Rabu, 30 Oktober 2013

Smansa Itu..

Smansa itu terlampau indah sampai-sampai kita lupa kalau dunia yang sebenarnya tidak semudah itu untuk dihadapi, tidak semudah itu untuk kita bentuk sesuai dengan apa yang kita inginkan, tidak semudah itu kita jalani karena dinamikanya yang sangat banyak dan tak jarang menguras hati.
.Regia Purnama Shofriyah, Meriam Baja, Smansa '13.
(setelah brainstorming dengan Annisa Dwi Astuti, Rakit Bambu, Smansa '10)

Hari ini, setelah ngobrol-ngobrol panjang lebar dengan Mbak Mutia tentang Pandawa ketika les, setelah menemukan status galau Smansa di home karena ada adik kelas yang membaca arsip blog berlabel 'Smansa' milik kakak kelas, setelah euforia Mars Forkom, masih juga dihadapkan dengan update blog adik kelas lainnya yang gue copas di paragraf atas.

Oke, fiks
Kangen Smansa ini mah

Minggu, 20 Oktober 2013

Nabila Nur Afifa

Membaca post salah satu teman kampus tentang lagu Maliq & D'Essentials yang berjudul Pilihanku membuat gue jadi kangen Nabil (bukan Nabiela Rizki Alifa :p)

Hei, Bil, apa kabar? Gimana di Unpad?
Lagu itu adalah lagu yang membersamai ketidakberesan kita 4 tahun lalu. Mulai dari regen, LKBB, jalan-jalan, jalan kaki, regen lagi di tahun berikutnya, sekoteng, hingga pulang NF.

Diawali dari kisah antara Mbak Bisek Sang Kandidat 9 dengan salah seorang dari Akang Kembar menjadikan kita dicekoki lagu itu terus oleh beliau dan kita jadi ikut-ikutan terjangkit virus lagu itu.

Btw, banyak banget yang mau gue ceritain, Bil. Ari baru masuk kandang maung lho beberapa hari lalu. Tapi kalo kata Ari sih itu bukan kandang maung, itu mah kandang meong.

Jadi kisahnya gini, waktu itu kondisinya udah bubar kuliah dan lagi duduk-duduk gaje di kantin bareng anak-anak TIN. Hanif udah pake jaket dan bersiap mau pulang, gue sedang ngurus LPJ suatu kepanitiaan yang kebetulan gue jadi sekretarisnya, sedangkan Ari cuma duduk-duduk ga jelas doang. Lalu Hanif berpamitan mau cabut..
Hanif : Cabut yak semua, gue duluan :D
Ari : Yooo, ati-ati, Nip..
Melihat kegabutan Ari, Hanif pun ga bisa menahan untuk tak bertanya..
Hanif : Lu ngapain, Ri?
Ari : *nyengir geblek* Kata Kak Achor, dia mau ngobrol sama gue..
Kak Achor itu nama ketua Himalogin sekarang, Bil. Haha. Pasti lu udah bisa nebak gimana ekspresi muka gue dan Hanif saat itu.

Ya sudahlah, intinya seperti itu kisah Ari masuk kandang maung lagi setelah 4 tahun. Rasanya banyak yang mau gue ceritain kalo ketemu :)

Lu kapan ke Bogor lagi, Bil?
Bersama lu gue memahami arti dari konsep dilatasi waktu, haha, waktu rasanya selalu terlalu sebentar kalau kita sedang berdua..

Take care ya di Unpad :)
Semangat kuliah, semoga ilmunya berkah :)

Kamis, 17 Oktober 2013

(Tak Bosan-Bosannya) Penyangga Senja

Hanya ingin memberi tahu bagaimana penampakan cover buku senja yang tadi sempat sekilas diceritakan..



Dan dalam sekali pandang, hampir dapat dipastikan kamu mengerti betapa senangnya saya dengan buku ini :)

Rabu, 16 Oktober 2013

Celetukan Sepupu yang Mendadak Galau Ketika Sedang Memotong Daging Kurban

"Pasangan itu terdiri dari kata 'pas' dan 'angan'.."
.Puti Fauzia Faiza, J3B111011.

Rabu, 09 Oktober 2013

At The End

"..hati tak perlu memilih, hati tau di mana ia harus berlabuh.."
.Dewi Lestari.

"..Cari yg bisa lebih mendekatkanmu dengan mimpi-mimpimu dan mimpi-mimpinya sehingga memungkinkan untuk mencapai mimpi-mimpi bersama Dil. Segimanapun kamu seneng dengan perhatian si itu ke kamu, at the end, kamu sebenernya sadar ke mana hatimu berlabuh Dil.."
.G64110005.

Jumat, 20 September 2013

Berani

"Kalau ga berani menanyakan untuk memastikan, jangan juga berani untuk berasumsi dan menduga-duga sendiri"
.I34110099.

Kamis, 05 September 2013

Hal Baru yang Bersinggungan dengan Banyak Hal Lama

Ada sebuah pertanyaan yang sering gue temukan pada buku-buku pengembangan diri dan training-training motivasi yaitu,
Kapankah terakhir kali Anda melakukan suatu hal untuk pertama kalinya?

Dan dengan belernya gue akan berkata,
Kemarin
Haha

Sesuatu yang baru di kemarin ini dipicu pertama kali oleh celetukan Ayah-Ibu gue pada sebuah agenda rutin berupa malem mingguan sekeluarga,
"Kak, di taun-taun terakhir jadi tanggung jawab Ayah-Ibu, mau ngapain nih?"

