Iya.
Memang itu jawabannya.
*ga ngerti kaaan?*
*hehehe*
Senin, 22 Desember 2014
Jumat, 12 Desember 2014
Menatap Masa Lalu
Hal terjauh bagi manusia adalah masa lalu. Secara spesifik mungkin harus digarisbawahi bahwa yang jauh itu adalah masa lalu dari orang yang bersangkutan.
Pada kenyataannya, kita senang terjebak dalam masa lalu. Kita senang mengingat masa lalu, lalu menceritakannya. Kita menulis, mencatat, dan mendokumentasikan hal-hal yang pada intinya bertujuan untuk mengabadikan masa lalu.
Sebenarnya masa lalu itu tidak sejauh yang kita kira. Itu semua bergantung dari masa lalu (si)apa.
Pada kenyataannya, kita senang terjebak dalam masa lalu. Kita senang mengingat masa lalu, lalu menceritakannya. Kita menulis, mencatat, dan mendokumentasikan hal-hal yang pada intinya bertujuan untuk mengabadikan masa lalu.
Sebenarnya masa lalu itu tidak sejauh yang kita kira. Itu semua bergantung dari masa lalu (si)apa.
8 menit 19 detik juga tetap masa lalu.
![]() |
| Matahari Desember pagi dari jendela kamar |
Dan aktivitas paling menyenangkan dengan masa lalu adalah,
Stargazing.
![]() |
| sumber gambar http://community.usvsth3m.com |
:)
Kamis, 11 Desember 2014
Terapi
Sejak kecil gue sangat sering batuk di musim hujan. Sekalinya sudah batuk, beeeeuh, jangan ditanya, bisa lamaaaaaaaaaaaa sekali. Lama dalam durasi tiap batuknya, juga lama sembuhnya.
Penyakit batuk gue juga gejalanya tak kunjung berubah. Sampai gue hapal. Awalnya biasanya radang hingga badan demam, lalu berubah menjadi batuk kering. Jika ketika dalam fase batuk kering ini sudah dapat sembuh, syukurlah. Akan tetapi, ketika tak kunjung sembuh, silakan tunggu dalam hitungan hari sebelum berubah jadi batuk berdahak yang luar biasa tak enak.
Orang serumah sudah hapal, ketika gue sedang batuk parah maka jangan diajak ngobrol. Jika gue sedikit 'nakal' dan berbicara sekalimat, maka batuknya dapat mencapai setengah menit. Jika gue makan gorengan, jangan ditanya, efek sampingnya akan terasa dalam waktu kurang dari dua menit. Saking parahnya batuk gue, seringkali gue semalaman sulit tidur dan berulang kali terbangun karena batuk.
Akhirnya Ayah berteori agar gue melakukan sesuatu yang membutuhkan pengaturan pernafasan secara sadar sehingga batuk gue dapat mereda. Kelas 2 SD gue diikutkan les bela diri yang ada latihan pernafasan-pernafasan gitu. And it works.
Berhubung gue sejak kecil sudah terlalu petakilan, Ibu akhirnya menghentikan les bela diri gue. Dan gue kembali dilanda batuk di musim hujan berikutnya. Berkali-kali disuruh mencoba menerapkan ilmu pernafasan yang sudah pernah didapatkan ketika les bela diri lalu, tapi sudah keburu lupa, haha.
Kelas 4 SD, Ibu menemukan les lain yang mengatur agar gue bernafas secara sadar. Tentu saja lebih anggun ketimbang bela diri, les renang, and it works.
Penyakit batuk gue juga gejalanya tak kunjung berubah. Sampai gue hapal. Awalnya biasanya radang hingga badan demam, lalu berubah menjadi batuk kering. Jika ketika dalam fase batuk kering ini sudah dapat sembuh, syukurlah. Akan tetapi, ketika tak kunjung sembuh, silakan tunggu dalam hitungan hari sebelum berubah jadi batuk berdahak yang luar biasa tak enak.
