Selasa, 21 Juni 2016

Pemahaman Hidup dari Teknik Optimasi

Beberapa hari lalu ada salah seorang praktikan gue mengepost di linimasa sebuah chat messenger miliknya,
10x10
Gue cukup yakin 10x10 itu adalah ukuran matriks yang harus dibuat untuk menyelesaikan soal UAS mata kuliah Teknik Optimasi karena dua tahun lalu gue menghadapi matriks 10x10 juga.

Cemangat eeaa qaqa!!

[Sumber gambar]

Berbicara mengenai Teknik Optimasi, ada sebuah pemahaman yang gue pelajari dari mata kuliah ini. Pemahaman ini juga sesuai untuk digunakan di dalam kehidupan nyata.

Secara umum, mata kuliah Teknik Optimasi ini -sesuai dengan judulnya- membicarakan mengenai bagaimana caranya kita mengoptimasi suatu proses produksi dengan segala constrain (hambatan) yang ada. Misal, bagaimana caranya memperoleh keuntungan sebanyak mungkin dari ketersediaan sumber daya (modal) yang terbatas, atau bagaimana caranya memperoleh suatu target keuntungan tertentu dari sumber daya yang seminimal mungkin. Selalu ada target dan hambatan ketika melakukan sesuatu. Hidup memang seperti itu, kan?

Mungkin selama ini, kita pernah beberapa kali mendengar teori mengenai mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal (sumber daya) sesedikit-sedikitnya. Sayangnya, menurut gue, teori itu nyaris tidak mungkin.

Di dalam Teknik Optimasi, gue belajar bahwa fungsi tujuan optimasi itu di mana-mana cuma ada satu, di dalam kehidupan nyata sekalipun seperti itu. Mungkin masih ada yang ga paham. Di sini akan sedikit gue uraikan beberapa contoh yang sempat gue tulis tadi.

Kasus 1
Memperoleh keuntungan sebanyak mungkin dari ketersediaan sumber daya yang terbatas
Di dalam kasus ini, kita memiliki constrain berupa sumber daya (modal) yang terbatas dan kita ingin mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin. Katakanlah kita punya industri kue yang memproduksi kue A dan kue B. Kue A harga jualnya lebih mahal daripada kue B. Kue A pakai telur 3 kali lebih banyak daripada kue B. Kue A pakai tepung 2 kali lebih banyak daripada kue B. Jika harga telur adalah sekian dan tepung adalah sekian, silakan tentukan jumlah produksi kue A dan kue B untuk mencapai keuntungan optimum.

Perhatian, soal di atas itu dibikin secara ngasal, ga usah coba-coba dikerjain.

Di sinilah peran dari ilmu optimasi dibutuhkan. Bagaimana caranya kita mengatur jumlah produksi kue A dan kue B, biar sumber daya (modal) ga kurang, tapi untungnya bisa sebanyak mungkin.

Kasus 2
Memperoleh suatu keuntungan tertentu dari sumber daya seminimal mungkin
Di dalam kasus ini, kita ingin memiliki tujuan berupa target keuntungan tertentu dan kita berupaya meminimumkan constrain sumber daya (modal) hingga seminimal mungkin agar target kita tercapai. Misal kasusnya masih industri kue A dan B. Untuk kasus ini agak sedikit berkebalikan. Kali ini kita sudah menentukan mau punya untung sekian untuk tiap kali produksi, tugas kita adalah menentukan jumlah produksi minimum (yang berimplikasi pada modal minimum) untuk mencapai keuntungan tersebut.

Di sini peran dari ilmu optimasi juga dipakai. Bagaimana caranya kita mengatur jumlah produksi kue A dan kue B, biar bisa mendapatkan keuntungan sejumlah sekian, tapi ongkos produksinya bisa sesedikit mungkin.

Kasus imajiner
Mencari keuntungan sebanyak mungkin dengan modal (sumber daya) sesedikit mungkin
Mengapa gue berkata bahwa kasus tersebut adalah imajiner? Karena di kasus itu fungsi tujuannya ada dua (untung banyak dan modal sedikit), pelakunya ga berkorban apa-apa, dan juga ga ada constrain apa-apa. Pada kenyataannya, hidup ga semudah gitu.

----------

Teknik Optimasi mengajarkan gue untuk mencapai sebuah fungsi tujuan dengan adanya constrain tertentu yang harus dihadapi. Adanya 'masalah' memang merupakan suatu indikator kehidupan, kalau ga mau punya masalah mah ya ga usah hidup.

Sesungguhnya, inti besar dari mata kuliah Teknik Optimasi ini adalah kita harus punya fungsi tujuan dalam hidup. Apa sih tujuan kita? Lalu yang selanjutnya harus kita lakukan adalah mengerahkan segala daya dan upaya secara optimal serta efisien, berkorban sana-sini secara optimal serta efisien, mengupayakan segala constrain, dan lain sebagainya secara optimal serta efisien agar fungsi tujuan itu tercapai.

Mengapa harus secara optimal serta efisien? Karena itu adalah tujuan dari Teknik Optimasi. Kalau ga mau optimal dan efisien mah kerjain aja segala sesuatunya tanpa perlu ada strategi dan perhitungan.

Bagaimana kalau kita punya beberapa keinginan dalam satu waktu. Percayalah, itu akan nyaris mustahil dilakukan semuanya. Ingat, fungsi tujuan hanya boleh ada satu.

