Sabtu, 06 Juni 2015

Every 'First' is Always Special [Puncak Gede, 2958 MDPL]

Pada tanggal 8-10 Mei 2015 lalu, Tinformers goes to Puncak Gede. Rombongan terdiri dari 18 orang. Sebanyak 17 orang adalah Tinformers, satu orang lainnya adalah Yuri, nyonya-nya Tama. Adapun dari 18 orang ini, sebanyak 14 orang adalah laki-laki dan sisanya perempuan.

Ini namanya Mohammad Riyan Pratama, biasa dipanggil Tama

Dia adalah ketua rombongan Tinformers Goes to Gede kali ini
:)

Timeline keberangkatan adalah kami berkumpul di Kantin Sapta pada tanggal 8 ba'da maghrib. Dilanjut dengan berangkat menuju Cianjur dengan mobil bak terbuka. Tanggal 9 dini hari kami menanjak dan tanggal 10 kami akan turun dari puncak gunung setelah dzuhur karena tanggal 11 Mei 2015 ada kuliah umum seangkatan jam 8 pagi di Auditorium AMN.
T_____T

Banyak hal yang rasa-rasanya gue menangkan di tanggal 8-10 lalu, salah satunya adalah kemenangan terhadap kepercayaan orang tua gue hingga mereka rela melepas anaknya naik gunung.

Perihal naik gunung ini sudah bukan berita baru bagi gue. Gue dari SMP sudah ikut ekskul Pramuka. Pramuka SMP gue ini tergolong sebagai kontingen Penggalang yang disegani se-Bogor Raya. Dua regu legendaris yang digunakan adalah Cenderawasih dan Sedap Malam. Regu sekundernya biasanya Badak dan Anggrek. Sila survei pramuka Penggalang se-Bogor Raya, Cenderawasih dan Sedap Malam (setidaknya hingga beberapa  tahun lalu) adalah dua regu yang disegani.

Pramuka SMP gue itu punya nama beken WL, Winaya Lokatmala. Artinya kurang lebih adalah 'Belajar dari sesuatu yang kotor'. Maksudnya kayak belajar dari kesalahan gitu.
Ini kenapa jadi ngomongin WL dah? --"

Ketika SMP lalu, gue sudah berkali-kali kemping di bumi perkemahan, baik itu yang di gunung atau bukan. Izin mengenai naik gunung ini dari orang tua gue sebenarnya sudah turun sejak gue SMP, sekitar 2007, tapi apa daya baru tercapai di 2015.

Sebelum naik gunung, rombongan ini telah beberapa kali kumpul untuk olah raga bersama dan mempersiapkan alat-bahan yang dibutuhkan selama perjalanan. Pada pertemuan pertama yang gue hadiri, gue ternyata masih kuat lari hingga lima putaran tanpa berhenti di Lapangan Belakang Gymnasium. Kalau ada yang iseng bertanya kapankan gue terakhir kali lari, jawabannya adalah tahun lalu, ketika jadi kontingen estafet putri OMI 2014. Ternyata daya tahan tubuh gue masih agak bagus.
Hehe..

Barang-barang vital yang gue pakai untuk naik gunung kali ini adalah barang pinjaman semua. Awalnya gue sudah menentukan one stop destination untuk meminjam semuanya, Abdul. Apa daya takdir berkata lain. Akhirnya barang yang gue pinjam dari Abdul hanya daypack 30 liter. Untuk sleeping bag meminjam ke Azmah, dan matras meminjam ke Harba.

Rencana rute menanjak kali ini adalah melalui Gunung Putri. Bermalam di padang edelweis Suryakencana. Kembali menanjak pada dini hari untuk melihat sunrise di puncak. Turun ke Suryakencana  lagi untuk packing pulang. Kembali menuju puncak lalu turun melalui Cibodas dan transit terlebih dahulu di Kandang Badak untuk beristirahat sejenak.

Rencana memang hanya sebatas rencana.
Kenyataannya pada dini hari tanggal 10 kami tidak jadi melihat sunrise dari Puncak Gede karena rombongan yang masih pada meringkuk di sleeping bag masing-masing.
-______-"

Pada perjalanan dari kampus menuju Cianjur, kami membeli makanan di pinggir jalan untuk dimakan keesokan paginya sebelum menanjak. Sebelum menanjak, kami sempat bermalam di warung *ini seriusan*. Sarapan berlangsung jam 4 pagi, serasa sahur. Rombongan ini ga bisa tidur dengan nyenyak karena dingin brooooo, segini belum sampai puncak, heeeeeu. Sebelum menanjak, Tama sudah mewanti-wanti agar kita buang air ketika masih di bawah sini karena di puncak nanti ga ada toilet.
Ini namanya Reno Panji Samboja Pramono, biasa dipanggil Reno

Susah beneeer, nyari foto Reno yang bagus. Ini aja merem.
--"

Ini namanya Muhammad Irham Raenaldi, panggilan gaulnya adalah Onte

Istirahat dulu, coy.