Orang serumah sudah hapal, ketika gue sedang batuk parah maka jangan diajak ngobrol. Jika gue sedikit 'nakal' dan berbicara sekalimat, maka batuknya dapat mencapai setengah menit. Jika gue makan gorengan, jangan ditanya, efek sampingnya akan terasa dalam waktu kurang dari dua menit. Saking parahnya batuk gue, seringkali gue semalaman sulit tidur dan berulang kali terbangun karena batuk.
Akhirnya Ayah berteori agar gue melakukan sesuatu yang membutuhkan pengaturan pernafasan secara sadar sehingga batuk gue dapat mereda. Kelas 2 SD gue diikutkan les bela diri yang ada latihan pernafasan-pernafasan gitu. And it works.
Berhubung gue sejak kecil sudah terlalu petakilan, Ibu akhirnya menghentikan les bela diri gue. Dan gue kembali dilanda batuk di musim hujan berikutnya. Berkali-kali disuruh mencoba menerapkan ilmu pernafasan yang sudah pernah didapatkan ketika les bela diri lalu, tapi sudah keburu lupa, haha.
Kelas 4 SD, Ibu menemukan les lain yang mengatur agar gue bernafas secara sadar. Tentu saja lebih anggun ketimbang bela diri, les renang, and it works.
Satu hal yang menyebalkan adalah ketika sedang berenang dan tetiba ada hasrat ingin batuk *karena hasrat ingin batuk ini tidak dapat hilang secara total* *orang yang pernah batuk pasti paham, terkadang kita ingin batuk tanpa alasan yang jelas*. Hal yang paling sering terjadi dengan gue adalah tersedak air kolam. Les renang ini hanya bertahan kurang dari setengah tahun sebelum akhirnya berhenti.
Musim hujan berikutnya, ketika kelas 5 SD, gue kembali batuk-batuk dengan heboh dan orang tua gue sudah habis akal mengenai bagaimana caranya agar batuk gue berhenti *yakali masa tiap batuk gue disuruh berenang --"*. Lalu gue disuruh ikut les vokal. And it works. It really works.
Ketika bernyanyi maka gue akan bernafas secara sadar. Sadar mengenai kapan gue menghirup nafas dan sadar untuk membuangnya perlahan. Lagu favorit gue juga hampir selalu lagu dengan tempo lambat agar pernafasan gue teratur. Selama sekitar 10 tahun terakhir, itulah terapi yang paling efektif untuk batuk gue.
Pada dasarnya seluruh kesembuhan adalah anugerah Allah, tapi Allah tak akan mengubah suatu kaum apabila kaum tersebut tidak mengubahnya.
Am I right?
Kasus batuk terakhir?
Pekan terakhir November lalu, hari Minggu gue demam, Senin dan Selasa gue batuk kering. Hari Rabu sudah bermetamorfosis menjadi batuk berdahak yang luar biasa melelahkan hingga bahkan gue hanya senyum-senyum najong saja selama menjadi asisten praktikum. Hari Rabu itu pula ada tawaran untuk latihan vokal grup tampil di closing Together hari Jumat. Kamis dan Jumat gue batuk-batuk hebat sepanjang hari. Kamis dan Jumat juga gue latihan nyanyi nyaris tanpa ada batuk selama sesi latihan. Sabtu sembuh.
:)
Alhamdulillah
Lain kali ketika menemukan gue sedang batuk-batuk hebat, silakan putar lagu yang easy listening dengan tempo lambat dan biarkan gue bernyanyi.
:D
Terkadang gue merasa bahwa batuk ini adalah salah satu cara agar gue sedikit lebih 'sadar' dalam melakukan sesuatu, simpelnya saja seperti bernafas dengan sadar. Setelah gue pernah membaca buku milik Ibu, ternyata melakukan sesuatu tanpa sadar (seperti refleks dan di alam bawah sadar) itu melemahkan fungsi otak karena impuls bergerak tidak melewati otak melainkan ke sumsum tulang belakang.