Hidup sehari-hari di Jepang selama beberapa bulan ini membuat gue belajar Teknik Optimasi dalam bentuk yang lebih nyata dan aplikatif. Teknik Optimasi ini hampir selalu gue dapatkan ketika berniat pergi ke suatu tempat lalu browsing rute menggunakan gmaps *maaf bukan promosi*. Untuk negara yang perihal transportasi massal-nya sudah terkelola dengan baik, gmaps dapat memprediksi dengan luar biasa tepat mengenai waktu tempuh dan ongkos untuk pergi ke suatu lokasi, lengkap dengan berapa kali jumlah pindah kendaraan.

Tiap kali gue mau pergi, gue tinggal menentukan aspek apa yang ingin dioptimasi pada perjalanan kali ini?
Misal hari ini dompet sedang tipis karena uang beasiswa belum turun, ya carilah rute dengan ongkos termurah tapi jangan heran kalau harus pindah kereta/bis beberapa kali, sesekali harus berjalan kaki, serta waktu tempuh yang lebih lama (karena jalan atau pindah-pindah kereta/bis tersebut). Atau misal hari ini berangkat janjian hampir telat, ya carilah rute tercepat tapi jangan heran kalau harganya lebih mahal.

Mau mencari rute tercepat dan termurah?
Bikin aja perusahaan transportasi sendiri~
Itu juga kalau bisa lebih cepat dan murah, haha *ketawa jahat*.

Contoh kasus lain, teman sejurusan gue ada yang punya bisnis konveksi. Bisnisnya berkembang pesat 2-3 tahun terakhir. Suatu hari pas sedang mengerjakan mata kuliah Perancangan Pabrik, gue sempat bertanya secara personal tentang kabar bisnis dan akademis dia. Jawaban dia saat itulah yang seketika membuat gue sadar bahwa Teknik Optimasi ini dapat menyelesaikan lebih banyak pertanyaan dalam hidup, bukan terbatas pertanyaan ujian di atas kertas saja.
"Kan fungsi tujuan optimasi cuma ada satu ya, Dil? Nah, gue pilih kembangin konveksi gue. Nilai gue pada akhirnya ada yang berantakan, sempet juga ga bisa ngambil SKS full di suatu semester karena IP gue kurang. Tapi gue puas, soalnya fungsi optimasi gue terpenuhi. Nanti akademis yang kurang-kurangbisa gue cicil pelan-pelan. Toh batas lulus maksimal 12 semester kan?"
Di situ gue terdiam sambil bengong.
Takjub.

Bagi sebagian orang, mungkin lulus 12 semester bukan pilihan hidup yang ingin diambil. Tapi bagi teman gue ini, lulus 12 semester adalah constrain yang harus dihadapi demi pemenuhan fungsi optimasi agar usaha konveksinya berkembang dengan luar biasa.

Pilihan dalam hidup kadang bisa dihadapi dengan sesimpel itu. Sesimpel mata kuliah Teknik Optimasi. Ga usah berharap biar ga ada hambatan ketika kita melakukan sesuatu karena itu ga mungkin.
Cukup tentukan fungsi tujuannya,
dan upayakan seluruh hambatannya.
:)

Senin, 13 Juni 2016

#MatahariAkar [Persiapan Besar Sebelum Merantau di Luar Negeri]

Setelah delapan setengah bulan tinggal di negara orang lain, akhirnya gue menyimpulkan bahwa ada sebuah hal besar yang perlu dipersiapkan sebelum mencoba untuk merantau ke negara lain dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal itu adalah kesiapan mental.

Setelah gue kerucutkan, salah satu mental dasar dalam urusan rantau-merantau ini adalah aplikasi dari beberapa jenis pepatah,
"Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya"
"Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung"
Intinya sama, hormati dan patuhilah adat-istiadat serta kebiasaan setempat.

Judulnya juga merantau, ga perlu ditanya lagi bahwa tanah yang menjadi tujuan kita memiliki adat-istiadat dan kebiasaan yang berbeda dengan tanah yang biasa kita pijak. Jangankan jauh-jauh ke luar negeri, beberapa kota yang tetanggaan aja adat istiadatnya bisa beda, misal di Bogor mungkin ga akan ada yang menyebut bahwa liburan ke pantai itu mudah-murah-meriah secara Bogor ga punya pantai, beda dengan Sukabumi yang punya Pelabuhan Ratu.

Sebenarnya, ada kesimpulan yang lebih inti, yaitu..
Belajar bertanggung jawab.
Jalanilah segala konsekuensi dari pilihan yang diambil, dalam kasus ini adalah pilihan untuk hidup di luar negeri. Jangan cuma mau enaknya saja punya judul gelar akademis lulusan luar negeri, mencantumkan di CV bahwa pernah kuliah/kerja di luar negeri, tapi ga mau (mencoba) patuh dengan cara hidup di negeri yang bersangkutan. Itu namanya egois.

Selama hidup sehari-hari di Jepang dalam delapan setengah bulan ini, ada beberapa kasus yang benar-benar membuat gue gerah. Kasus-kasus nyata yang gue alami sendiri di sini. Kasus-kasus yang -di mata gue- pelakunya itu egois. 

Kasus 1
Sampah
Mungkin sudah pada paham teori mengenai urusan buang sampah di Jepang ini termasuk ribet. Sampah harus dipisah-pisah menjadi sampah burnable, unburnable, dan sampah berwujud agak besar seperti misal pecahan gelas atau payung. Di samping itu ada pula ketentuan untuk membuang karton tetrapack, kaleng, beling, dan botol minum kemasan PET. Ditambah jadwal buang sampah juga ada harinya dan tiap katagori sampah ada plastik khusus untuk membuang dengan warnanya tersendiri, jadi di hari tersebut kita diminta menaruh sampah yang bersangkutan (tentunya dengan plastik yang sesuai) di depan rumah sebelum jam  8 pagi agar dapat diambil oleh mobil sampah. Plastiknya sendiri harus beli, tapi harganya manusiawi kok.