Lihat gembolan carrier dengan rain cover warna oranye di sebelah kanan? Lihat sesuatu berwarna hitam di sebelah kiri kepala gue *gue ada di sebelah kanan tiang, pakai kerudung warna biru dongker* yang menumpu pada tiang? Nah, yang oranye itu carrier Onte, sedangkan yang hitam itu punya Reno. Selama pendakian ini ada bakat Reno dan Onte yang baru kami temukan yaitu menjadi porter. Ajigileeee, carrier mereka berat-berat bener.

Pada mulanya, gue menanjak bersama rombongan ciwi-ciwi dan didampingi oleh sekitar 10 orang lelaki. Beberapa lelaki lain sudah ada yang duluan. Tapi entah mengapa gue merasa kok speed-nya ciwi-ciwi ini terlalu lambat dan akhirnya gue memilih duluan. Setelah agak jauh melangkah, gue baru menyadari bahwa gue ga bawa minum sama sekali. Botol air minum ciwi-ciwi adalah botol yang diprioritaskan untuk dihabiskan sebelum menanjak, biar ciwi-ciwinya ga berat. Matilah. Jarak ke rombongan belakang sepertinya sudah jauh, sedangkan untuk menuju ke rombongan depan mah gue ga yakin bisa menyamai kecepatan para lelaki itu. Gue bahkan sempat berpikir, apakah gue dapat bertahan hidup hingga Suryakencana hanya dengan bermodalkan satu pak Madurasa?

Hingga akhirnya, gue mendengar nama gue diteriakkan dari arah belakang-bawah *ya iyalah kan ini naik gunung*. Ternyata itu adalah Kholiq. Huwaaaaaah. Bahagia banget gue melihat Kholiq.
Nur Kholiq, biasa dipanggil Kholiq. Partner naik dan turun yang luar biasa menyenangkan.

Di tengah perjalanan ketika masih bersama rombongan ciwi-ciwi, Kholiq sepertinya menyadari bahwa kok ciwi-ciwinya jadi tinggal tiga orang. Setelah tahu bahwa ternyata gue sudah maju duluan, dia akhirnya ikut maju. Mungkin Kholiq kasian, udah mah gue jomblo, trus nanjak sendirian pula.
Keadaan ketika terpisah dari rombongan. Di arah depan sekosong itu. Di belakang juga sama kosongnya.

Di perjalanan naik bersama Kholiq, gue bertemu dengan salah seorang teman ketika TPB. Pararawendy Indarjo. Departemen Matematika angkatan 48, sudah sarjana, sedang menunggu wisuda, IPK-nya 4,00. Dari obrolan selama menanjak, gue jadi tahu bahwa Parara akan wisuda tanggal 3 Juni 2015. Parara menanjak bersama rombongan dari Departemen Matematika.
Gue dan Parara, 3 Juni 2015

Di perjalanan, gue dan Kholiq mengobrol banyak hal. Salah satunya,
Gue : "Liq, kita bakal sampai Surken jam berapa?"
Kholiq : "Rata-rata kalau lewat Gunung Putri itu antara 5 sampai 6 jam, Dil."
Gue : "Kita tadi berangkat jam setengah 6-an ya?"
Kholiq : "Iya, Dil. Bakal sampai atas sekitar jam setengah 11-an lah atau setengah 12."
Gue : "Ya tapi kan kalau istirahat melulu mah ga bakalan sampai."
Kholiq : "Iya juga ya.. Heummmm.."

Seharusnya gue ga perlu takut kelaparan dan kurang air di perjalanan karena banyak bivak yang isinya tukang jualan popmie, nasi uduk, gorengan, jossu, air putih, susu, dan lain sebagainya dengan harga yang mencapai 3 kali lipat dari harga normal. Gue, Kholiq, Yuri, dan Tama bahkan sempat istirahat sejenak dan membeli popmie ketika menanjak.
Alfiyan Hudan Fauzi. Biasa dipanggil Alfiyan. Beli nasi uduk, seuprit, harganya sepuluh ribu.

Finally..
Suryakencanaaaaa~
 
Masih Suryakencana *ini foto ketika paginya, masih berkabut*

Edelweis


Menikmati mentari yang terik dan udara yang sejuk

Gue adalah perempuan pertama di rombongan yang mencapai Suryakencana. Keesokan paginya, gue juga menjadi perempuan pertama yang menyentuh puncak. Sore harinya gue adalah perempuan pertama yang menyentuh Kandang Badak. Sampai-sampai ada salah seorang teman yang dengan ga habis pikir bertanya,
"Dil, lu sebenernya cewek atau bukan?"
Menurut luuu --"
Haha
Ini Ade Supriatna. Biasa dipanggil Ade

Luky Fadilah. Biasa dipanggil Luky

Menunggui carrier Onte yang diletakkan sembarangan oleh pemiliknya

Ke manakah Onte?
Kalau melihat ada setitik warna merah di ujung sana, itu Onte yang sedang pipis di semak-semak

Ini namanya Fitrian Rakadiaputra, biasa dipanggil Raka.

Hal pertama yang dilakukan Raka ketika rombongan telah selesai mendirikan tenda di Suryakencana adalah mencari-cari Tama dengan muka galau,
Raka : "Ma.. Ma.. Gue.. Kebelet boker siah.."
Tama hanya menatap Raka dengan muka kasihan lalu menuju ke semak-semak dan membawakan Raka sesuatu,
Tama : "Ini kayu. Lu cari semak-semak yang agak jauhan. Gali lobang pake kayu ini. Boker. Trus kubur. Kayak kucing."
Raka hanya menatap kayu yang diberikan Tama dengan tatapan sedih lalu menjalankan instruksi tadi.