Pernah suatu hari gue sempat hampir menyerempet angkot dan diteriaki oleh supir angkotnya,
Musim hujan berikutnya, ketika kelas 5 SD, gue kembali batuk-batuk dengan heboh dan orang tua gue sudah habis akal mengenai bagaimana caranya agar batuk gue berhenti *yakali masa tiap batuk gue disuruh berenang --"*. Lalu gue disuruh ikut les vokal. And it works. It really works.
Ketika bernyanyi maka gue akan bernafas secara sadar. Sadar mengenai kapan gue menghirup nafas dan sadar untuk membuangnya perlahan. Lagu favorit gue juga hampir selalu lagu dengan tempo lambat agar pernafasan gue teratur. Selama sekitar 10 tahun terakhir, itulah terapi yang paling efektif untuk batuk gue.
Pada dasarnya seluruh kesembuhan adalah anugerah Allah, tapi Allah tak akan mengubah suatu kaum apabila kaum tersebut tidak mengubahnya.
Am I right?
Kasus batuk terakhir?
Pekan terakhir November lalu, hari Minggu gue demam, Senin dan Selasa gue batuk kering. Hari Rabu sudah bermetamorfosis menjadi batuk berdahak yang luar biasa melelahkan hingga bahkan gue hanya senyum-senyum najong saja selama menjadi asisten praktikum. Hari Rabu itu pula ada tawaran untuk latihan vokal grup tampil di closing Together hari Jumat. Kamis dan Jumat gue batuk-batuk hebat sepanjang hari. Kamis dan Jumat juga gue latihan nyanyi nyaris tanpa ada batuk selama sesi latihan. Sabtu sembuh.
:)
Alhamdulillah
Lain kali ketika menemukan gue sedang batuk-batuk hebat, silakan putar lagu yang easy listening dengan tempo lambat dan biarkan gue bernyanyi.
:D
Terkadang gue merasa bahwa batuk ini adalah salah satu cara agar gue sedikit lebih 'sadar' dalam melakukan sesuatu, simpelnya saja seperti bernafas dengan sadar. Setelah gue pernah membaca buku milik Ibu, ternyata melakukan sesuatu tanpa sadar (seperti refleks dan di alam bawah sadar) itu melemahkan fungsi otak karena impuls bergerak tidak melewati otak melainkan ke sumsum tulang belakang.
Pernah suatu hari gue sempat hampir menyerempet angkot dan diteriaki oleh supir angkotnya,
"Woy, Mbak, ga pake otak ya lu!!"
Dan gue menjawab dengan teriak yang tak kalah kencangnya,
"Iya!! Gue pake sumsum tulang belakang!!"
Juga mungkin bernafas secara sadar ini merupakan cara untuk lebih 'sadar', agar berfikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Jangan asal.
Terkadang semua hal itu memang tergantung bagaimana cara memaknainya.
:)
Minggu, 30 November 2014
Every 'First' is Always Special
Dulu gue pernah (kalau tidak mau dikatakan sering) mengikuti training motivasi ketika di SMA *mungkin imbasnya sekarang adalah gue menjadi sangat malas untuk mengikuti seminar-seminar dan sejenisnya karena saking seringnya ketika SMA dulu*. Gue ingat bahwa pernah ada salah satu materi tentang "How to be memorable" dan akronim kata kunci dari hal itu adalah FLOIA.
FLOIA ini merupakan singkatan dari First, Last, Outstanding, Interesting, *dan gue lupa yang A ini apa*. Maksudnya apa? Maksudnya adalah untuk menjadi sesuatu yang diingat silakan lakukan salah satu dari hal-hal berikut, silakan jadi yang pertama melakukan, atau jadi yang terakhir melakukan, atau jadilah sesuatu yang outstanding, atau kerjakan sesuatu tersebut dengan cara menarik sehingga orang lainpun tertarik *dan sakali, satu lagi gue lupa*.