Jadwal buang sampah, lengkap dengan warna plastik sampah yang semestinya

Di international house tempat gue tinggal ini ada bak sampah tertutup cukup besar di halaman depan sehingga banyak yang membuang sampah tidak pada waktunya karena toh dapat tertampung di bak sampah dan baunya ga ke mana-mana. But that's not the right one.

Hal yang mau gue kritisi sebenarnya bukan masalah jam buang sampah, melainkan apa yang sering gue temui ketika membuka bak sampah untuk buang sampah. Sangat sering gue menemui sampah yang dibuang bukan dalam plastik yang semestinya. Banyak yang buang sampah di dalam plastik-plastik  berbelanja di supermarket. Salah satu yang berkali-kali gue pergoki adalah dua orang dari negara yang sama di benua yang berawalan huruf A (nahloh bingung kan, hampir benua berawalan huruf A).

Di bawah ini bahkan keadaan di depan pintu kamar salah satu dari mereka, gue cukup yakin plastik itu berisi sampah, tapi itu bukan plastik sampah yang seharusnya.
Sampah dengan plastik yang tidak semestinya

Kalau di mata gue, itu namanya egois.

Kasus 2
Attitude
Jadi ceritanya tahun fiskal di Jepang itu dimulai dari bulan April. Itu awal musim semi, ada sakura mekar *terooooos?*. Tahun ajaran sekolah juga dimulai sejak April. Khusus untuk universitas, untuk menyesuaikan dengan banyak kampus di luar Jepang (dengan maraknya kesempatan berkuliah di luar negeri), akhirnya ada juga tahun ajaran yang start di bulan Oktober.

Gue tinggal di asrama dekat kampus. Dekat banget. Di Jepang ini juga ada keluarga besar Indonesia yang kuliah di wilayah sekitar tempat gue tinggal (bukan hanya di kampus gue ini saja) dan kami punya grup line yang tiap tahun dibikin baru (isinya adalah orang-orang yang ada di kampus pada tahun itu, jadinya gue ga se-grup bareng Si Teteh karena kita exchange di tahun yang berbeda, jadinya pula para veteran ga terganggu dengan obrolan kekinian tentang Jepang).

Pada akhir Maret lalu, banyak apato (apartment) atau -sebut saja- kostan yang sudah habis masa berlakunya karena penghuni yang bersangkutan sudah pindah atau lulus. Ada seorang mbak yang mengiklankan kostannya di grup. Salah satu hal yang gue garis bawahi dari pesan Si Mbak di grup adalah ibu kost-nya bilang bahwa berita ini boleh disebar ke mahasiswa asing tapi tolong jangan ke orang B*******sh dan P******n (dua buah negara di Asia Selatan).

Di situ gue langsung melongo, masih dengan posisi terakhir sambil liat grup dan pegang hape.
Gileh..
Kalau kelakuan kita aneh-aneh di negara orang bukan cuma nama kita aja yang jelek, tapi nama bangsa juga bisa rusak.

Mengapa gerangan sang ibu kos sampai melarang?
Jadi ceritanya penghuni sebelumnya yang dari negara tersebut itu kalau bayar air dan listrik suka nunggak, suka berisik dan pernah sampai diprotes tetangga, juga buang sampah seenaknya (plastik ga sesuai, sampah ga dipisah, waktu buang ga sesuai). Pantas aja ibu kosnya juga emosi.

Kalau di mata gue, itu namanya egois.

Kasus 3
Living cost
Urusan living cost juga kasus yang sering membuat gue nyengir sinis (yang kenal dan pernah liat muka jutek gue pasti kebayang lah ya bentuknya senyolot apa). Ini sebenarnya kasus yang lucu, sekaligus banget-banget egois.

Untuk kasus gue yang hidup di Tokyo, living cost di sini mahal. Banget. Tapi sebenarnya itu bukan masalah besar karena beasiswa yang gue dapatkan juga besar. Kalau kebetulan ga dapat beasiswa dan mencari kerja, Insya Allah juga mencukupi untuk hidup (asal ambil shift kerjanya yang rajin aja). Beasiswa gue sebulan di sini, gue yakini lebih besar daripada sebulan gaji freshgrad di perusahaan multinasional di Indonesia.

Lembaga pemberi beasiswa tentunya ga ngasal ketika menentukan nominal beasiswa. Jumlah beasiswa sebesar itu (berapapun itu yang didapat oleh para beaswan) pasti telah dikalkulasi dan disesuaikan dengan living cost di negara atau kota yang dituju (untuk kasus gue, Tokyo), apalagi di Jepang belum nemu tuh hal yang dikerjain secara ngasal sehingga gue percaya bahwa kalkulasi jumlah beasiswa segitu memang cukup untuk dipakai hidup di Tokyo.

Di program exchange ini, ada juga teman-teman yang berasal dari negara-negara yang living cost-nya ga sesadis Tokyo (termasuk Indonesia), dan di sini hal yang menyebalkan terjadi.

