setiap kesempatan foto itu bukan menggunakan kamera dari rumah gue, tapi biasanya akan selalu diupload di FB dan gue sebenarnya bisa saja dengan mudah men-download itu sesuka hati. Tapi apakah gue lakukan? Sepertinya sejauh ini tidak. Padahal untuk acara-acara kampus dan Smansa, gue cukup sering ngambi-ngambilin foto yang bagus-bagus dari album orang di FB.

Lagi-lagi merasa jleb banget, manakala di laptop gue ada dua buah folder dengan size besar berjudul 'Smansa' dan 'IPB' yang di dalamnya ada banyaaaaaaak banget berisi folder-folder lain. Jika ukuran besar-tidaknya sebuah folder berkaitan dengan banyak-tidaknya lu berkontribusi dalam hal tersebut, maka folder 'Keluarga' itu isinya dikit banget. Jadi, apa yang udah pernah gue lakukan selama 19 tahun di keluarga gue ini? Cuma nerjemahin literatur S3 Ibu dalam bahasa Inggris menjadi Bahasa Indonesia dengan kemampuan seadanya? Sangat cetek dan bukan pencapaian yang bisa dibanggakan.

Di samping itu, dengan teramat sadar, gue menyadari bahwa bahkan di blog gue sendiri ga ada label tentang keluarga. Padahal di blog ini ada label tentang Cosmic, Pandawa, Ar-Rahmah, Smansa, IPB, Tribi, dan Madani. Makin tertohoknya adalah bahwa gue bersama lingkungan dengan label-label itu palingan hanya setaun atau dua taun, yaaaaah yang label IPB ini sepertinya bakal awet selama 4 taun. Postingan selewat tahun-tahun yang dialami bersama itu palingan berupa ingatan yang tercecer, atau reuni kecil-kecilan, atau paling gue aja yang sedang kangen dan melankolis. Daaaaaaan, ga ada label tentang keluarga *ieu sakaliiiiiii, Diiiiiiil*.

Sebanyak apapun gue meng-claim aktivitas gue sebagai keluarga entah keberapa, keluarga ini tetap keluarga nomor satu..
Sebanyak apapun gue meng-claim tempat-tempat yang pernah gue singgahi untuk sekedar rapat, sekolah, kuliah, dan mempelajari kehidupan sebagai rumah entah keberapa, tapi rumah dengan keluarga nomor satu gue tetep jadi rumah nomor satu :')


#Tuuuuh kaaaan, bahkan foto keluarga lengkap berempat yang terbaru aja gue ga punya.