Mungkin teman-teman dekat gue sudah tau bahwa skill memasak gue itu membawah ke bawah. Ternyata selama ini tanpa disadari gue memiliki skill memasak sesuatu. Nasi. Masak nasi di gunung ga pake rice cooker, coy. Kalau menurut beberapa teman yang pernah makan nasi di alam bebas mah,
"Sumpah. Ini nasi terenak yang pernah gue makan di gunung.."
Nasi yang gue tanak bentuknya sudah layak disebut sebagai nasi. Tidak keras di tengahnya, tidak kurang air, tidak mengerak, tidak gosong.
And I'm proud of it.
Kembali terima kasih untuk WL. Kemampuan bertahan hidup itu gue dapatkan di WL dahulu.
Adya Dinda Nurannisa, biasa dipanggil Adya. Kepala Koki.

Faricha Helfi Febriyanti. Faricha. Asisten Kepala Koki

Yuriski Mukdisari *bener ga sih namanya?*. Yuri. Asisten Kepala Koki. Sekpri ketua rombongan.

Menunggu makan malam yang tak kunjung jadi. Ya iyalah, masak untuk 18 orang emang dikira cepet?

Nasi, sarden, sop, kornet. Sumpah ini enak banget.

Malam harinya merupakan salah satu malam paling indah yang pernah gue lihat selama ini. Bulan yang tidak purnama, langit yang tidak mendung, tak berawan, tak ada polusi cahaya. Bintangnya cantik banget masya Allah. Suryakencana sudah berasa Padang Seribu Bintang.

Ada hal yang seru yakni menjaga wudhu. Air sungai yang dinginnya minta ampun membuat kami semua menjaga wudhu dari maghrib agar tak perlu berwudhu kembali untuk shalat isya. Alhamdulillah ya jadi pada menjaga wudhu. Hehe.
Tio Nadika Eka Putra. Biasa dipanggil Tio.

Tio sempat tak sengaja menyentuh tangan gue ketika seusai shalat maghrib.
Tio: "Yah, Dil. Tangannya kena.."
Gue : "Kan lu pake sarung tangan, bang."
Tio : "Oiya bener. Gue lupa.."

Imam Muharram Alitu. Biasa dipanggil Imam. Buang angin beberapa detik setelah wudhu untuk shalat subuh.
Iya, Mam. Gue tau kok gimana perasaan lu ketika harus wudhu lagi pagi di buta dengan air yang dinginnya kayak apaan tau.
Rakhmat Irkham Triaji. Biasa dipanggil Triaji atau Gambleh. Ulang tahun tiap tanggal 8 Mei.

Oleh kami, Gambleh diberikan pilihan hadiah ulang tahun. Apakah mau digotong ramai-ramai dan diceburkan ke sungai yang dinginnya kayak apaan tau, atau mencuci seluruh peralatan masak di sungai yang dinginnya kayak apaan tau itu agar bersih ketika dibawa pulang. Pilihan yang diambil Gambleh adalah pilihan yang kedua.
Choirul May Affandi Siregar. Ketika semester 3 gue memanggilnya Umay karena di angkatan gue ada juga orang lain yang dipanggil Andi.

Irsan Febrian. Biasa dipanggil Irsan atau Kobul (biarkanlah arti dari Kobul ini menjadi rahasia angkatan gue saja).

Gue tau bahwa salah satu cara menghalau dingin adalah dengan mengempit tangan di ketiak.
Tapi bukan di ketiak orang lain juga --"

Di perjalanan dari Suryakencana menuju puncak, gue mengulangi kegilaan gue. Gue jalan sendirian karena rombongan ciwi-ciwi terlalu lama, hehe. Kali ini gue ga sepanik sebelumnya karena dari Suryakencana menuju puncak katanya hanya sekitar satu jam. Eh tapi ternyata gue disusul Luky. Gue disusul dengan alasan yang sama seperti Kholiq sebelumnya, yaitu karena udah mah gue jomblo trus naik sendirian pula. Kan sedih. Hehe.
Thanks, Luk :)

Ini ada orang paling kalem di rombongan. Kelakuannya alhamdulillah normal aja dan ga aneh-aneh. Salah satu dari 5 orang Tinformers (termasuk gue) yang nama lengkapnya hanya 1 kata.

Nama lengkapnya Musliadi, dipanggil Mus.

Sebelum menuju puncak, Raka sempat membuat jossu di Suryakencana. Dengan ketinggian yang bertambah ketika menanjak, maka tekananpun berkurang. Ketika tiba di puncak, tekanan yang ada di dalam botol jossu adalah tekanan di Suryakencana which is lebih tinggi daripada tekanan di puncak. Baru sedikit tutup jossu diputar, tutupnya terbang dan jatuh ke kawah.
--"
Oke fine
Puncak Gede, 2958 mdpl

Negeri di atas awan


Lebih tinggi dariapda awan

Tiap tanggal 10 Mei, Ibu dan Ayah ulang tahun pernikahan. Tahun 2015 ini adalah anniv ke-23. Tahun ini, gue jadi remaja kekinian gitu, foto di tempat-tempat bagus disertai tulisan di kertas untuk foto tersebut.
Semoga kita sekeluarga masuk surga. Aamiin :)

Di perjalanan pulang dari puncak menuju Kandang Badak, gue menemukan hal yang ternyata gue sukai yaitu turun gunung. Seru banget, coy. Percaya ga percaya, gue turun gunung sambil lari sampai-sampai menimbulkan pertanyaan tadi perihal apakah gue cewek atau bukan. Haha.