Hal yang sangat sering teman-teman gue lakukan adalah membandingkan harga antara di Tokyo dan di kampung halaman mereka. Entah pola pikir gue yang ngaco atau gimana, tapi gue nyaris tidak pernah melakukan hal itu. Alhamdulillah, uang beasiswa guepun aman-aman saja, ga pernah tuh sampai ngutang karena uang bulanan abis (palingan minjem karena lupa bawa dompet atau beli sesuatu berdua dan ditalangin dulu untuk sekalian mecahin uang), ga pernah juga tuh gue setiap hari sampai harus puasa atau makan telor doang di akhir bulan karena lupa diri dan boros di awal bulan.

Apa hasilnya ketika mereka membandingkan harga antara di Tokyo dengan harga di kampung halaman? Teman-teman gue itu banyak yang pada akhirnya udah melampaui fase hemat dan irit, itu bahkan beberapa kali sudah sampai pada fase menjadi cenderung pelit dan dzalim terhadap diri sendiri. Pada akhirnya malah mengabaikan kebutuhan-kebutuhan pokok diri sendiri karena ya itu tadi, harga di sini lebih mahal dibanding harga di kampung halaman.

Studi kasus nyata,
Selama winter kemarin, jangan tanya dinginnya kayak apa. Bagi gue yang makhluk tropis, pengalaman dingin saat itu benar-benar "..for the first time in forever.." *sambil nyanyi*. Tentunya mulai dijual juga segala perlengkapan winter mulai dari coat, sepatu/boots winter, sarung tangan tebal, dan lain sebagainya.

Sebutlah teman gue namanya Lili (bosen Mawar terus, haha) dia sudah dari jauh-jauh hari merasa kedinginan tapi tak kunjung beli sepatu winter. Mahal, katanya. Memang sih kalau diubah jadi kurs rupiah (berhubung kurs yang gue pahami cuma rupiah doang) jadi cukup mahal, sekitar 200-350 ribuan, dan sepatu itu akan cuma dipakai kurang dari 4 bulan. Alhasil doi tidak kunjung membeli sepatu winter.

Di mata gue, itu namanya egois.

Padahal sepatu winter itu (at least, bagi gue) benar-benar berguna kala winter. Dia memang didesain untuk hal itu, broh. Sol sepatu yang ga licin, cocok untuk dipakai berjalan di atas salju. Bahan di dalam sepatunya hangat, biasanya bulu-bulu atau kulit *maaf gue bukan promosi*. Gue sendiri punya boots winter dua pasang, yang satu bawa dari Indonesia karena pernah dibelikan Ibu ketika beliau berdinas ke negara yang pas-pasan sedang winter, yang satunya lagi warisan dari angkatan terdahulu. Sepatu boots winter yang dari Ibu itu bahannya kulit, sedangkan yang warisan itu di bagian dalamnya ada bulu-bulu.

Hingga pada suatu hari, beberapa hari setelah salju turun dengan sangat lebat, jalanan sempat terasa sangat licin. Pada siang hari salju meleleh karena suhu yang di atas 0 derajat Celcius, tapi pada malam harinya kembali membeku karena suhu yang di bawah 0 derajat Celcius. Begitu terus selama beberapa hari.

Di sinilah kasus Lili terjadi. Doi pakai sepatu biasa, bukan sepatu winter, ketika dunia sedang licin kayak gitu. Hingga pada akhirnya entah bagaimana caranya doi terpeleset ketika sedang berjalan kaki karena sepatunya licin. Lecet-lecet dan memar ringan, untungnya keadaan doi bisa dibilang baik-baik saja. Tapi hal yang mengenaskan adalah hapenya terlempar ketika doi kepeleset. Layar sentuhnya retak. Rusak. Ga bisa dipakai lagi.

Pesan moral yang sangat berharga bagi gue adalah,
Cerdas-cerdaslah menentukan prioritas.
Sama diri sendiri, jangan pelit-pelit amat lah~
Sok-sok ide hemat 2000-3000 yen, akhirnya malah harus keluar uang lebih dari sepuluh kali lipatnya untuk beli hape baru.

Epilog (I)
Sekian kisah gue kali ini, mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh, lokasi, atau kejadian, karena bisa jadi memang itu kisah mengenai anda. Terima kasih telah memberikan banyak pelajaran berharga untuk gue.

Epilog (II)
Sekali lagi,
Jangan cuma mau enaknya aja punya judul gelar akademis lulusan luar negeri atau mencantumkan di CV bahwa pernah kuliah/kerja di luar negeri, tapi ga mau (mencoba) patuh dengan cara hidup di negeri yang bersangkutan. Itu namanya egois.

Selamat hidup di luar negeri.
Selamat belajar bertanggung jawab.
Selamat belajar menganalisa tiap keputusan, lengkap dengan menghadapi segala konsekuensinya.
Selamat belajar untuk tidak egois.
:)

Rabu, 01 Juni 2016

Dandelion

Setiap dandelion menyenangi angin,
Setiap anginpun mungkin senang menghembus di sekitar dandelion.
Tiap kali angin berhembus, dandelion akan menari cantik mengikuti arah angin.

Di pinggir jalan ini ada banyak dandelion bersemi,
Mungkin karena musim semi,
Termasuk aku

Di kota ini pula ada banyak angin,
Mungkin pula karena musim semi,
Termasuk kamu

Tahukah,
Bagiku setiap angin memiliki ciri khas,
Kelembaban, kecepatan, arah datang.
Dengan cara yang sulit digambarkan,
Aku dapat mengidentifikasinya

Tahukah,
Aku tak sepolos yang kau kira,
Aku tahu kau sering berhembus di sekitar pinggir jalan ini
Aku tahu kau termasuk yang sangat sering mampir

Tahukah,
Aku selalu suka perhatianmu,
Hembusanmu,

Tapi,
Hembusanmu yang terlalu kuat dapat merusakku

Ah,
Maaf,
Bukan hanya kamu.
Tapi,
Semua yang berlebihan memang akan merusak.