Berdasarkan penggalan memori yang telah terkubur lebih dari 5 tahun itu gue memang meyakini bahwa every first is always special.
Ceritanya, pertengahan November lalu gue mengikuti lomba vokal dalam acara olahraga-seni yang diadakan oleh himpunan mahasiswa di departemen gue. Ini adalah pertama kalinya gue selama di IPB mengikuti lomba vokal. Katagori lomba vokal apa yang gue ikuti? Solo pop.
Gila?
Not so.
Masih lebih gila pencalonan gue menjadi ketua Himalogin tahun lalu.
Meski begajulan ini, dahulu gue pernah mengikuti les vokal sejak kelas 5 SD hingga kelas 9 SMP *Orang lain: Ga ada tampang, Dil* *Gue: Iya, gue tau kok*. Bahkan seusai tampil, gue dapat langsung memperkirakan komentar dari juri yang mendengar.
Berdasarkan penggalan memori yang telah terkubur lebih dari 5 tahun itu gue memang meyakini bahwa every first is always special.
Ceritanya, pertengahan November lalu gue mengikuti lomba vokal dalam acara olahraga-seni yang diadakan oleh himpunan mahasiswa di departemen gue. Ini adalah pertama kalinya gue selama di IPB mengikuti lomba vokal. Katagori lomba vokal apa yang gue ikuti? Solo pop.
Gila?
Not so.
Masih lebih gila pencalonan gue menjadi ketua Himalogin tahun lalu.
Meski begajulan ini, dahulu gue pernah mengikuti les vokal sejak kelas 5 SD hingga kelas 9 SMP *Orang lain: Ga ada tampang, Dil* *Gue: Iya, gue tau kok*. Bahkan seusai tampil, gue dapat langsung memperkirakan komentar dari juri yang mendengar.
"..kamu nervous.."
"..lagunya cukup susah dan kamu tidak ada satupun nada yang kepeleset.."
"..warna suara kamu unik.."
Komentar yang tidak gue perkirakan mah yang ini,
"..suara kamu bagus.."
Hehe
Hal ini spesial sekali menurut gue.
Hal ini spesial sekali menurut gue.
Masa bodoh orang lain mau berkata alay sekalipun.
Pe-er terdekat gue kini adalah memberikan hadiah untuk diri gue sendiri atas keberhasilannya dalam menaklukan ketakutan-ketakuatan dan asumsi tak penting yang sebenarnya tidak ada.
Menurut teman gue, ketika suatu hari lalu gue pernah berbusa-busa berkata mengenai jangan batasi diri tapi tahu batasan diri,
Menurut teman gue, ketika suatu hari lalu gue pernah berbusa-busa berkata mengenai jangan batasi diri tapi tahu batasan diri,
.Adik Satu Hari."Ketika lu melampaui batasan diri lu, maka sesungguhnya batasan diri lu itu memuai menjadi batas-batas yang lebih luas, menjadi batas baru lagi yang menunggu untuk dilampaui"
Di masa-masa terakhir gue di IPB, masih banyak hal yang menunggu agar dilakukan untuk pertama kalinya. Masih banyak momen spesial yang menunggu diwujudkan.
:)
Btw, selain ikutan solo pop, gue juga ikutan vocal group di hari yang sama.
![]() |
| Kalau kata dosen gue, ini namanya bukan sombong, ini namanya arogansi terukur |
Selasa, 25 November 2014
Matahari
Dil, kenapa 'Matahari'?Karena seringkali kita menatap purnama tanpa ingat bahwa sumber cahayanya berasal dari matahari.
Karena seringkali kita mengagumi kerlip bintang di malam hari tanpa sadar bahwa ada bintang terdekat dengan kita yang selama ini memberikan kehidupan.
Karena tak harus menjadi luar biasa untuk dapat bermakna, terkadang sederhanapun bisa.
Karena itu adalah hal yang kugunakan untuk merepresentasikanmu.