Teman dekat gue ketika SD dulu juga anak Smansa. Dia ikut ekskul pecinta alam, namanya beken ekskulnya adalah SS (Super Sambel Satya Sudirman). Teman dekat gue itu pernah cerita bahwa hal yang paling menyebalkan ketika naik gunung adalah serombongan dengan orang yang ga mau jalan.

Ketika perjalanan dari Kandang Badak ke arah bawah, di rombongan kami ada yang kayak gitu. Luar biasa menyebalkan sesungguhnya. Reno sebagai orang tersabar yang pernah gue kenal di TIN aja sampai bisa mengeluh karena ada seorang yang sakit ini hingga sulit jalan. Siapa sih yang mau sakit, emang ga ada juga kan yang mau. Ya apa mau dikata. Kondisi berangkat dari Kandang Badak yang sudah hampir maghrib dan senter yang cuma ada 7 membuat kami harus berjalan berdelapan belas. Nah ini.

Gue yang ga sabaran gini cuma bisa manyun doang di sepanjang jalan turun. Untung aja ada para lelaki dengan kadar keberesan otak yang dipertanyakan sehingga sepanjang jalan turun dihiasi dengan tawa. Turun kali ini gue lagi-lagi barengan dengan Kholiq yang juga jadi bete karena lama, haha. Akhirnya kami berdua sepanjang jalan turun malah cerita macem-macem. Bener-bener deh, jalan sebentar, istirahat, jalan lagi sebentar, istirahat. Begitu terus hingga baru sampai Pos Simaksi di Cibodas jam 11 malam. Rute yang normalnya dapat ditempuh dalam 3 jam, oleh kami ditempuh dalam 6 jam. Gimana ga bete.

Terlepas dari sepatu gue yang tertinggal di angkot pulang karena gue yang turun duluan di Gunung Batu, lalu sepatu gue diamankan oleh anak Kopadjo, sedangkan Kopadjo sekarang udah bubar, dan sepatu gue itu belum ketahuan di mana rimbanya,

Overall,
Every first is always special
Terima kasih karena kalian telah mau menjadi bagian dari momen spesial di hidup gue
:)
@Suryakencana sebelum menuju puncak

@Puncak Gede 2958 mdpl

Photo credit:
Imam Muharram Alitu
Muhammad Irham Raenaldi

Sabtu, 23 Mei 2015

Every 'First' is Always Special [Kabur]

Senin dan Selasa kemarin gue tidak menyentuh kampus sama sekali. Senin gue sakit, ga enak badan parah, hanya bangun tidur tiap setelah adzan lalu shalat dan minum teh manis hangat kemudian dilanjut dengan tidur lagi. Selasa gue kabur. Iya, kabur. For the first time of my life, gue kabur dari kampus. Lebih tepatnya mungkin menyengajakan menghilang. Yaaaa, kalau mau pembelaan mah, tiap orang memang akan punya titik di mana rasanya mau menghilang sesaat. So do I.

Sudah dua hari tak menyentuh kampus, maka di penghujung hari Selasa didapatilah message dari 6 orang pimpinan BEM KM yang menanyakan gue ke mana saja, kok tidak terlihat dalam beberapa hari terakhir. Ada yang masih perhatian itu.. rasanya..
:)
#BahagiaItuSederhana
Love you, Pims :*
Kalian luar biasa

Agak gila. Memang gila. Orang lain biasanya kabur kuliah. Sementok-mentoknya kabur responsi dan minta TA. Kali ini gue kabur penelitiaan project dosen yang pengerjaannya berempat. Juga kabur dari BEM KM pada momen re-opening olimpiade mahasiswa yang sebelumnya kepanitiaannya sempat dibekukan selama seminggu karena satu dan lain hal.

Selasa kemarin gue mengikuti lomba debat di UMN (Universitas Multimedia Nusantara), Serpong. Gue diberitahu perihal lomba ini oleh Cawapresmalay kesayangan, Triana Winni Astuty. Ada dua tim dari IPB yang ikutan lomba ini, yang pertama adalah tim Titik Temu, yang kedua adalah tim Jejak Sepatu. Gagal move on, memang. Tim Titik Temu awalnya terdiri dari Winni, Eman (FPIK 48 *jurusan apa teh ya Eman? Heeeu*), dan Joshua Ginting (MSL 48). Adapun tim Jejak Sepatu ada gue, Abdulloh (THH 48), dan Remy Sosiawan Wijaya (ESL 49).