Dapatkah kau berhembus dengan kadar yang cukup saja?
Dengan kadar yang cukup untuk membuatku tersenyum,
Tersenyum bahagia,
Tanpa perlu terluka

Dandelion

Selasa, 17 Mei 2016

#MatahariAkar [My Shalat, My Adventure]

I will use the word "saya" instead of "gue" in several posts because I want to be more serious with some other posts on my blog in future.
Enjoy it :D

Dari awal bulan Oktober 2015 hingga September 2016 nanti, saya berkesempatan untuk menjadi pelajar yang tertukar mengikuti program pertukaran pelajar di sebuah kampus di Negara yang menjadi tanah air bagi Naruto dan Doraemon. Menjadi muslim di Negara minoritas ternyata memang benar-benar membutuhkan perjuangan seperti kata Hanum Rais di dalam bukunya “99 Cahaya di Langit Eropa”. Salah satu quote yang diulang berkali-kali di dalam buku tersebut adalah mengenai “..menjadi agen muslim yang baik”.

Bagi saya sendiri, “menjadi agen muslim yang baik” memiliki dua arti. Yang pertama adalah “menjadi agen muslim – yang baik” dan yang kedua adalah “menjadi – agen muslim yang baik”. Keduanya sama-sama menjadi agen muslim dan keduanya sama-sama menjadi baik. Tetapi jika ingin digabungkan maka keduanya akan bermuara pada menjadi seorang muslim yang menjalankan agamanya dengan baik serta berkehidupan dengan baik yang sesuai dengan tata-krama setempat.

Kalau kata Sudjiwo Tedjo,
“Cinta itu ga butuh pengorbanan. Ketika kamu merasa berkorban, maka ketika itu pula cintamu dipertanyakan”.
Tsaaaaah~. 

Maka dari itu, hidup setahun menjadi minoritas muslim bagi saya bukan merupakan pengorbanan, melainkan tantangan. Tantangan mengenai mana yang lebih kamu cintai apakah Tuhanmu atau image-mu, sedangkan image sekalipun adalah titipan-Nya. Lagipula, tantangan selalu menawarkan petualangan yang menarik, bukan?

Kita semua tahu bahwa shalat adalah tiang agama. Ada 5 waktu shalat dalam sehari yang wajib kita laksanakan, belum jika ditambah dengan waktu-waktu sunnah. Tak perlu ditanya lagi jika urusan mendirikan shalat ini menuai sangat banyak cerita.

Saya bersyukur bahwa kampus tempat saya exchange ini merupakan kampus dengan peringkat ke-15 se-Jepang[1] sehingga banyak mahasiswa asing yang juga berkuliah di sini. Di samping itu, sudah sekitar 20 tahun program exchange saya ini berlangsung sehingga banyak Sensei dan pegawai di International Office sudah berpengalaman menghadapi mahasiswa asing, termasuk asing dalam berbudaya dan ‘asing’ dalam beragama.

Pihak International Office bahkan sudah banyak yang tahu bahwa muslim harus shalat sebanyak 5 kali sehari, yang mana waktu Dzuhur dan Ashar seringkali harus dihabiskan di lingkungan kampus. Oleh International Office, kami (saya dan teman-teman muslim lainnya) ditunjukkan beberapa tempat untuk shalat. Di gedung yang biasa saya gunakan untuk kuliah, terdapat dua lokasi shalat di dua lantai berbeda yang ukurannya cukup untuk berjamaah sebanyak 3 orang. Pembatas ruangan kecil inipun hanya partisi beroda setinggi sekitar dua meter yang dapat digeser-geser. Di gedung lain, ada tempat shalat yang cukup luas karena sebenarnya tempat itu adalah lantai teratas gedung dan ada sepojokan area yang tidak berfungsi. 

Sejauh ini, Alhamdulillah, untuk urusan tempat shalat, saya di kampus tidak bermasalah.

Tantangan dari shalat di kampus adalah urusan wudhu. Berhubung bukan Negara mayoritas muslim, hal ini mengakibatkan tidak adanya tempat wudhu seperti di masjid/mushala Indonesia pada umumnya. Satu-satunya lokasi paling memungkinkan untuk wudhu adalah washtafel toilet. Terkadang Saya dan teman-teman muslim berwudhu di samping gadis Jepang yang sedang berdandan cantik. Malu? Ga usah ditanya *ketawa sedih di pojokan*. Paling banter kami hanya akan nyengir-nyengir polos ketika diamati dari kepala sampai kaki oleh mereka.

Tantangan dalam wudhu ini juga banyak, salah satu yang terberat adalah urusan membasuh kaki. Di sinilah perkara untuk “menjadi agen muslim yang baik” berperan. Di Jepang, semua air keran dapat langsung diminum sehingga bukan tidak mungkin apabila di toilet menyaksikan seseorang menampung air keran dengan tangan lalu meminumnya. Sehingga jika mau dipikir secara logika serta secara urusan pantas-tak pantas, sangat tidak sopan rasanya jika kami menaikkan kaki ke washtafel untuk mencuci kaki (apalagi jika dilihat orang Jepang).

Sampai pada titik ini, satu hal lagi yang perlu dikuasai untuk menjadi agen muslim yang baik yaitu ilmu. Bukankah Allah telah berjanji bahwa orang berilmu akan ditinggikan beberapa derajat? Hal ini didukung pula dengan kata-kata bijak mengenai anjuran menuntut ilmu dari sejak buaian ibu hingga ke liang lahat. Di samping itu, tidakkah kita tergiur dengan iming-iming mengenai pahala yang tak terputus dari ilmu kita yang bermanfaat?