Senin, 17 November 2014
Para Jagoan
Mengutip quote kampanye dari tim sebelah, yang intinya,
Inilah para jagoan gue tahun ini yang sudah membuat jejak di antero kampus :)
Yang berhasil membuat Fateta juara 3 di OMI;
Yang berhasil membuat Fateta juara 1 IAC;
Yang surplus departemennya mencapai hampir 10 juta dan menjadi sumber dana utama BEM Fateta;
Yang berhasil untuk pertama kalinya membuat acara persiapan pascakampus di Fateta;
Yang berhasil menerbitkan majalah dengan produksi massal, 600 eksemplar;
Yang berhasil merapikan administrasi publikasi BEM Fateta setelah tahun lalu dapat dikatagorikan sebagai berantakan;
Yang selama ini membuat publikasi-publikasi keren untuk BEM Fateta;
Yang *bisa-bisanya* terfikir untuk mendanus piring lukis *dan piringnya kece paten*;
Yang berhasil menjadi fasilitator penggelontoran dana luar biasa banyak untuk membantu SPP mahasiswa Fateta yang membutuhkan;
Dan yang-berhasil-yang-berhasil lainnya
:)
Sehingga jangan disalahkan jika kami menjadi BEM Fakultas Terbaik se-IPB.
#MasihAjaSombong
Da gue mah apa atuh, hanya mengurus sekret BEM terluas se-IPB #MasihJugaSombong, tak lupa diiringi harapan kecil agar dapat selalu dijadikan sebagai tempat pulang yang menyenangkan setelah jauh melangkah.
:)
Sejauh apapun melangkah, sebanyak apapun jejak yang diciptakan, pada akhirnya yang dibutuhkan adalah pulang ke rumah yang nyaman.
Inilah para jagoan gue tahun ini yang sudah membuat jejak di antero kampus :)
![]() |
| Gue yang setinggi ini tetap menjadi yang paling pendek jika bersama mereka #SalahFokusBanget |
Yang berhasil membuat Fateta juara 3 di OMI;
Yang berhasil membuat Fateta juara 1 IAC;
Yang surplus departemennya mencapai hampir 10 juta dan menjadi sumber dana utama BEM Fateta;
Yang berhasil untuk pertama kalinya membuat acara persiapan pascakampus di Fateta;
Yang berhasil menerbitkan majalah dengan produksi massal, 600 eksemplar;
Yang berhasil merapikan administrasi publikasi BEM Fateta setelah tahun lalu dapat dikatagorikan sebagai berantakan;
Yang selama ini membuat publikasi-publikasi keren untuk BEM Fateta;
Yang *bisa-bisanya* terfikir untuk mendanus piring lukis *dan piringnya kece paten*;
Yang berhasil menjadi fasilitator penggelontoran dana luar biasa banyak untuk membantu SPP mahasiswa Fateta yang membutuhkan;
Dan yang-berhasil-yang-berhasil lainnya
:)
Sehingga jangan disalahkan jika kami menjadi BEM Fakultas Terbaik se-IPB.
#MasihAjaSombong
Da gue mah apa atuh, hanya mengurus sekret BEM terluas se-IPB #MasihJugaSombong, tak lupa diiringi harapan kecil agar dapat selalu dijadikan sebagai tempat pulang yang menyenangkan setelah jauh melangkah.
:)
![]() |
| Kabir Kontrol Internal, Kadep Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa, Kadep Apresiasi Seni, Kadep Olah Raga, gue, Kadep Bisnis dan Kewirausahaan, Kabir Multimedia, Kabir Public Relation , *ini bocah bukan Kadep* |
![]() |
| Hidup Mahasiswa!! |
Rabu, 12 November 2014
I'm a Five Days Worker [Quote of the PL]
"Kangen itu bukan karena ingin bersama, tapi rasa yang timbul karena terbiasa bersama, dan tidak harus selalu bersama kan?"
.Seseorang yang mengaku filosofis ketika sedang bersama gue.
Langganan:
Postingan (Atom)