Disadari oleh kenyataan bahwa di tim gue ini orang-orangnya sedang pada rempong semua (gue dan Abdul di BEM KM, adapun Remy adalah ketua himpro Reesa). Ditambah dengan kericuhan bahwa ternyata Abdul sudah pernah mengambil jatah bolos 3 kali di hari Selasa sampai gue hujat-hujat *dan dia pasrah doang ketika gue hujat-hujat via WhatsApp. Maaf ya, Dul* akhirnya tim digantikan dengan Dinar (KSHE 48). Kumpul jam 5 pagi di Al Amin Bara yang pada ngaret. Alhasil gue adalah orang yang pertama luntang-lantung di Stasiun Bogor karena menunggu rombongan yang tak kunjung komplit.

Di tengah luntang-lantung menunggu rombongan yang tak kunjung komplit di Stasiun Bogor, gue melihat dia. Dia sepertinya sedang terburu-buru mengejar kereta ke  Ibukota. Dia, seseorang yang hampir 10 tahun lalu pernah gue beri nama samaran Giraffe. Dia, kakak kelas gue ketika SMP, setahun di atas gue. Dia, yang masuk Smansa dan mampu membuat gue setengah mampus belajar rajin ketika kelas IX agar bisa juga masuk Smansa. Dia, yang rumah orang tuanya di Yasmin, Sektor 2, Jalan Mawar. Dia, yang bahkan tanggal lahirnya saja gue masih ingat hingga saat ini. Dia, yang sesekali namanya masih tersebut dalam doa gue dengan penuh nada terima kasih karena tanpanya gue ga akan merasakan manisnya Smansa beserta isi-isinya. Mungkin kealayan gue hampir 10 tahun lalu itu belum bisa dibilang cinta.

Kalau kata seorang adik gue di PSDM BEM KM mah,
"Berterimakasihlah pada ia yang pernah kamu kagumi, karenanya kamu pernah berusaha memantaskan diri menjadi pribadi yang lebih baik."
.Silmi Nurul 'Adilah.

Setelah gue pikir-pikir *masih sambil menunggu rombongan yang tak kunjung komplit*, iya juga sih. Kalau hampir 10 tahun lalu itu gue ga pernah terjebak kekaguman dengan beliau, mungkin gue belajarnya juga asal-asalan aja. Mungkin gue ga akan masuk Smansa. Mungkin kelanjutan sekolah gue akan tetap sesuai dengan prediksi gue pada awalnya, Smanli. Bahkan gue sudah punya ekskul pilihan ketika semisal gue masuk Smanli, Pasopati *teteeeeup* *hehe*.
*FYI, Pasopati itu nama ekskul paskibra di SMAN 5 Bogor

Yaa Allah,
Hamba-Mu yang satu ini, hampir 10 tahun yang lalu belum mengerti sama-sekali mengenai
Innamal a'malu bi niyyat
:'(

Setelah kejadian enggak-gagal-move-on tadi, ditambah tim yang tak kunjung komplit karena adaaaa aja penyebabnya, akhirnya gue, Winni, Remy, dan Eman berangkat duluan ke UMN. Perjalanannya biasa saja, seperti simulasi 'Jika Anda Menjadi Sarden'. Hufffft, begitulah sulitnya perjuangan ayah-ibu-kakak kita mencari nafkah untuk keluarga.

Singkat cerita, karena tim yang masih tak kunjung komplit, akhirnya terjadi merger. Winni masuk tim Jejak Sepatu, sedangkan Eman akan menunggu Joshua dan Dinar untuk bergabung di tim Titik Temu. Setelah usai berdebat, dengan agak desperate Winni berkata,
"Tiap nama tim kita dipanggi, Jejak Sepatu, gue rasanya deg-degan. KPR mana lagi itu, hah?"
Itu gagal move on-nya memang agak kebangetan sepertinya.
Joshua (tim sebelah), gue, Cawapresmalay 2014, Cawapresma 2015 #eh

Makan-makan di Warung Nagih, sepulang dari UMN

Terlepas dari gedung UMN yang 12 lantai dan menggunakan lift. Terlepas dari gedung di IPB yang ber-lift hanya Rektorat dan Fapet. Terlepas juga ada foundation dari Filipina yang jualan sus kering dengan harga 50 ribu (padahal kalo di IPB 35 ribu). Overall, kabur hari ini seru, mungkin ya karena itu tadi, every 'first' is always special.

Ada satu hal yang membuat sedih ketika lomba debat kemarin. Bukan perihal dibantai-bantai tim lawan. Bukan. Itu mah kami pasrah-pasrah aja. Haha.

Setiap mendapat posisi 'Pro', kami selalu mebatasi mosi untuk di bidang pertanian dan added value. Semisal kami berada di posisi kontra pun sebisa mungkin akan menyasar ke bagian pertanian. Dan di situ kami merasa sedih.

Mindset pemuda masa kini (majas pars pro toto, karena hanya menggunakan peserta debat kemarin sebagai sampel yang ditarik secara random) masih beranggapan bahwa petani itu berpendidikan rendah lah, sawah lah, becek lah, sulit akses informasi lah, bukan profesi yang fundamental lah, tidak membanggakan lah, dan lain sebagainya.