“Allahumma yassir, walaa tu’assir”, Ya Allah, permudahlah dan jangan Engkau persulit. Bukankah jika tidak ada air bahkan Allah telah mengizinkan untuk tayamum? Sehingga sebenarnya ada air tapi kondisinya agak ribet bukanlah suatu masalah besar. Hal yang paling mungkin dilakukan adalah membasuh kaki (di luar washtafel) sebanyak tiga kali dengan tangan yang sudah dibasahi.

Selesai? Not that easy, guys.
Efek domino berikutnya adalah lantainya becek sehingga mau-tak mau harus dilap dengan tissue. Kadang jika airnya bercipratan ke mana-mana, ya dilap lah, mau bagaimana lagi.

Mungkin salah satu solusi yang paling solutif adalah menjaga wudhu. Di Jepang, kontak fisik sangat jarang terjadi. Bahasa tubuh ketika menyapa seseorang biasanya dilakukan dengan cara membungkuk sehingga batal wudhu karena bersentuhan dengan lawan jenis dapat diminimalisir.

Selesai? Not that easy, guys.
Saya orangnya mudah kebelet *ketawa sedih di pojokan*.

Tantangan shalat yang sebenarnya adalah ketika sedang berjalan-jalan demi mencoba menjadi anak gaul Ibukota. Jika ingin menghitung jumlah masjid se-Tokyo menggunakan jari tangan ditambah jari kaki, mungkin masih akan ada beberapa jari yang menganggur. Sedangkan tiap waktu shalat ada periodenya tersendiri dan waktu dalam sepanjang siang akan dapat habis dengan mudahnya hanya untuk menemukan masjid saja.

Di sini perkara untuk “menjadi agen muslim yang baik” kembali berperan. Bagaimana caranya “menjadi – agen muslim yang baik” sekaligus “menjadi agen muslim – yang baik”. Bagaimana caranya kita shalat di tempat selain masjid (re: tempat umum) tanpa mengganggu kepentingan umum.

Di sini pula terdapat urgensi untuk menuntut ilmu. Pada awalnya sempat terlintas pertanyaan, bagaimana jika kita shalat di pinggiran taman yang (bukan tidak mungkin) pernah dilewati anjing yang dibawa pemiliknya untuk jalan-jalan sore, bukankah liurnya najis?

“Allahumma yassir, walaa tu’assir”, Ya Allah, permudahlah dan jangan Engkau persulit. Bukankah bahkan najis di liur anjing akan hilang setelah dicuci sebanyak tujuh kali dan salah satunya dengan tanah? Sehingga sebenarnya perkara mengenai misteri adanya liur anjing yang mengenai tanah untuk shalat dapat terselesaikan.

Selain pinggiran taman, lokasi lain yang pernah saya jadikan tempat shalat ada banyak. Lokasi tersebut di antaranya adalah di pinggiran landmark suatu wilayah, di pelataran mall, di pinggir laut, di tempat parkiran sepeda, di dekat tangga darurat, di pojokan museum, di peron kereta bawah tanah, di dalam fitting room di department store, sampai di bawah pohon sakura.

Taktik shalat saya dan teman-teman muslim lain di tempat umum juga ada banyak. Salah satu yang menjadi favorit adalah tidak shalat semuanya dalam satu waktu, melainkan ada yang menunggu dan berjaga, untuk antisipasi jika ditegur satpam atau pihak berwenang lainnya. Sejauh ini pernah beberapa kali ditegur orang, Alhamdulillah berhasil menejelaskan dengan singkat dan mudah dimengerti. Beberapa orang yang telah diberikan penjelasan terlihat antusias, meskipun sebenarnya saya ragu apakah mereka benar-benar antusias atau memang tata krama di sini yang selalu curious jika menemukan hal baru.

Di tanah airnya Naruto dan Doraemon ini saya merasa bahagia dengan diri saya sendiri karena dapat istiqamah untuk shalat di waktu yang tepat meskipun tempatnya terkadang ditepat-tepati agar terasa tepat. Sepulangnya ke tanah air, sepertinya saya akan memperkecil excuse untuk diri sendiri dalam urusan ketepatan waktu shalat. Kokohnya tiang bangunan Islam ini masih jauh lebih indah untuk ditawar dengan image duniawi.

This is my story. My shalat, my adventure.
How about you?


Selasa, 19 April 2016

#MatahariAkar [Partner in Crime]

Jadi ceritanya selama di Tokyo ini gue telah menemukan seoang partner in crime, namanya Mbak Indri. Nama lengkapnya adalah Indria Wahyu Mulsanti. Dunia memang sangat sempit, Mbak Indri ini adalah adik bungsunya Bu Rini (laboran TIN), yang membuat makin sempit yakni Bu Rini adalah teman kuliah om gue (yang hanya selisih umurnya setahun di bawah Ibu) dahulu.

Bersenang-senang (I use the word 'bersenang-senang' instead of  'menggila') bersama Mbak Indri ini seru. Hal paling serunya adalah kami sama-sama suka makan. Kalau sedang badmood, kami dikasih makan juga bisa langsung jadi 'bener' lagi. Di samping itu, rentang makanan pilihan yang acceptable di lidah kami juga juga lumayan banyak (tapi nato tidak termasuk) sehingga urusan makan jadi lebih simpel. We live in Japan now, so why we should hardly try to find Indonesian food here.