Itulah yang menjadikan gue selama pulang-pergi pada SP kemaren celingukan sepanjang jalan rumah-kampus dengan tujuan mencari tempat kursus. Sengaja gue nyari yang ada di antara rute perjalanan rumah-kampus biar sekali tempuh pas ngejalaninnya juga.

Dengan gilanya, gue menemukan sebuah tempat kursus. Kursus ini sebenernya udah pengen gue kerjain sejak dari masih ikutan Elfas dulu, tapi apa daya pas SD gue udah kebanyakan kursus (ada Elfas, ada renang, belom lagi bimbel pas kelas 6), SMP gue udah ngerasa sibuk ngurusin WL, SMA juga gue sok sibuk ngurus Pandawa. Naaaaah, kuliah semester 5 ini sekarang rasanya rada longgar, meskipun mungkin itu hanya ilusi karena gue udah lulus sebuah mata kuliah pas SP kemaren, tapi tetep aja gue merasa longgar, haha.

Kursus fenomenal yang insya Allah akan gue jalani terhitung mulai dari kemarin adalah piano klasik.
*sound effect petir menyambar di siang hari bolong*

Shock?
Gapapa.. Berarti yang shock masih normal. Cuma belum tau aja sebenernya gue gimana :p

Ngakak?
Gapapa.. Berarti yang ngakak masih normal juga kok. Cuma belum tau aja sebenernya gue gimana :p

Haha, lu becanda ya Dil?
Kagak, ini gue seriusan kok.

Guru piano klasik gue namanya Mbak Mutia. Pada awalnya gue memanggil beliau "Mbak", tapi setelah ngobrol panjang-lebar ketika gue mendaftar, sepertinya gue akan mengubah panggilan gue menjadi "Teh" dalam waktu dekat.

Mbak Mutia ini kelahiran tahun 1980 deh kalo ga salah. Beliau udah jadi guru piano sejak kuliah *kece kaaaan?*. Beliau juga ngajar di Yamaha sejak 2002 (dengan sotoynya gue mengasumsikan 2002 adalah tahun ketika beliau lulus kuliah, tapi sepertinya emang bener). Beliau punya 2 anak. Anak pertamanya kelas 4, dan anak keduanya masih TK nol besar. Suami beliau adalah fotografer, and they both survive in this world by art. Kece banget kaaaaan? Sesungguhnya hidup dari seni termasuk ke dalam salah satu impian liar gue..

Beliau orang Bogor, dulu kuliah S1 di UI, Sastra Perancis. Pulang-pergi Depok-Bogor tiap hari karena kuliahnya paling sore cuma sampe jam 2 (soalnya selewat jam 2 ada kuliah untuk D3 Sastra Perancis, makanya beliau tiap hari selalu pulang maksimal jam 2) *kapan TIN kayak gitu?* *merenung di pojokan*.

Obrolan gue dan Mbak Mutia ketika gue mendaftar terus berlanjut, hingga pada..
Mbak Mutia : Dila asal Bogor?
Gue : Iya Mbak
Mbak Mutia : Dulu SMA mana?
Gue : Saya SMA 1, Mbak
Mbak Mutia : Oh iya? Saya juga SMA 1 lhoooo, lulus tahun 98
Okesip, dunia ini sempit
Gue : Wah? Iya, Mbak? Yaampun, Mbak, saya masuk SD aja baru tahun 99
Mbak Mutia : Ooooooh, kamu masih kecil banget itu berarti. Kamu ikut ekskul apa di Smansa dulu?
Gue : Saya ikut paskibra, Mbak, sama vocal group juga
Mbak Mutia : Waaaaaaaah, Pandawa? Saya juga Pandawa lhoooo. Saya juga beberapa kali main piano ngiringin Vogsa (dulu Vocsa namanya Vogsa, singkatan dari Vocal Group of Smansa).
Gue : *cangak*
Mbak Mutia : Saya angkatan 8 deh kalo ga salah. Pokoknya yang waktu itu juara 1 LKBB. Kamu angkatan berapa?
Gue : Saya angkatan 21 Mbak
Oke fiks, dunia sempit.

And then,
Mbak Mutia : Kamu tau band alumni Jelang UAN?
Gue : Iya, tau, Mbak. Masih manggung kok di Smansa Day 2013 kemarin.
Mbak Mutia : Adek saya yang main biolanya lhoooo
Oke fiks, dunia emang sempit.
Yasudahlah ya..

Kemarin, ketika gue pertama kali les, wuaduuuuuuuh, ternyata cukup banyak hal tentang not balok yang sudah volatil entah ke mana. Baca not sambil main do-re-mi-fa-sol aja antara lancar dan enggak. Dampak les nyanyi 5 tahun adalah gue lebih fasih membunyikan nada dengan mulut gue daripada dengan piano, haha. Berarti pe-er gue mulai kemarin adalah membuka kembali catatan ketika masih Elfas dulu, belajar kunci F+G, dan melancarkan cara gue baca not balok.
*catet Diiiil, kerjain, jangan jadi wacana doang*

Kemarin, baru mulai main 20 menit aja jari gue kram ringan. Heummmm, yaaa intinya mulai kemarin gue punya latihan sendiri untuk jari-jari gue.

Jauh di atas semuanya, semoga ilmu gue bermanfaat, semoga gue bisa memaksimalkan penggunaan otak kanan-kiri gue.

Meskipun baru mulai les beginian pas umurnya udah lewat 20 tahun, toh katanya (dan nyatanya) memang  ga pernah ada kata terlambat untuk hal-hal seperti belajar dan mencintai..
:)