Hellooooow
Situ kalo lapar makan dari hasil apa?
Haha

Bahkan pada mosi debat terkait 8 profesi yang dapat diisi secara bebas oleh kewarganegaraan ASEAN apapun setelah berlakunya MEA itu heboh banget debatnya. Tim lawan berkata bahwa,
"Ini lhoo, MEA udah di depan mata dan 8 profesi ini.. *blablabla*"

Padahal kalau kata Winni, hal yang lebih di depan mata adalah perihal dia akan lapar sepulangnya dari debat ini. Dan itu solusinya hanya satu, pertanian. Haha.

Di tiap debat juga kami bertiga doyan mengutip buku wajib para mahasiswa IPB, Pengantar Ilmu Pertanian karya Pak Andi Hakim Nasution.
"Pertanian adalah proses memanen energi matahari menjadi pangan dan serat."

Juga dengan gaya orasi yang meyakinkan, kami beberapa kali mengutip pidato Presiden Soekarno ketika peletakan batu pertama pendirian kampus IPB,
"Perihal pertanian adalah hidup dan mati suatu bangsa"

Seusai debat, gue dan Winni diskusi *agak sedikit kurang tepat juga sih jika disebut diskusi* terkait pertanian yang masih dianggap sebelah mata. Satu hal yang kami sepaham adalah kami sedih. Kami tau akan melakukan apa. Tapi sekarang belum bisa. Satu hal yang kami hiasi dengan hembusan napas panjang adalah perihal kami yang terlalu asik main-main dengan politik kampus, haha.

Di samping kabur untuk pertama kalinya, gue juga bisa dibilang ikutan the real lomba debat untuk pertama kalinya. Sebenarnya sebelum ini gue pernah ikut lomba debat, lomba debat mengenai agroindustri di Agroindustrial Fair 2014 lalu. Pesertanya ga sampai 10 tim dan tim gue juara 3. Mengapa debat kali ini menjadi sangat berkesan? Karena cakupan temanya yang sangat luas. Berbeda dengan lomba debat TIN lalu yang cakupannya hanya di bidang agroindustri.

At the end, kami kalah. Haha. Sehingga pada akhirnya gue hari Rabu sudah kembali beraktivitas di kampus. Padahal kalau lolos ke babak 8 besar, sepertinya gue masih belum akan ngampus di hari Rabu. Dari 20 tim yang bertanding, kami tidak masuk 10 besar. Tapi menurut Eman, kami juga tidak ada di urutan 15 ke bawah *kayaknya Eman berhasil ngintip deh*.

Kalau ada hal besar yang gue pelajari selama debat ini, yaitu pe-er kita masih sangat panjang hei kalian para mahasiswa pertanian..
:)

Sabtu, 02 Mei 2015

Refleksi Hardiknas 2015, Hanya Celotehan Saya Saja


Seringkali gue mendengar celetukan dari mentee dan murid-murid privat gue,
Sekolah tuh untuk nyari nilai, Teh. Kalo nyari ilmu mah di bimbel.

Astaghfirullahaladziim
Miris gue
Mau nangis rasanya
Sialnya, itulah keadaan pendidikan Indonesia yang gue ketahui saat ini

Di mana peran sekolah formal sebagai tempat pendidikan, pembelajaran, dan pembangunan karakter?
Kalau begitu, apa gunanya sekolah formal?
Apa added value yang ditawarkan oleh sekolah formal?
Apa value proposition dan siapa customer segment dari sekolah formal?
Lalu, boleh kah gue berkata *meski tak sampai hati* bahwa guru-guru yang seperti itu adalah guru yang makan gaji buta?
Kalau masih tetap seperti ini, apakah anak gue kelak lebih baik homeschooling saja dan ikut ujian kejar paket?
Atau masuk pesantren modern kali ya?
Ada yang bisa bantu menjawab?

Ada salah seorang murid privat gue, ketika itu dia sudah kelas 9 SMP, yang bahkan tidak lancar mengerjakan persoalan matematika mengenai perpindahan ruas.
Lalu pertanyaan gue dalam hati,
Gurunya dahulu ngapain di kelas?
Terlepas dari kurikulum Indonesia yang katanya berantakan dan terlalu memforsir anak, tapi tetap saja gue penasaran apa yang dilakukan gurunya di kelas. Bagaimana cara beliau menjelaskan prinsip sederhana mengenai dasar perpindahan ruas? Hingga bahkan murid gue itu tak kunjung bisa melakukannya. Bukankah kalau kata Einstein,
Kamu tidak benar-benar memahami sesuatu jika tak bisa menjelaskannya dengan cara sederhana.

Astaghfirullahaladziim
Miris gue

Tidak munafik, gue juga pernah les bimbel. Tapi les gue hanya di tingkat-tingkat terakhir dari tiap jenjang pendidikan saja. Kelas 6 SD, kelas 9 SMP, dan kelas 12 SMA. Just it. Itupun tujuan utamanya adalah demi mengenali 'medan pertarungan' gue untuk ujian masuk ke jenjang sekolah formal yang lebih tinggi.

Apakah seluruh guru sekolah formal gue dari SD hingga SMA adalah guru-guru yang mengajar dan juga mendidik?
Apakah seluruh guru sekolah formal gue dari SD hingga SMA memang benar-benar mentransfer ilmu, tidak semata-mata memberi nilai?
Not so..
Tidak semuanya sesempurna itu.
Bahkan hanya sedikit yang seideal itu.