Please remind me, someday I want to make post(s) about "What should you prepare for going abroad". I'm so sorry for my belepotan grammar.

Mbak, if someday you find this post, I swear, aku ga nulis yang aneh-aneh tentang dirimu.
Hehehe

Mbak Indri sering bilang bahwa doi ga bisa masak. Sesungguhnya masakan Mbak Indri enak, tapi doi males masak kalau mood-nya sedang ga sesuai. Mbak Indri juga hanya masak untuk memenuhi kebutuhan perut sendiri dan lebih memilih untuk ga masak untuk orang lain (mungkin juga karena aspek selera tiap orang yang beda dll). Sama persis kayak gue.

Selama Fall Semester kemarin tiap doi uring-uringan maka ga lama setelahnya kami akan berpetualang, haha. Work hard, play harder, coy. Kayaknya di Spring Semester ini kalau gue udah mulai uring-uringan, mungkin ga lama setelahnya kami akan berpetualang juga, hahaha.

Bagi gue yang anak sulung, bertemu Mbak Indri adalah serasa bertemu kakak. Bagi Mbak Indri yang anak bungsu, mungkin bertemu gue jadi serasa bertemu adik.

Ngobrol dengan Mbak Indri juga seru. Doi pernah bilang suka dengan cara gue yang mencoba membaca komposisi makanan tiap kali mau beli sesuatu karena di sini kami menemukan orang-orang yang tiap kali belanja itu hobi banget bertanya mengenai makanan yang ada di keranjang belanjaan kami, "Emang itu bisa dimakan?". Gue tau itu maksud sebenarnya baik, dia memastikan apakah ini bisa dimakan atau enggak, mengandung bahan tertentu yang kira-kira ga boleh atau enggak, but trust me sometimes in many cases that's very annoying. Logika sederhananya adalah kami ga akan dengan sengaja memakan makanan yang kami tau itu ga boleh dimakan. That's it.

Kalau inti obrolan waktu itu bersama Mbak Indri adalah,
"Itulah alasan kenapa Allah nyuruh kita untuk belajar. Biar punya ilmu. Trus dipakai ilmunya."
Belajar baca hiragana/katakana/kanji lalu dipakai ilmunya untuk baca komposisi produknya. Yang versi lebih canggih adalah install Google Translate, trus foto bagian yang mau diketahui artinya, tadaaaaa, muncul terjemahannya.
"Kamu kan di TIN, nah, jadi udah belajar juga kan proses pembuatan ini-itu"
Sehingga dapat meganalisa mana yang sekiranya proses pembuatannya melewati titik kritis kehalalan tertentu atau tidak.

Obrolan tersebut bagi gue sampai saat ini adalah obrolan paling menenangkan untuk urusan makan.

Kami hobi jalan-jalan, mulai dari yang tujuannya adalah memang untuk berjalan ataupun ada tujuan lainnya yang agak sedikit lebih jelas semisal untuk makan atau cuci mata. Salah satu pengalaman pertama kami makan berdua adalah makan sushi di sushi bar dekat Koganei Kouen. Itu adalah kali pertama Mbak Indri makan sushi tanpa ada senpai Indonesia lain yang lebih jago sekaligus kali pertama gue makan sushi. Hasilnya? Kami norak banget di tempat sushi, pakai acara ga tau bagaimana cara mengambil sushi di belt conveyor *aduh maaf ya ini penulisnya adalah anak industri yang kadang sering ga tau istilah 'normal'nya namanya apa* yang memutari restoran.

Perjalanan berdua yang entah kesekian kalinya ini agak sedikit lebih cerdas. Kami makan sushi di sushi bar lain. Kali ini kami makan ketika jam orang makan malam, alhasil antre-nya cukup panjang. Dengan bahasa Jepang yang belepotan, gue tanya ke kasir bagaimana caranya kalau kami mau makan, lalu mbak cantik di kasir itu menunjuk sebuah touchscreen tanpa ngasih tau apa-apa lagi. Mau nyambit ga itu rasanyaaaaaa T_T

Layar itu menggunakan bahasa Jepang lalu kami membaca dengan terbata-bata, haha. Inti besar dari touchscreen itu adalah mengonfirmasi berapa orang yang mau makan dan mau makan di mana apakah di counter atau di meja. Makan di counter serasa di kartun-kartun Jepang banget gitu, sushi akan berjalan menggunakan belt conveyor di depan meja kita dan kita tinggal comot gitu aja. Tapi sejauh ini kami selalu memilih makan di meja karena bisa sambil ngobrol (kalau di meja, belt conveyor-nya ada di samping meja). Ukuran meja makannya juga besar, pernah kami menyaksikan se-geng enam orang makan di meja. Da kami mah makan cuma duaan. Haha..

Hampir di tiap piring terdapat dua sushi, akhirnya tiap pesan suatu menu kami hanya pesan satu aja lalu sushi-nya dimakan berdua. Urusan bayarpun jadi agak sedikit lebih simpel, tinggal dibagi dua. Ini adalah hasil karya kami makan sushi dengan sukses.
Enam belas piring
((ENAM BELAS))

Karena penasaran, di lain kesempatan kami juga sempat berkelana ke Shinjuku untuk mencari ramen halal. Kami pergi di penghujung winter-permulaan spring. Kami berangkat dengan jaket winter dan pulangnya melepas jaket karena kegerahan, haha.
Ramen!! Yuhuuuu~

Pernah juga kami berkelana ke Asakusa dan setelahnya beli meron pan (roti melon). Sesungguhnya meron pan ini bukan roti rasa melon, melainkan hanya bentuknya saja menyerupai setengah melon. Di pinggir kios meron pan itu ada replika kue yang bisa dijadikan properti foto.
Maafkan ekspresi kami yang memang seperti ini

Kisah meron pan juga ga beda jauh dengan kisah ramen Shinjuku. Ujung-ujungnya kami lepas jaket karena dunia sudah mulai panas. Ga lama setelah meron pan, kami masih aja nyari ramen halal juga di sekitar sana.
Ramen (again), tapi beda tempat

Hampir setiap bersenang-senang dengan Mbak Indri, gue mengabari orang rumah. Kalau sudah begini, Ibu akan jadi orang yang paling senang karena yakin anaknya akan makan dengan cukup di hari itu.