Lalu, dari mana gue mendapatkan ilmu dan pendidikan di tahun-tahun ketika gue tidak bimbel?
Siapa yang mentransfer ilmu dan menanamkan nilai-nilai kehidupan untuk gue selama ini?
Siapa yang menumbuhkan keingintahuan dan daya kritis seorang Dila kecil sehingga bahkan ketika SD pernah disuruh berhenti bertanya oleh gurunya?

Luckily,
Dari sejak lahir, gue dididik oleh dosen.
:"

Itulah mengapa gue ingin jadi dosen *tapi sekarang galau lagi* dan juga bertekad akan membesarkan anak gue, sebisa mungkin tanpa campur tangan 'orang lain'. Gileee, keren abis kalo anak gue sejak lahir diasuhnya sama Sarjana Teknik (Pertanian).
*Jadi inget bahasan seru di grup WhatsApp Forkom beberapa hari lalu tentang parenting*

Jika institusi semisal sekolah pendidikan guru saja peminatnya sedikit dan bahkan dijadikan pilihan akhir 'daripada tidak kuliah di mana-mana', lalu dari mana para calon guru itu akan berkuliah dengan menyertakan hati mereka? Setahu gue, apa-apa yang disampaikan dari hati, akan sampainya ke hati juga.

Jika para calon guru itu saja kuliahnya ogah-ogahan, jika bahkan tempat kuliahnya saja merupakan pilihan terakhir atau yang telah dinomorsekiankan, apakah mereka sadar kehancuran apa yang dapat terjadi karena hal itu?

Tidak sadarkah para guru?
Bahwa mereka sesungguhnya memiliki peluang untuk mendapatkan pahala tak terputus. Bahwa ilmu yang bermanfaat adalah pahala anak Adam yang tak akan usai perkaranya meski dihadapkan dengan maut. Bahwa kesempatan itu tidak dimiliki semua orang.

Tak sadarkah para guru?
Bahwa jika hal itu tidak diupayakan dengan baik, disia-siakan, hanya dijadikan urusan transaksional duniawi 'gue ngajar, gue dibayar, selesai', malah berpeluang untuk timbulnya dosa jariyah semisal bocornya kunci jawaban UN yang sudah bukan merupakan berita baru.
Apakah dosanya juga tak terputus?
Naudzubillahi min dzalik, wallahu'alam.

Nah tuh..

Gue pernah cerita hal ini ke Ibu dengan suara hampa saking kesalnya dengan sistem yang ada saat ini. Reaksi Ibu hanyalah,
"Iya. Kakak bener. Itu memang kesempatan yang ga semua orang punya. Tapi, cara pikir Kakak yang kayak gini juga bukan cara pikir yang semua orang punya."
*menghela nafas*

Memang sepertinya harus ada yang namanya revolusi mental itu..

Kalau menurut salah seorang guru gue mah,
"Di Jepang itu, jadwal pelajaran SD bisa tiap pekan ganti. Nanti akan ada saatnya anak-anak SD di Jepang itu belajarnya sambil nonton TV. Ada saluran TV khusus pendidikan di Jepang yang memang menayangkan tentang pendidikan. Coba kita lihat, Televisi Pendidikan Indonesia isinya apa? Dangdutan. Untung aja sekarang udah ganti nama."

Overall, selamat Hari Pendidikan Nasional :)
Ayo bersama-sama mengamalkan alinea keempat Pembukaan UUD 1945,
Mencerdaskan kehidupan bangsa
Karena sejatinya, kalau kata Pak Menteri Pendidikan RI, pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia.
:)

Sumber gambar :
http://sdislamwali9.blogspot.com/
https://www.pinterest.com/eandico/education/

Minggu, 26 April 2015

Galur Murni

Galur murni sebenarnya adalah istilah yang digunakan untuk menyebut keturunan dengan induk yang memiliki genotipe homozigot. Kalau di biologi SMP itu kita biasa mengerjakan contoh soal mengenai buncis hijau berbulir besar-besar yang disilangkan dengan buncis kuning berbiji kisut lalu dicari bagaimana perbandingan hasil generasi keduanya melalui Hukum Mendel.
#cmiiw

Kalau di Smansa, galur murni adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kondisi dimana (alumni) Smansa menikah dengan sesama (alumni) Smansa. Padahal kalau di wikipedia, disebutkan bahwa galur murni adalah istilah yang umum digunakan untuk tanaman. Apakah kini anak Smansa sudah pada memiliki dinding sel dan pindah kingdom jadi plantae? Entahlah..

Ketika masih SMA dahulu, gue mengakui bahwa gue menganggap aa-teteh yang galur murni itu keren. Kenapa topik galur murni ini bisa ngehitz banget ya? Heummmm, mungkin karena kultur Smansa yang gitu. Mungkin Smansaisme itu ada, berupa rasa sayang dan bangga yang berlebih terhadap Smansa. Tenang aja, gue juga terjangkit paham itu kok.