Masih ada 6 bulan lagi sebelum gue pulang. Masih banyak juga wilayah yang menunggu untuk kami jelajahi. Semoga sepulangnya gue nanti Mbak Indri dapat menemukan orang lain yang bisa diajak untuk bersenang-senang lagi biar hidup jadi lebih berwarna.
Aamiin :)

Rabu, 13 April 2016

#MatahariAkar [Snow in Tokyo (dan Sekitarnya)]

Berhubung gue adalah makhluk tropis, jadi ketika pertama kalinya melihat salju itu rasanya bahagia luar biasa.

Salju pertama turun di akhir Januari. Salju turun dengan sangat lebat dari tengah malam hingga pagi hari sehingga ketika pagi gue (dan teman-teman yang makhluk tropis lainnya) dapat bermain-main. Kuliah diliburkan karena salju yang sangat tebal (jalanan sulit dilewati sampai bahkan kereta sulit beroperasi) sehingga mainnya jadi semakin puas.
Hehehe

Pemandangan dari balkon belakang kamar
Tiga Diva STEP
Ulalaaa~
Yaa Allah, dingin, lupa bawa sarng tangan T_T *padahal mah emang gaya aja*
Jejak Sepatu *serius udah di-rotate tapi ga bisa*
Filantropi
Rumah Kita

Beberapa hari kemudian ketika salju sudah mulai mencair,
Ngadagoan saha, Neng?

Sebenarnya ada beberapa kali turun salju lagi di Tokyo sih tapi cuma secuil-cuil gitu dan di jam yang agak kurang manusiawi, misal jam 2 pagi, sehingga jadi sulit dinikmati. Kebanyakan dari saljunya sudah meleleh ketika bangun tidur dan hanya menyisakan aspal yang basah saja.

Di tengah musim berjudul 'Winter' ini ada seorang praktikan gue yang berlibur ke Jepang (gue juga ga paham dan takjub karena dia berlibur sendirian ke Jepang). Praktikan gue ini merupakan praktikan di mata kuliah Peralatan Industri Pertanian. Dia aslinya anak Fisika, seangkatan gue. Entah mengapa doi emang hobi ngambil SC TIN. Sampai ASPK aja diambil masa, huft~ agak ga paham kalau yang itu.

Praktikan gue itu ceritanya pengen banget main snowboard akhirnya dia memesan paket snowboard/ski di travel agent di Bogor. Akan tetapi jumlah pemesanan minmal adalah dua orang, akhirnya dia mengajak gue ikut serta. Bayarnya mah tetep aja sendiri-sendiri.
T_T

Bagi gue, paket ski itu membuat gue menang banyak, haha. Dengan biaya sebesar *tuuuuut* *sensor* gue dapat JR Tokyo Wide Pass selama 3 hari dan naik Shinkansen pulang-pergi ke tempat ski/snowboard dari stasiun Tokyo (pulangnya ke Ueno tapinya).

Berhubung praktikan gue itu anak Fisika, selama perjalanan ke arah tempat ski naik Shinkansen itu gue mendapat kuliah singkat mengenai magnetic levitation. Itu prinsip kerja Shinkansen. Mantep bro~

#shombong
Praktikan berbakti, untung udah ga bisa dikasih nilai plus. Btw ini foto ketika ke gunung.
Gaya aja doloooo~

Note:
Foto setelah ski tidak diperkenankan untuk diambil karena tampilannya mengenaskan setelah jatuh berpuluh kali. Selain ke tempat ski, gue dan praktikan juga sempat main ke gunung, nama gunungnya Takao. Foto berdua tadi itu adalah foto naik gunung, haha. Untuk naik gunung ada beberapa opsi seperti jalan kaki, naik chair lift (semacam gondola yang gue naikin itu), atau kereta gantung yang tertutup.

Actually, this post is already late for almost 2 months. But it's okay *muka santai* *sekarepmu, dil*.

I don't know why, but 6 months living a life in not-your-motherland sometimes made me more likely to use English rather than Indonesian. I'm sorry for my 'belepotan' grammar.

Over all,
Alhamdulillahirabbil'aalamiin

Bonus foto
Iklan pasta gigi di gunung, as always


Senyam-senyum bahagia, ga tau aja abis itu bakal jatuh bertubi-tubi

Jumat, 01 April 2016

Sakura

Selalu percaya bahwa,
Sebaik-baik kamera adalah mata, dan
Sebaik-baik perekam adalah hati.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Sakura

"Sakuranya cantik lhooo!!". Alhamdulillah.
"Cantikan juga kamu."
Deg. "Segala puji bagi Allah."
"Alhamdulillah"
:)
..


Ada pipi yang menghangat,
Ada senyum yang terkembang,
Ada hati yang berdesir,
Ada rasa yang sepertinya tak perlu dipastikan.