Gimana sih rasanya punya teman untuk mengarungi kehidupan dan menyempurnakan setengah agama yang sevisi dan sepandangan dalam menghadapi dan memaknai hidup? Nah mungkin itu alasannya mengapa galur murni selalu jadi berita yang ngehitz binggow.
*Lama ga ngeblog, gaya menulis menjadi alay*

Tidak memungkiri bahwa ketika SMA dulu gue juga pernah ingin galur murni suatu hari nanti. Tapi setelah lulus, setelah kuliah, setelah bertemu dengan lingkaran-lingkaran baru, setelah bertemu dengan banyak orang baru yang non-Smansa, ternyata orang keren di dunia ini ada banyak coy. Serius gue.

Bukan tidak mungkin aa-teteh yang galur murni memilih untuk menjadi galur murni karena memang tidak menemukan orang lain yang keren. Atau tidak merasa menemukan. Atau bisa jadi karena memang tidak berusaha menemukan. Bisa jadi karena menggunakan kaca mata kuda dan menganggap yang Smansa itu keren padahal ada banyak orang di luar Smansa yang juga keren.

Untuk yang masih mengharapkan galur murni lintas angkatan, padahal orang yang bersangkutan entahlah keadaan hatinya seperti apa, percayalah bahwa dunia tidak selesai jika tidak galur murni.
Huehehuehehe
*Orang yang bersangkutan pasti mengerti bahwa paragraf ini ditulis untuk dia*

Ngomong-ngomong tentang galur murni, beberapa waktu setelah beredar broadcast menikahnya Teh Arum dan Kang Fahmi di liburan kenaikan tingkat tahun lalu, ada seorang yang meng-sms gue dengan sapaan,
Dilayangpengengalurmurni
Hahahahahahasem
-___-"

Dibalik gue yang sudah tidak tertarik-tertarik amat dengan galur murni, sepertinya ada faktor lain yang menyebabkannya yakni lingkungan tempat di mana kita masuk. Kondisi gue yang dahulu memang dicemplungkan untuk ke kampus menjadikan gue bertemu dengan sangat banyak orang keren yang mampu membuat galur murni menjadi tidak lagi terasa terlalu menarik.

Inti besar dari tulisan tak jelas kali ini adalah,
Perbaiki niat. Jangan menutup mata (dan) hati. Jadilah orang baik, selalu memperbaiki diri, bergaullah dengan orang baik juga, Insya Allah referensi kita mengenai 'orang baik' akan menjadi baik. Juga jadilah orang keren, berusaha untuk menjadi keren di suatu bidang terlepas dari apapun definisi keren itu sendiri.

Kalau kata Kurniawan Gunadi mah (gue yakin redaksinya bukan begini tapi intinya kurang-lebih sama, toh mengutip kan tidak harus menjiplak persis kata-kata yang ada),
Orang-orang dengan tujuan yang sama memiliki probabilitas bertemu di perjalanan.

Kalau kata seorang adik gue di PSDM BEM KM mah,
Berterimakasihlah pada ia yang pernah kamu kagumi, karenanya kamu pernah berusaha memantaskan diri menjadi pribadi yang lebih baik.
.Silmi Nurul 'Adilah.

Salam piss, love, and gahul
Tertanda,
Mantan PGM (Pengharap Galur Murni)
:*

Minggu, 12 April 2015

Alasan Bertahan; Warasnya Orang-orang Tidak Waras

Warasnya Orang-orang Tidak Waras
"Kalau urusan pantas dan tidak pantas, itu urusannya dengan diri kita."
.H24110083.

"Jangan meletakkan kebahagiaan kita di bibir orang lain."
.F14110096.

"Kehilangan mengajarkan kita arti memiliki."
.F14110096.

"Pemimpin itu harus sempurna. Setidaknya, berpura-puralah agar terlihat sempurna."
.H24110083.

A44110016 dan F34110025 setelah bersama menertawakan hidup

A24120133, terima kasih :)

Ketika Sedang Setidak Waras Biasanya

Abang-abang jomblo tiap jam 11 siang hari Jumat

#karenakusayangkamu :*

Kalah main PES, kayang

H34110097 dan A44110016

Namanya Danies, boneka siamang, anak asuh dari I24120018 dan H24110083

Jual beras, H34110097 dan H24110083

Ke lahan penelitian bawa Sesmen, lantas selfie, A24110105 dan H44110015

Kelakuan para jomblo -_____-"

Apa ini maksudnya, apaaaa?

Ini kelakuan kalau sedang sehat. Ga usah tanya kenapa.

Korban bergelimpangan setelah 8 jam rapim

Dua hal lagi yang sedang booming,
Tokek dan charger

Untuk seluruh senyum dan tawa selama ini,
Baru gue sadari bahwa ternyata gue sudah punya alasan bertahan.
Geng rapim,
Terima kasih :)

"Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah dan kita benar. Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati."
.Tere Liye.
Ya tapi gue ga semudah itu juga sih untuk urusan memaafkan
:p

Senin, 06 April 2015

Could You Find Me?


BEM TPB Kabinet Madani 2011-2012
BEM Fateta Kabinet Benang Merah 2012-2013
BEM Fateta Keluarga Filantropi 2013-2014
BEM KM IPB Kabinet Rumah Kita 2014-2015

Kesimpulan:
Ayo, Dil.
Tinggalkan jejak.
Buruan lulus.